Showing posts with label saudagar jerami. Show all posts
Showing posts with label saudagar jerami. Show all posts

Monday, November 9, 2009

Cerita rakyat: Hang Tuah

Alkisah, Di pantai barat Semenanjung Melayu, terdapat
sebuah kerajaan bernama Negeri Bintan. Waktu itu ada
seorang anak lakik-laki bernama Hang Tuah. Ia seorang
anak yang rajin dan pemberani serta sering membantu
orangtuanya mencari kayu di hutan. Hang Tuah mempunyai
empat orang kawan, yaitu Hang Jebat, Hang Lekir, Hang
Lekiu dan Hang Kesturi. Ketika
menginjak remaja, mereka bermain bersama ke laut. Mereka ingin menjadi pelaut yang
ulung dan bisa membawa kapal ke negeri-negeri yang jauh.
Suatu hari, mereka naik perahu sampai ke tengah
laut. Hei lihat, ada tiga buah kapal! seru Hang Tuah
kepada teman-temannya. Ketiga kapal itu masih
berada di kejauhan, sehingga mereka belum melihat
jelas tanda-tandanya. Ketiga kapal itu semakin
mendekat. Lihat bendera itu! Bendera kapal
perompak! Kita lawan mereka sampai titik darah
penghabisan! teriak Hang Kesturi. Kapal perompak
semakin mendekati perahu Hang Tuah dan temantemannya.
Ayo kita
cari pulau untuk mendarat. Di daratan kita lebih leluasa bertempur! kata Hang Tuah
mengatur siasat. Sesampainya di darat Hang Tuah mengatur siasat. Pertempuran antara
Hang Tuah dan teman-temannya melawan perompak berlangsung sengit. Hang Tuah
menyerang kepala perompak yang berbadan tinggi besar dengan keris pusakanya. Hai anak
kecil, menyerahlah. Ayo letakkan pisau dapurmu! Mendengar kata-kata tersebut Hang
Tuah sangat tersinggung. Lalu ia melompat dengan gesit dan menikam sang kepala
perompak. Kepala perompak pun langsung tewas. Dalam waktu singkat Hang Tuah dan
teman-temannya berhasil

melumpuhkan kawanan perompak. Mereka berhasil menawan 5
orang perompak. Beberapa perompak berhasil meloloskan diri dengan kapalnya.
Kemudian Hang Tuah dan teman-temannya menghadap
Sultan Bintan sambil membawa tawanan mereka. Karena
keberanian dan kemampuannya, Hang Tuah dan temantemannya
diberi pangkat dalam laskar kerajaan. Beberapa
tahun kemudian, Hang Tuah diangkat menjadi pimpinan
armada laut. Sejak menjadi pimpinan armada laut, negeri
Bintan menjadi kokoh dan makmur. Tidak ada negeri yang
berani menyerang negeri Bintan.
Beberapa waktu kemudian, Sultan Bintan ingin mempersunting puteri Majapahit di Pulau
Jawa. Aku ingin disiapkan armada untuk perjalanan ke Majapahit, kata Sultan kepada
Hang Tuah. Hang Tuah segera membentuk sebuah armada tangguh. Setelah semuanya
siap, Sultan dan rombongannya segera naik ke kapal menuju ke kota Tuban yang dahulunya
merupakan pelabuhan utama milik Majapahit. Perjalanan tidak menemui hambatan sama
sekali. Pesta perkawinan Sultan berlangsung dengan meriah dan aman.
Setelah selesai perhelatan perkawinan, Sultan Bintan dan permaisurinya kembali ke
Malaka. Hang Tuah diangkat menjadi Laksamana. Ia memimpin armada seluruh kerajaan.
Tetapi hal ini tidak berlangsung lama karena para perwira istana menjadi iri hati. Para
perwira istana menghasut Sultan. Mereka mengatakan bahwa Hang Tuah hanya bisa
berfoya-foya, bergelimang dalam kemewahan dan menghamburkan uang negara. Akhirnya
Sultan termakan hasutan mereka. Hang Tuah dan Hang Jebat di berhentikan. Bahkan
para perwira istana mengadu domba Hang Tuah dan Hang Jebat. Mereka menuduh Hang
Jebat akan memberontak. Hang Tuah terkejut mendengar berita tersebut. Ia lalu
mendatangi Hang Jebat dan mencoba menasehatinya. Tetapi rupanya siasat adu domba
oleh para perwira kerajaan berhasil. Hang Jebat dan Hang Tuah bertengkar dan akhirnya
berkelahi. Naas bagi Hang Jebat. Ia tewas ditangan Hang Tuah. Hang Tuah sangat
menyesal. Tapi bagi Sultan, Hang Tuah dianggap pahlawan karena berhasil membunuh
seorang pemberontak. Kau kuangkat kembali menjadi laksamana, kata Sultan pada Hang
Tuah. Sejak saat itu Hang Tuah kembali memimpin armada laut kerajaan.
Suatu hari, Hang Tuah mendapatkan tugas ke negeri India untuk membangun
persahabatan antara Negeri Bintan dan India. Hang Tuah di uji kesaktiannya oleh Raja
India untuk menaklukkan kuda liar. Ujian itu berhasil dilalui Hang Tuah. Raja India dan
para perwiranya sangat kagum. Setelah pulang dari India, Hang Tuah menerima tugas ke
Cina. Kaisarnya bernama Khan. Dalam kerajaan itu tak seorang pun boleh memandang
langsung muka sang kaisar.
Ketika di jamu makan malam oleh Kaisar, Hang Tuah minta
disediakan sayur kangkung. Ia duduk di depan Kaisar
Khan. Pada waktu makan, Hang Tuah mendongak untuk
memasukkan sayur kangkung ke mulutnya. Dengan
demikian ia dapat melihat wajah kaisar. Para perwira
kaisar marah dan hendak menangkap Hang Tuah, namun
Kiasar Khan mencegahnya karena ia sangat kagum dengan
kecerdikan Hang Tuah.
Beberapa tugas kenegaraan lainnya berhasil dilaksanakan
dengan baik oleh Hang Tuah. Hingga pada suatu saat ia
mendapat tugas menghadang armada dari barat yang
dipimpin seorang admiral yang bernama D Almeida.
Armada ini sangat kuat. Hang Tuah dan pasukannya
segera menghadang. Pertempuran sengit segera terjadi.
Saat itulah Hang Tuah gugur membela tanah airnya. Ia
tewas tertembus peluru sang admiral.
Sejak saat itu, nama Hang Tuah menjadi terkenal sebagai pelaut ulung, laksamana yang
gagah berani dan menjadi pahlawan di Indonesia dan di Malaysia. Sebagai bentuk
penghormatan, salah satu dari kapal perang Indonesia diberi nama KRI Hang Tuah.
Semoga nama itu membawa "tuah" yang artinya adalah berkah.
HIKMAH :
Semua warga negara Indonesia boleh mencontoh jiwa dan semangat kepahlawanan
Hang Tuah yang gagah berani, tangkas, cerdik dan pantang menyerah.

Asal Usul danau Toba

Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia seorang petani yang rajin
bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa mencukupi kebutuhannya dari
hasil kerjanya yang tidak kenal lelah. Sebenarnya usianya sudah cukup untuk menikah,
tetapi ia tetap memilih hidup sendirian.
Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di
sungai. "Mudah-mudahan hari ini aku mendapat ikan yang
besar," gumam petani tersebut dalam hati. Beberapa saat
setelah kailnya dilemparkan, kailnya terlihat bergoyanggoyang.
Ia segera menarik kailnya. Petani itu bersorak
kegirangan setelah mendapat seekor ikan cukup besar.
Ia takjub melihat warna sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu
berwarna kuning emas kemerah-merahan. Kedua matanya
bulat dan menonjol memancarkan kilatan yang
menakjubkan. "Tunggu, aku jangan dimakan! Aku akan
bersedia menemanimu jika kau tidak jadi memakanku."
Petani tersebut terkejut mendengar suara dari ikan itu.
Karena keterkejutannya, ikan yang ditangkapnya terjatuh
ke tanah. Kemudian tidak berapa lama, ikan itu berubah
wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita. "Bermimpikah aku?," gumam petani.
"Jangan takut pak, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu
karena telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata," kata gadis itu.
"Namaku Puteri, aku tidak keberatan untuk menjadi
istrimu," kata gadis itu seolah mendesak. Petani itupun
mengangguk. Maka jadilah mereka sebagai suami istri.
Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka
tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari
seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi
petaka dahsyat.
Setelah sampai di desanya, gemparlah penduduk desa melihat gadis cantik jelita bersama
petani tersebut. "Dia mungkin bidadari yang turun dari langit," gumam mereka. Petani
merasa sangat bahagia dan tenteram. Sebagai suami yang baik, ia terus bekerja untuk
mencari nafkah dengan mengolah sawah dan ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena
ketekunan dan keuletannya, petani itu hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya. Banyak
orang iri, dan mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan
usaha petani. "Aku tahu Petani itu pasti memelihara makhluk halus!" kata seseorang
kepada temannya. Hal itu sampai ke telinga Petani dan Puteri. Namun mereka tidak
merasa tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja.
Setahun kemudian, kebahagiaan Petan dan istri bertambah, karena istri Petani
melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Putera. Kebahagiaan mereka tidak
membuat mereka lupa diri. Putera tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan kuat. Ia
menjadi anak manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran
kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar. Makanan yang seharusnya dimakan bertiga
dapat dimakannya sendiri.
Lama kelamaan, Putera selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu
pekerjaan orang tua, ia selalu menolak. Istri Petani selalu mengingatkan Petani agar
bersabar atas ulah anak mereka. "Ya, aku akan bersabar, walau bagaimanapun dia itu anak
kita!" kata Petani kepada istrinya. "Syukurlah, kanda berpikiran seperti itu. Kanda
memang seorang suami dan ayah yang baik," puji Puteri kepada suaminya.
Memang kata orang, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini dialami oleh Petani itu.
Pada suatu hari, Putera mendapat tugas mengantarkan
makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang
bekerja. Tetapi Putera tidak memenuhi tugasnya. Petani
menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan
lapar. Ia langsung pulang ke rumah. Di lihatnya Putera
sedang bermain bola. Petani menjadi marah sambil
menjewer kuping anaknya. "Anak tidak tau diuntung ! Tak
tahu diri ! Dasar anak ikan !," umpat si Petani tanpa sadar
telah mengucapkan kata pantangan itu.
Setelah petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya hilang
lenyap. Tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah
air yang sangat deras dan semakin deras. Desa Petani dan desa
sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas
sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk
sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau
Toba. Sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama
Pulau Samosir.
HIKMAH :
Jadilah seorang yang sabar dan bisa mengendalikan emosi. Dan juga, jangan
melanggar janji yang telah kita buat atau ucapkan.

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Cerita rakyat: Asal usul danau Toba

Di sebuah desa di wilayah Sumatera, hidup seorang petani. Ia seorang petani yang rajin
bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa mencukupi kebutuhannya dari
hasil kerjanya yang tidak kenal lelah. Sebenarnya usianya sudah cukup untuk menikah,
tetapi ia tetap memilih hidup sendirian.
Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di
sungai. "Mudah-mudahan hari ini aku mendapat ikan yang
besar," gumam petani tersebut dalam hati. Beberapa saat
setelah kailnya dilemparkan, kailnya terlihat bergoyanggoyang.
Ia segera menarik kailnya. Petani itu bersorak
kegirangan setelah mendapat seekor ikan cukup besar.
Ia takjub melihat warna sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu
berwarna kuning emas kemerah-merahan. Kedua matanya
bulat dan menonjol memancarkan kilatan yang
menakjubkan. "Tunggu, aku jangan dimakan! Aku akan
bersedia menemanimu jika kau tidak jadi memakanku."
Petani tersebut terkejut mendengar suara dari ikan itu.
Karena keterkejutannya, ikan yang ditangkapnya terjatuh
ke tanah. Kemudian tidak berapa lama, ikan itu berubah
wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita. "Bermimpikah aku?," gumam petani.
"Jangan takut pak, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu
karena telah menyelamatkanku dari kutukan Dewata," kata gadis itu.
"Namaku Puteri, aku tidak keberatan untuk menjadi
istrimu," kata gadis itu seolah mendesak. Petani itupun
mengangguk. Maka jadilah mereka sebagai suami istri.
Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka
tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul Puteri dari
seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi
petaka dahsyat.
Setelah sampai di desanya, gemparlah penduduk desa melihat
gadis cantik jelita bersama
petani tersebut. "Dia mungkin bidadari yang turun dari langit," gumam mereka. Petani
merasa sangat bahagia dan tenteram. Sebagai suami yang baik, ia terus bekerja untuk
mencari nafkah dengan mengolah sawah dan ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena
ketekunan dan keuletannya, petani itu hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya. Banyak
orang iri, dan mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan
usaha petani. "Aku tahu Petani itu pasti memelihara makhluk halus!" kata seseorang
kepada temannya. Hal itu sampai ke telinga Petani dan Puteri. Namun mereka tidak
merasa tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja.
Setahun kemudian, kebahagiaan Petan dan istri bertambah, karena istri Petani
melahirkan seorang bayi laki-laki. Ia diberi nama Putera. Kebahagiaan mereka tidak
membuat mereka lupa diri. Putera tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan kuat. Ia
menjadi anak manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran
kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar. Makanan yang seharusnya dimakan bertiga
dapat dimakannya sendiri.
Lama kelamaan, Putera selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu
pekerjaan orang tua, ia selalu menolak. Istri Petani selalu mengingatkan Petani agar
bersabar atas ulah anak mereka. "Ya, aku akan bersabar, walau bagaimanapun dia itu anak
kita!" kata Petani kepada istrinya. "Syukurlah, kanda berpikiran seperti itu. Kanda
memang seorang suami dan ayah yang baik," puji Puteri kepada suaminya.
Memang kata orang, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini dialami oleh Petani itu.
Pada suatu hari, Putera mendapat tugas mengantarkan
makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang
bekerja. Tetapi Putera tidak memenuhi tugasnya. Petani
menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan
lapar. Ia langsung pulang ke rumah. Di lihatnya Putera
sedang bermain bola. Petani menjadi marah sambil
menjewer kuping anaknya. "Anak tidak tau diuntung ! Tak
tahu diri ! Dasar anak ikan !," umpat si Petani tanpa sadar
telah mengucapkan kata pantangan itu.
Setelah petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya hilang
lenyap. Tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah
air yang sangat deras dan semakin deras. Desa Petani dan desa
sekitarnya terendam semua. Air meluap sangat tinggi dan luas
sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk
sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama Danau
Toba. Sedangkan pulau kecil di tengahnya dikenal dengan nama
Pulau Samosir.
HIKMAH :
Jadilah seorang yang sabar dan bisa mengendalikan emosi. Dan juga, jangan
melanggar janji yang telah kita buat atau ucapkan.

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Sunday, November 1, 2009

Cerita Rakyat: Seruling ajaib


Si Kancil sedang asyik berjalan di hutan bambu. "Ternyata enak juga jalan-jalan di hutan
bambu, sejuk dan begitu damai," kata kancil dalam hati. Keasyikan berjalan membuat ia
lupa jalan keluar, lalu ia mencoba jalan pintas dengan menerobos pohon-pohon bambu. Tapi
yang terjadi si kancil malah terjepit diantara batang pohon bambu. "Tolong! Tolong!"
teriak kancil. Ia meronta-ronta, tapi semakin ia meronta semakin kuat terjepit. Ia hanya
berharap mudah-mudahan ada binatang lain yang menolongnya.
Tak jauh dari hutan bambu, seekor harimau sedang
beristirahat sambil mendengarkan kicauan burung. Ia
berkhayal bisa bernyanyi seperti burung. "Andai aku
bisa bernyanyi seperti burung, tapi siapa yang mau
mengajari aku bernyanyi ya?", tanyanya dalam hati.
Semilir angin membuat harimau terkantuk-kantuk. Tak
lama setelah ia mendengkur, terdengar suara berderit- derit.
Suara itu semakin nyaring karena terbawa angin. "Suara apa ya itu?" kata harimau.
"Yang pasti bukan suara kicauan burung, sepertinya suaranya datang dari arah hutan
bambu, lebih baik aku selidiki saja," ujar si harimau. Suara semakin jelas ketika
harimau sampai di hutan bambu. Ia mendapati ternyata
seekor kancil sedang terjepit diantara pohon-pohon
bambu. "Wah aku beruntung sekali hari ini, tanpa susah
payah hidangan lezat sudah tersedia", ujar harimau
kepada kancil sambil lidahnya berdecap melihat tubuh
kancil yang gemuk. Kancil sangat ketakutan. "Apa yang
harus kulakukan agar bisa lolos dengan selamat?", pikir si
kancil.
"Harimau yang baik, janganlah kau makan aku, tubuhku yang kecil pasti tak akan
mengenyangkanmu." "Aku tak perduli, aku sudah lama menunggu kesempatan ini," ujar si
harimau. Angin tiba-tiba berhembus lagi, kriet....kriet... "Suara apa itu?", Tanya Harimau
penasaran. "Itu suara seruling ajaibku," jawab kancil dengan cepat. Otaknya yang cerdik
telah menemukan suatu cara untuk meloloskan diri. "Aku bersedia mengajarimu asalkan
engkau tidak memangsaku, bagaimana?" Tanya si kancil.
Harimau tergoda dengan tawaran si kancil, karena ia
memang ingin dapat bernyanyi seperti burung. Ia
berpikir meniup seruling tidak kalah hebat dengan
bernyanyi. Tangan si kancil pura-pura asyik memainkan
seruling seiring dengan hembusan angin. Sementara
harimau memperhatikan dengan serius. "Koq lagunya
hanya seperti itu?", Tanya harimau. "ini baru nada
dasar", jawab kancil.
"Begini caranya, coba kau kemari dan renggangkan dulu batang bambu ini dari tubuhku",
kata si kancil. Harimau melakukan apa yang dikatakan kancil hingga akhirnya kancil
terbebas dari jepitan pohon bambu. "Nah, sekarang masukkan lehermu dan julurkan
lidahmu pada batang bambu ini. Lalu tiuplah pelan-pelan", Kancil menerangkan dengan
serius. "Jangan heran ya, kalau suaranya kadang kurang merdu, tapi kalau lagi tidak
ngadat suaranya bagus lho." "Untung ada si harimau, hmm bodoh sekali dia, mana ada
seruling ajaib," kata kancil dalam hati. "Harimau yang telah terjepit di antara batang
bambu tidak menyadari bahwa ia telah ditipu si kancil. "Kau mau pergi kemana, Cil?",
Tanya harimau. "Aku mau minum dulu, tenggorokanku kering karena kebanyakan meniup
seuling," jawab si kancil. "Masa aku harus belajar sendiri?", tanya harimau lagi. "Aku pergi
tidak lama, nanti waktu aku kembali, kau harus sudah bisa meniupnya ya, jawab si kancil
sambil pergi meninggalkan harimau.
Setelah si kancil pergi, angin bertiup semilir-semilir dan semakin lama semakin kencang.
Batang-batang pohon bambu menjadi saling bergesekan dan berderit-derit. "Hore aku
bisa!", seru harimau bersemangat. Karena terlalu bersemangat meniup, lidah harimau
menjadi terjepit di antara batang bambu. Ia berteriak kesakitan dan segera menarik
lidahnya dari jepitan batang bambu. "Wah ternyata aku telah ditipu lagi oleh si kancil,
betapa bodohnya aku ini!, pasti bunyi berderit-derit itu suara batang bambu yang
bergesekan. "Grr, benar-benar keterlaluan, kalau ketemu nanti akan ku hajar si kancil",
kata harimau.
Setelah lelah mencari si kancil, akhirnya harimau
beristirahat di bawah pohon. Angin berhembus kembali.
Kriet..kriet..kriet membuat batang-batang bambu saling
bergesekan dan berderit-derit. Hal ini membuat amarah
harimau sedikit reda. Ia jadi mengantuk dan akhirnya
tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi dapat meniup
seruling asli. Membuat para binatang menari dan
menyanyi.


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Dongeng anak: Sepatu Abu Kosim

Abu Kosim adalah seorang laki-laki setengah baya yang hidup di kota Bagdad. Badannya
kurus dan kecil, jenggotnya mirip jenggot kambing. Ia hidup seorang diri
di rumah yang cukup sederhana. Selama ini Abu Kosim dikenal sebagai
orang yang pelit pada dirinya sendiri. Barang-barang yang dimilikinya
tidak akan dibuang atau diberikan kepada orang lain sebelum terlihat
amat dekil. Salah satunya adalah sepatu. Sepatu terbuat dari kulit
unta yang telah dipakai bertahun-tahun itu tetap dipertahankan
meskipun sudah sangat dekil, berlubang di sana-sini dan menyebarkan
bau tidak sedap.
Suatu hari Abu Kosim bertemu dengan sahabat lamanya di kolam renang. Di tempat
tersebut sahabatnya berjanji akan membelikan sepatu baru. "Karena saya lihat sepatu
kamu sudah bau tong sampah," kata sahabatnya sedikit menyindir.
"Wah, kalau begitu terimakasih," ucap Abu Kosim tanpa merasa tersindir sedikit pun.
Sewaktu Abu Kosim selesai mandi, di dekat sepatu bututnya ada sepatu baru yang amat
bagus. Warnanya hitam dengan hiasan warna emas di sana-sini.
"Sahabatku memang baik," gumam Abu Kosim tercengang melihat sepatu itu. Ia kira
sepatu itu dari sahabatnya. Tanpa berpikir panjang lagi ia memakainya dan membawanya
pulang.
Tetapi apa yang terjadi? Tidak lama setelah Abu Kosim duduk di ruang tamu rumahnya,
datang seorang pengawal kerajaan membawa surat penangkapan.
"Apa salah saya?" tanya Abu Kosim.
"Kamu telah mencuri sepatu Gubernur," jawab pengawal.
"Mencuri? Yang benar saja," Abu Kosim merentangkan tangannya.
"Tadi saya memang baru diberi sepatu baru oleh sahabat lama saya. Bukan mencuri
seperti yang kamu tuduhkan!" Abu Kosim tidak terima.
"Saya hanya diminta menangkap tuan. Kalau keberatan, silakan tuan kemukakan alasan
tuan di persidangan," ujar pengawal.
Akhirnya dengan terpaksa Abu Kosim mengikuti pengawal. Di balairung ia sudah ditunggu
Gubernur beserta Tuan Hakim.
"Abu Kosim, kamu telah mencuri sepatu Gubernur dan menukarnya dengan sepatumu.
Karena kamu telah melanggar hukum, kamu didenda
50 dinar," kata Hakim usai
membacakan kesalahan Abu Kosim.
Tanpa memberi alasan lagi Abu Kosim mengeluarkan uang dendanya dan mengembalikan
sepatu Gubernur serta mengambil sepatu bututnya.
"Sepatu ini benar-benar membuat sial!" sungut Abu Kosim begitu keluar dari balairung,
"lebih baik dibuang di sungai saja," putusnya kemudian.
Hari itu juga, sebelum sampai di rumah Abu Kosim membuang sepatunya ke sungai. Namun
dasar sedang sial, sepatu yang dibuang itu ternyata tersangkut di jala seorang nelayan
miskin.
Beberapa jam kemudian datang pengawal membawa surat penangkapan.
"Sepatu yang kamu buang telah merusak jala seorang nelayan miskin, sehingga ia tidak
mendapatkan ikan," alasan pengawal.
Untuk kedua kalinya di hadapan Gubernur Abu Kosim didenda. Kali ini dia harus mengganti
segala kerugian yang diderita nelayan itu, gara-gara sepatu bututnya.
"Benar-benar sepatu sialan!" umpat Abu Kosim begitu kembali ke rumah, "Mungkin aku
harus membuangnya di tempat yang tidak dilalui orang," terusnya sambil berpikir keras.
Malam harinya Abu Kosim berjalan menyusuri kota dan menemukan bangunan kuno
tertinggi di Kota Bagdad.
Di atas genteng bangunan itulah ia membuang sepatunya.
Ternyata apa yang diperkirakan Abu Kosim meleset. Memang bangunan itu tidak dilewati
orang, tetapi di situ ada penghuninya, yaitu seekor kucing. Karena merasa terganggu
dengan bau busuk sepatu Abu Kosim, kucing tersebut menjatuhkannya. Pada saat itu di
bawah gedung ada seorang laki-laki lewat dan sepatu Abu Kosim mengenai kepalanya. Lakilaki
itu langsung mengadu-kan kepada Gubernur. Sekali lagi Gubernur memanggil Abu
Kosim.
"Untuk ketiga kalinya kamu membuat kesalahan, karena itu selain didenda kamu juga
ditahan selama satu minggu!" Hakim memutuskan di persidangan. Nah, di dalam sel itulah
Abu Kosim baru sadar akan sifat pelitnya selama ini yang ternyata telah
menyengsarakannya dan menyengsarakan orang lain.
Setelah keluar dari penjara ia menghadap Gubernur.
"Yang mulia, saya ingin membuat perjanjian," kata Abu Kosim sungguh-sungguh,
"saya akan membuang sepatu butut ini dan akan membeli sepatu baru. Dengan begitu apa
pun yang terjadi akibat sepatu ini jangan dikaitkan dengan saya," katanya lagi.
Gubernur tersenyum tanda setuju. Terlebih lagi setelah Abu Kosim berjanji akan
merubah sifat pelitnya selama ini.


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Dongeng Rakyat: Saudagar jerami


Dahulu kala, ada seorang pemuda miskin yang bernama
Taro. Ia bekerja untuk ladang orang lain dan tinggal di
lumbung rumah majikannya. Suatu hari, Taro pergi ke kuil
untuk berdoa. "Wahai, Dewa Rahmat! Aku telah bekerja
dengan sungguh-sungguh, tapi kehidupanku tidak
berkercukupan". "Tolonglah aku agar hidup senang". Sejak
saat itu setiap selesai bekerja, Taro
Keesokan harinya ketika keluar dari pintu gerbang kuil,
Taro jatuh terjerembab. Ketika sadar ia sedang
menggenggam sebatang jerami. "Oh, jadi yang dimaksud
Dewa adalah jerami, ya? Apa jerami ini akan mendatangkan
kebahagiaan?", pikir Taro. Walaupun agak kecewa dengan
benda yang didapatkannya Taro lalu berjalan sambil
membawa jerami. Di tengah jalan ia menangkap dan
mengikatkan seekor lalat besar yang terbang dengan
ributnya mengelilingi Taro di jeraminya. Lalat tersebut
terbang berputar-putar pada jerami yang sudah
diikatkan pada
sebatang ranting. "Wah menarik ya", ujar
Taro. Saat itu lewat kereta yang diikuti para pengawal.
Di dalam kereta itu, seorang anak sedang duduk sambil
memperhatikan lalat Taro. "Aku ingin mainan itu."
Seorang pengawal datang mengha
mpiri Taro dan meminta mainan itu. "Silakan ambil", ujar Taro. Ibu anak tersebut
memberikan tiga buah jeruk sebagai rasa terima kasihnya kepada Taro.
"Wah, sebatang jerami bisa menjadi tiga buah jeruk", ujar Taro dalam hati. Ketika
meneruskan perjalanannya, terlihat seorang wanita yang sedang beristirahat dan sangat
kehausan. "Maaf, adakah tempat di dekat sini mata air ?", tanya wanita tadi. "Ada di kuil,
tetapi jaraknya masih jauh dari sini, kalau anda haus, ini kuberikan jerukku", kata Taro
sambil memberikan jeruknya kepada wanita itu. "Terima kasih, berkat engkau, aku
menjadi sehat dan segar kembali". Terimalah kain tenun ini sebagai rasa terima kasih
kami, ujar suami wanita itu. Dengan perasaan gembira, Taro berjalan sambil membawa
kain itu. Tak lama kemudian, lewat seorang samurai dengan kudanya. Ketika dekat Taro,
kuda samurai itu terjatuh dan tidak mampu bergerak lagi. "Aduh, padahal kita sedang
terburu-buru." Para pengawal berembuk, apa yang harus dilakukan terhadap kuda itu.
Melihat keadaan itu, Taro menawarkan diri untuk mengurus kuda itu. Sebagai gantinya
Taro memberikan segulung kain tenun yang ia dapatkan kepada para pengawal samurai itu.
Taro mengambil air dari sungai dan segera meminumkannya kepada kuda itu. Kemudian
dengan sangat gembira, Taro membawa kuda yang sudah sehat itu sambil membawa 2
gulung kain yang tersisa.
Ketika hari menjelang malam, Taro pergi ke rumah seorang petani untuk meminta
makanan ternak untuk kuda, dan sebagai gantinya ia
memberikan segulung kain yang dimilikinya. Petani itu
memandangi kain tenun yang indah itu, dan merasa amat
senang. Sebagai ucapan terima kasih petani itu menjamu
Taro makan malam dan mempersilakannya menginap di
rumahnya. Esok harinya, Taro mohon diri kepada petani itu
dan melanjutkan perjalanan dengan menunggang kudanya.
Tiba-tiba di depan sebuah rumah besar, orang-orang tampak sangat sibuk memindahkan
barang-barang. "Kalau ada kuda tentu sangat bermanfaat," pikir Taro. Kemudian taro
masuk ke halaman rumah dan bertanya apakah mereka membutuhkan kuda. Sang pemilik
rumah berkata, "Wah kuda yang bagus. Aku menginginkannya, tetapi aku saat ini tidak
mempunyai uang. Bagaimanan kalau ku ganti dengan sawahku ?". "Baik, uang kalau dipakai
segera habis, tetapi sawah bila digarap akan menghasilkan beras, Silakan kalau mau
ditukar", kata Taro.
"Bijaksana sekali kau anak muda. Bagaimana jika selama aku pergi ke negeri yang jauh, kau
tinggal disini untuk menjaganya ?", Tanya si pemilik rumah. "Baik, Terima kasih Tuan".
Sejak saat itu taro menjaga rumah itu sambil bekerja membersihkan rerumputan dan
menggarap sawah yang didapatkannya. Ketika musim gugur tiba, Taro memanen padinya
yang sangat banyak.
Semakin lama Taro semakin kaya. Karena kekayaannya berawal dari sebatang jerami, ia
diberi julukan "Saudagar Jerami". Para tetangganya yang kaya datang kepada
Taro dan meminta agar putri mereka dijadikan istri oleh
Taro. Tetapi akhirnya, Taro menikah dengan seorang
gadis dari desa tempat ia dilahirkan. Istrinya bekerja
dengan rajin membantu Taro. Merekapun dikaruniai
seorang anak yang lucu. Waktu terus berjalan, tetapi Si
pemilik rumah tidak pernah kembali lagi. Dengan
demikian, Taro hidup bahagia bersama keluarganya.


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»