Saturday, October 24, 2009

Kumpulan Dongeng: Cindelaras


Raden Putra adalah raja Kerajaan Jenggala. Ia didampingi seorang permaisuri yang baik
hati dan seorang selir yang cantik jelita. Tetapi, selir Raja Raden Putra memiliki sifat iri
dan dengki terhadap sang permaisuri. Ia merencanakan suatu yang buruk kepada
permaisuri. "Seharusnya, akulah yang menjadi permaisuri. Aku harus mencari akal untuk
menyingkirkan permaisuri," pikirnya.
Selir baginda, berkomplot dengan seorang tabib istana. Ia berpura-pura sakit parah.
Tabib istana segera dipanggil. Sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah
menaruh racun dalam minuman tuan putri. "Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda
sendiri," kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia
segera memerintahkan patihnya untuk membuang permaisuri ke hutan.
Sang patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke hutan belantara.
Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuhnya. Rupanya sang patih
sudah mengetahui niat jahat selir baginda. "Tuan putri
tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada
Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh," kata patih.
Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya
dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja mengangguk
puas ketika sang patih melapor


kalau ia sudah membunuh
permaisuri.
Setelah beberapa bulan berada di hutan, lahirlah anak sang
permaisuri. Bayi itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras
tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan.
Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni
hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor
rajawali menjatuhkan sebutir telur. "Hmm, rajawali itu baik
sekali. Ia sengaja memberikan telur itu
kepadaku." Setelah 3 minggu, telur itu menetas. Cindelaras
memelihara anak ayamnya dengan rajin. Anak ayam itu
tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang bagus dan kuat.
Tapi ada satu keanehan. Bunyi kokok ayam jantan itu
sungguh menakjubkan! "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras,
rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya
Raden Putra..."
Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya dan segera memperlihatkan pada
ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di
hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan
membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke
istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang
sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. "Ayo,
kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku," tantangnya. "Baiklah," jawab
Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan
dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam
Cindelaras tidak terkalahkan. Ayamnya benar-benar tangguh.
Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat. Raden Putra pun
mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang
Cindelaras. "Hamba menghadap paduka," kata Cindelaras dengan santun. "Anak ini tampan
dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata," pikir baginda. Ayam Cindelaras
diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia
bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan
Raden Putra menjadi milik Cindelaras.
Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam
Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengeluelukan
Cindelaras dan ayamnya. "Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku.
Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?" Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras
segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama
ayamnya segera berbunyi. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba,
atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...," ayam jantan itu berkokok berulang-ulang.
Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. "Benarkah itu?" Tanya
baginda keheranan. "Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri
Baginda."
Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa
yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. "Aku telah melakukan kesalahan," kata
Baginda Raden Putra. "Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku," lanjut
Baginda dengan murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang
ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan
meminta maaf atas kesalahannya. Setelah itu, Raden Putra
dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.
Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat
berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia,
Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia
memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.

Tiga Sekawan

Dahulu kala, hiduplah seekor Ibu Babi dengan 3 orang
anaknya. Anak yang sulung sangat malas dan mengabaikan
pekerjaannya. Anak yang tengah sangat rakus, tidak mau
bekerja dan kerjanya hanya makan. Anak bungsunya tidak
seperti kakaknya, ia anak yang rajin bekerja. Suatu saat
Ibu Babi berkata kepada anak-anaknya, "Karena kalian
sudah dewasa, kalian harus
hidup mandiri dan buatlah rumah masing-masing". Si bungsu berpikir rumah seperti apa
yang akan didirikannya.
Si sulung tanpa mau bersusah payah membuat rumahnya
dari jerami. Si bungsu berkata, "Kalau rumah jerami nanti
akan hancur bila ada angin atau hujan". "Oh iya ya! Kalau
begitu aku akan membuat rumah dari kayu saja, supaya
kuat jika ada angin", kata si tengah. Setelah selesai si
bungsu kembali berkata, "kalau rumah kayu walau tahan
angin tetapi akan hancur jika dipukul". Si kakak menjadi marah,
"Kau sendiri lambat membuat rumah dari batu batamu itu, jika hari telah sore serigala
akan datang."
Si bungsu bertekad akan membuat rumah dari batu-bata yang kuat yang tidak goyah
dengan angin atau serangan serigala. Malampun tiba, pada saat bulan purnama, si bungsu
telah selesai. Esok harinya, si bungsu mengundang kedua kakaknya, lalu mereka pergi ke
rumah ibu Babi. "Hebat anak-anakku, mulai sekarang kalian hidup dengan mengolah ladang
sendiri", ujar Ibu Babi. Kedua kakak si bungsu menggerutu. "Tidak ah, cape!," gerutu
mereka. Menjelang senja telah tiba, mereka pamit kepada Ibu mereka. Dalam perjalanan,
tiba-tiba seekor serigala membuntuti mereka. "Aku akan memakan babi malas yang tinggal
di rumah jerami itu", kata serigala. Ketika sampai di depan pintu si sulung ia langsung
menendang pintu. "Buka pintu!" teriaknya. Si sulung terkejut dan cepat-cepat mengunci
pintu. Tetapi serigala lebih cerdik. Ia langsung meniup rumah jerami itu sehingga menjadi
hancur.
Si sulung lari ketakutan ke rumah adiknya si Tengah yang terbuat dari kayu. Walaupun
pintu telah dikunci, serigala langsung mendobrak rumah kayu itu hingga hancur. Serigala
mendekat ke arah kedua anak babi yang sedang berpelukan karena ketakutan. Keduanya
langsung lari dengan sekuat tenaga menuju rumah si bungsu. "Cepat kunci pintunya!, nanti
kita dimakan", kata si sulung. Si bungsu dengan tenang
mengunci pintu. "Tak usah khawatir, rumahku tidak akan
goyah", kata si bungsu sambil tertawa. Ketika serigal
sampai, ia langsung menendang, mendobrak berkali-kali
tetapi malah si serigala yang badannya kesakitan. Serigala
akhirnya menyerah dan kemudian langsung pulang. Sejak
saat itu, ketiga anak babi ini hidup bersama, dan sang
serigala tidak pernah datang lagi.
Suatu hari, ketiga anak babi pergi ke bukit untuk memetik apel. Tiba-tiba Serigala itu
muncul disana. Anak-anak babi langsung naik ke pohon menyelamatkan diri. Serigala yang
tidak dapat memanjat pohon menunggu di bawah pohon tersebut. Si bungsu berpikir, lalu
ia berteriak, "Serigala, kaupasti lapar. Apakah kau mau apel?", si bungsu segera melempar
sebuah apel. Serigala yang sudah kelaparan langsung mengejar apel yang menggelinding.
"Sekarang ayo kita lari!". Akhirnya mereka semua selamat.
Beberapa hari kemudian, si serigala datang ke rumah si bungsu dengan membawa tangga
yang panjang. Serigala memanjat ke cerobong asap. Si bungsu yang melihat hal itu
berteriak, "Cepat nyalakan api di tungku pemanas!". Si sulung menyalakan api, si
bungsu membawa kuali yang berisi air panas. Serigala
yang ada di cerobong asap, pantatnya kepanasan tak
tertahankan. Malang bagi si serigala, ketika ia ingin
melarikan diri, ia terpeleset dan jatuh tepat ke dalam air
yang mendidih. "Waa!", serigala cepat-cepat lari. Karena
seluruh badannya luka, maka ia menjadi serigala yang
telanjang.
Sejak saat itu, ketiga anak-anak babi menjalani hidup dengan
baik, dengan mengelola lading-ladang mereka. Si sulung dan si
tengah sekarang menjadi rajin bekerja seperti si bungsu. Ibu
babi merasa bahagia melihat anak-anaknya hidup dengan rukun
dan damai.
HIKMAH :
Jika kita bersatu, maka kita akan terhindar dari perpecahan.

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Baca pula dongeng berikut ini:



Widget by Matahati | Jack Book

No comments:

Post a Comment

Silakan Berkomenter sesuai cerita/dongeng yang Anda baca agar kami bisa terus memperbaiki isi dan kualitas tulisan. Terimmma Kasssih.

Post a Comment