Showing posts with label kambing. Show all posts
Showing posts with label kambing. Show all posts

Saturday, October 24, 2009

Kumpulan Dongeng: Cindelaras


Raden Putra adalah raja Kerajaan Jenggala. Ia didampingi seorang permaisuri yang baik
hati dan seorang selir yang cantik jelita. Tetapi, selir Raja Raden Putra memiliki sifat iri
dan dengki terhadap sang permaisuri. Ia merencanakan suatu yang buruk kepada
permaisuri. "Seharusnya, akulah yang menjadi permaisuri. Aku harus mencari akal untuk
menyingkirkan permaisuri," pikirnya.
Selir baginda, berkomplot dengan seorang tabib istana. Ia berpura-pura sakit parah.
Tabib istana segera dipanggil. Sang tabib mengatakan bahwa ada seseorang yang telah
menaruh racun dalam minuman tuan putri. "Orang itu tak lain adalah permaisuri Baginda
sendiri," kata sang tabib. Baginda menjadi murka mendengar penjelasan tabib istana. Ia
segera memerintahkan patihnya untuk membuang permaisuri ke hutan.
Sang patih segera membawa permaisuri yang sedang mengandung itu ke hutan belantara.
Tapi, patih yang bijak itu tidak mau membunuhnya. Rupanya sang patih
sudah mengetahui niat jahat selir baginda. "Tuan putri
tidak perlu khawatir, hamba akan melaporkan kepada
Baginda bahwa tuan putri sudah hamba bunuh," kata patih.
Untuk mengelabui raja, sang patih melumuri pedangnya
dengan darah kelinci yang ditangkapnya. Raja mengangguk
puas ketika sang patih melapor

kalau ia sudah membunuh
permaisuri.
Setelah beberapa bulan berada di hutan, lahirlah anak sang
permaisuri. Bayi itu diberinya nama Cindelaras. Cindelaras
tumbuh menjadi seorang anak yang cerdas dan tampan.
Sejak kecil ia sudah berteman dengan binatang penghuni
hutan. Suatu hari, ketika sedang asyik bermain, seekor
rajawali menjatuhkan sebutir telur. "Hmm, rajawali itu baik
sekali. Ia sengaja memberikan telur itu
kepadaku." Setelah 3 minggu, telur itu menetas. Cindelaras
memelihara anak ayamnya dengan rajin. Anak ayam itu
tumbuh menjadi seekor ayam jantan yang bagus dan kuat.
Tapi ada satu keanehan. Bunyi kokok ayam jantan itu
sungguh menakjubkan! "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras,
rumahnya di tengah rimba, atapnya daun kelapa, ayahnya
Raden Putra..."
Cindelaras sangat takjub mendengar kokok ayamnya dan segera memperlihatkan pada
ibunya. Lalu, ibu Cindelaras menceritakan asal usul mengapa mereka sampai berada di
hutan. Mendengar cerita ibundanya, Cindelaras bertekad untuk ke istana dan
membeberkan kejahatan selir baginda. Setelah di ijinkan ibundanya, Cindelaras pergi ke
istana ditemani oleh ayam jantannya. Ketika dalam perjalanan ada beberapa orang yang
sedang menyabung ayam. Cindelaras kemudian dipanggil oleh para penyabung ayam. "Ayo,
kalau berani, adulah ayam jantanmu dengan ayamku," tantangnya. "Baiklah," jawab
Cindelaras. Ketika diadu, ternyata ayam jantan Cindelaras bertarung dengan perkasa dan
dalam waktu singkat, ia dapat mengalahkan lawannya. Setelah beberapa kali diadu, ayam
Cindelaras tidak terkalahkan. Ayamnya benar-benar tangguh.
Berita tentang kehebatan ayam Cindelaras tersebar dengan cepat. Raden Putra pun
mendengar berita itu. Kemudian, Raden Putra menyuruh hulubalangnya untuk mengundang
Cindelaras. "Hamba menghadap paduka," kata Cindelaras dengan santun. "Anak ini tampan
dan cerdas, sepertinya ia bukan keturunan rakyat jelata," pikir baginda. Ayam Cindelaras
diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu syarat, jika ayam Cindelaras kalah maka ia
bersedia kepalanya dipancung, tetapi jika ayamnya menang maka setengah kekayaan
Raden Putra menjadi milik Cindelaras.
Dua ekor ayam itu bertarung dengan gagah berani. Tetapi dalam waktu singkat, ayam
Cindelaras berhasil menaklukkan ayam sang Raja. Para penonton bersorak sorai mengeluelukan
Cindelaras dan ayamnya. "Baiklah aku mengaku kalah. Aku akan menepati janjiku.
Tapi, siapakah kau sebenarnya, anak muda?" Tanya Baginda Raden Putra. Cindelaras
segera membungkuk seperti membisikkan sesuatu pada ayamnya. Tidak berapa lama
ayamnya segera berbunyi. "Kukuruyuk... Tuanku Cindelaras, rumahnya di tengah rimba,
atapnya daun kelapa, ayahnya Raden Putra...," ayam jantan itu berkokok berulang-ulang.
Raden Putra terperanjat mendengar kokok ayam Cindelaras. "Benarkah itu?" Tanya
baginda keheranan. "Benar Baginda, nama hamba Cindelaras, ibu hamba adalah permaisuri
Baginda."
Bersamaan dengan itu, sang patih segera menghadap dan menceritakan semua peristiwa
yang sebenarnya telah terjadi pada permaisuri. "Aku telah melakukan kesalahan," kata
Baginda Raden Putra. "Aku akan memberikan hukuman yang setimpal pada selirku," lanjut
Baginda dengan murka. Kemudian, selir Raden Putra pun di buang
ke hutan. Raden Putra segera memeluk anaknya dan
meminta maaf atas kesalahannya. Setelah itu, Raden Putra
dan hulubalang segera menjemput permaisuri ke hutan.
Akhirnya Raden Putra, permaisuri dan Cindelaras dapat
berkumpul kembali. Setelah Raden Putra meninggal dunia,
Cindelaras menggantikan kedudukan ayahnya. Ia
memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana.

Tiga Sekawan

Dahulu kala, hiduplah seekor Ibu Babi dengan 3 orang
anaknya. Anak yang sulung sangat malas dan mengabaikan
pekerjaannya. Anak yang tengah sangat rakus, tidak mau
bekerja dan kerjanya hanya makan. Anak bungsunya tidak
seperti kakaknya, ia anak yang rajin bekerja. Suatu saat
Ibu Babi berkata kepada anak-anaknya, "Karena kalian
sudah dewasa, kalian harus
hidup mandiri dan buatlah rumah masing-masing". Si bungsu berpikir rumah seperti apa
yang akan didirikannya.
Si sulung tanpa mau bersusah payah membuat rumahnya
dari jerami. Si bungsu berkata, "Kalau rumah jerami nanti
akan hancur bila ada angin atau hujan". "Oh iya ya! Kalau
begitu aku akan membuat rumah dari kayu saja, supaya
kuat jika ada angin", kata si tengah. Setelah selesai si
bungsu kembali berkata, "kalau rumah kayu walau tahan
angin tetapi akan hancur jika dipukul". Si kakak menjadi marah,
"Kau sendiri lambat membuat rumah dari batu batamu itu, jika hari telah sore serigala
akan datang."
Si bungsu bertekad akan membuat rumah dari batu-bata yang kuat yang tidak goyah
dengan angin atau serangan serigala. Malampun tiba, pada saat bulan purnama, si bungsu
telah selesai. Esok harinya, si bungsu mengundang kedua kakaknya, lalu mereka pergi ke
rumah ibu Babi. "Hebat anak-anakku, mulai sekarang kalian hidup dengan mengolah ladang
sendiri", ujar Ibu Babi. Kedua kakak si bungsu menggerutu. "Tidak ah, cape!," gerutu
mereka. Menjelang senja telah tiba, mereka pamit kepada Ibu mereka. Dalam perjalanan,
tiba-tiba seekor serigala membuntuti mereka. "Aku akan memakan babi malas yang tinggal
di rumah jerami itu", kata serigala. Ketika sampai di depan pintu si sulung ia langsung
menendang pintu. "Buka pintu!" teriaknya. Si sulung terkejut dan cepat-cepat mengunci
pintu. Tetapi serigala lebih cerdik. Ia langsung meniup rumah jerami itu sehingga menjadi
hancur.
Si sulung lari ketakutan ke rumah adiknya si Tengah yang terbuat dari kayu. Walaupun
pintu telah dikunci, serigala langsung mendobrak rumah kayu itu hingga hancur. Serigala
mendekat ke arah kedua anak babi yang sedang berpelukan karena ketakutan. Keduanya
langsung lari dengan sekuat tenaga menuju rumah si bungsu. "Cepat kunci pintunya!, nanti
kita dimakan", kata si sulung. Si bungsu dengan tenang
mengunci pintu. "Tak usah khawatir, rumahku tidak akan
goyah", kata si bungsu sambil tertawa. Ketika serigal
sampai, ia langsung menendang, mendobrak berkali-kali
tetapi malah si serigala yang badannya kesakitan. Serigala
akhirnya menyerah dan kemudian langsung pulang. Sejak
saat itu, ketiga anak babi ini hidup bersama, dan sang
serigala tidak pernah datang lagi.
Suatu hari, ketiga anak babi pergi ke bukit untuk memetik apel. Tiba-tiba Serigala itu
muncul disana. Anak-anak babi langsung naik ke pohon menyelamatkan diri. Serigala yang
tidak dapat memanjat pohon menunggu di bawah pohon tersebut. Si bungsu berpikir, lalu
ia berteriak, "Serigala, kaupasti lapar. Apakah kau mau apel?", si bungsu segera melempar
sebuah apel. Serigala yang sudah kelaparan langsung mengejar apel yang menggelinding.
"Sekarang ayo kita lari!". Akhirnya mereka semua selamat.
Beberapa hari kemudian, si serigala datang ke rumah si bungsu dengan membawa tangga
yang panjang. Serigala memanjat ke cerobong asap. Si bungsu yang melihat hal itu
berteriak, "Cepat nyalakan api di tungku pemanas!". Si sulung menyalakan api, si
bungsu membawa kuali yang berisi air panas. Serigala
yang ada di cerobong asap, pantatnya kepanasan tak
tertahankan. Malang bagi si serigala, ketika ia ingin
melarikan diri, ia terpeleset dan jatuh tepat ke dalam air
yang mendidih. "Waa!", serigala cepat-cepat lari. Karena
seluruh badannya luka, maka ia menjadi serigala yang
telanjang.
Sejak saat itu, ketiga anak-anak babi menjalani hidup dengan
baik, dengan mengelola lading-ladang mereka. Si sulung dan si
tengah sekarang menjadi rajin bekerja seperti si bungsu. Ibu
babi merasa bahagia melihat anak-anaknya hidup dengan rukun
dan damai.
HIKMAH :
Jika kita bersatu, maka kita akan terhindar dari perpecahan.

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Baca Selengkapnya »»

Tiga sekawan

Dahulu kala, hiduplah seekor Ibu Babi dengan 3 orang
anaknya. Anak yang sulung sangat malas dan mengabaikan
pekerjaannya. Anak yang tengah sangat rakus, tidak mau
bekerja dan kerjanya hanya makan. Anak bungsunya tidak
seperti kakaknya, ia anak yang rajin bekerja. Suatu saat
Ibu Babi berkata kepada anak-anaknya, "Karena kalian
sudah dewasa, kalian harus
hidup mandiri dan buatlah rumah masing-masing". Si bungsu berpikir rumah seperti apa
yang akan didirikannya.
Si sulung tanpa mau bersusah payah membuat rumahnya
dari jerami. Si bungsu berkata, "Kalau rumah jerami nanti
akan hancur bila ada angin atau hujan". "Oh iya ya! Kalau
begitu aku akan membuat rumah dari kayu saja, supaya
kuat jika ada angin", kata si tengah. Setelah selesai si
bungsu kembali berkata, "kalau rumah kayu walau tahan
angin tetapi akan hancur jika dipukul". Si kakak menjadi marah,
"Kau sendiri lambat membuat rumah dari batu batamu itu, jika hari telah sore serigala
akan datang."
Si bungsu bertekad akan membuat rumah dari batu-bata yang kuat yang tidak goyah
dengan angin atau serangan serigala. Malampun tiba, pada saat bulan purnama, si bungsu
telah selesai. Esok harinya, si bungsu mengundang kedua kakaknya, lalu mereka pergi ke
rumah ibu Babi. "Hebat anak-anakku, mulai sekarang kalian hidup dengan mengolah ladang
sendiri", ujar Ibu Babi. Kedua kakak si bungsu menggerutu. "Tidak ah, cape!," gerutu
mereka. Menjelang senja telah tiba, mereka pamit kepada Ibu mereka. Dalam perjalanan,
tiba-tiba seekor serigala membuntuti mereka. "Aku akan memakan babi malas yang tinggal
di rumah jerami itu", kata serigala. Ketika sampai di depan pintu si sulung ia langsung
menendang pintu. "Buka pintu!" teriaknya. Si sulung terkejut dan cepat-cepat mengunci
pintu. Tetapi serigala lebih cerdik. Ia langsung meniup rumah jerami itu sehingga menjadi
hancur.
Si sulung lari ketakutan ke rumah adiknya si Tengah yang terbuat
dari kayu. Walaupun
pintu telah dikunci, serigala langsung mendobrak rumah kayu itu hingga hancur. Serigala
mendekat ke arah kedua anak babi yang sedang berpelukan karena ketakutan. Keduanya
langsung lari dengan sekuat tenaga menuju rumah si bungsu. "Cepat kunci pintunya!, nanti
kita dimakan", kata si sulung. Si bungsu dengan tenang
mengunci pintu. "Tak usah khawatir, rumahku tidak akan
goyah", kata si bungsu sambil tertawa. Ketika serigal
sampai, ia langsung menendang, mendobrak berkali-kali
tetapi malah si serigala yang badannya kesakitan. Serigala
akhirnya menyerah dan kemudian langsung pulang. Sejak
saat itu, ketiga anak babi ini hidup bersama, dan sang
serigala tidak pernah datang lagi.
Suatu hari, ketiga anak babi pergi ke bukit untuk memetik apel. Tiba-tiba Serigala itu
muncul disana. Anak-anak babi langsung naik ke pohon menyelamatkan diri. Serigala yang
tidak dapat memanjat pohon menunggu di bawah pohon tersebut. Si bungsu berpikir, lalu
ia berteriak, "Serigala, kaupasti lapar. Apakah kau mau apel?", si bungsu segera melempar
sebuah apel. Serigala yang sudah kelaparan langsung mengejar apel yang menggelinding.
"Sekarang ayo kita lari!". Akhirnya mereka semua selamat.
Beberapa hari kemudian, si serigala datang ke rumah si bungsu dengan membawa tangga
yang panjang. Serigala memanjat ke cerobong asap. Si bungsu yang melihat hal itu
berteriak, "Cepat nyalakan api di tungku pemanas!". Si sulung menyalakan api, si
bungsu membawa kuali yang berisi air panas. Serigala
yang ada di cerobong asap, pantatnya kepanasan tak
tertahankan. Malang bagi si serigala, ketika ia ingin
melarikan diri, ia terpeleset dan jatuh tepat ke dalam air
yang mendidih. "Waa!", serigala cepat-cepat lari. Karena
seluruh badannya luka, maka ia menjadi serigala yang
telanjang.
Sejak saat itu, ketiga anak-anak babi menjalani hidup dengan
baik, dengan mengelola lading-ladang mereka. Si sulung dan si
tengah sekarang menjadi rajin bekerja seperti si bungsu. Ibu
babi merasa bahagia melihat anak-anaknya hidup dengan rukun
dan damai.
HIKMAH :
Jika kita bersatu, maka kita akan terhindar dari perpecahan.
Baca Selengkapnya »»

putri melati wangi

Di sebuah kerajaan, ada seorang putri yang bernama Melati Wangi. Ia seorang putri yang
cantik dan pandai. Di rumahnya ia selalu menyanyi. Tetapi sayangnya ia seorang yang
sombong dan suka menganggap rendah orang lain. Di rumahnya ia tidak pernah mau jika
disuruh menyapu oleh ibunya. Selain itu ia juga tidak mau jika disuruh belajar memasak.
"Tidak, aku tidak mau menyapu dan memasak nanti tanganku kasar dan aku jadi kotor",
kata Putri Melati Wangi setiap kali disuruh menyapu dan belajar memasak.
Sejak kecil Putri Melati Wangi sudah dijodohkan dengan seorang pangeran yang bernama
Pangeran Tanduk Rusa. Pangeran Tanduk Rusa adalah seorang pangeran yang tampan dan
gagah. Ia selalu berburu rusa dan binatang lainnya tiap satu bulan di hutan. Karena itu ia
dipanggil tanduk rusa.
Suatu hari, Putri Melati Wangi berjalan-jalan di taman. Ia
melihat seekor kupu-kupu yang cantik sekali warnanya. Ia
ingin menangkap kupu-kupu itu tetapi kupu-kupu itu segera
terbang. Putri Melati Wangi terus mengejarnya sampai ia
tidak sadar sudah masuk ke hutan. Sesampainya di hutan,
Melati Wangi tersesat. Ia tidak tahu jalan pulang dan
haripun sudah mulai gelap.
Akhirnya setelah terus berjalan, ia menemukan sebuah gubuk yang biasa digunakan para
pemburu untuk beristirahat. Akhirnya Melati Wangi tinggal digubuk tersebut. Karena
tidak ada makanan Putri Melati Wangi terpaksa memakan buah-buahan yang ada di hutan
itu. Bajunya yang semula bagus, kini menjadi robek dan compang camping akibat
tersangkut duri dan ranting pohon. Kulitnya yang dulu putih dan mulus kini menjadi hitam
dan tergores-gores karena terkena sinar matahari dan duri.
Setelah sebulan berada di hutan, ia melihat Pangeran Tanduk Rusa datang sambil
memanggul seekor rusa buruannya. "Hai Tanduk Rusa, aku Melati Wangi, tolong antarkan
aku pulang," kata Melati Wangi. "Siapa? Melati Wangi? Melati wangi seorang Putri yang
cantik dan bersih, sedang engkau mirip seorang pengemis", kata Pangeran Tanduk Rusa. Ia
tidak mengenali lagi Melati Wangi. Karena Melati Wangi terus memohon, akhirnya
Pangeran Tanduk Rusa berkata," Baiklah, aku akan membawamu ke Kerajaan ku".
Setelah sampai di Kerajaan Pangeran Tanduk Rusa. Melati Wangi di suruh mencuci,
menyapu dan memasak. Ia juga diberikan kamar yang kecil dan agak
gelap. "Mengapa
nasibku menjadi begini?", keluh Melati Wangi. Setelah satu tahun berlalu, Putri Melati
Wangi bertekad untuk pulang. Ia merasa uang tabungan yang ia kumpulkan dari hasil
kerjanya sudah mencukupi. Sesampainya di rumahnya, Putri Melati Wangi disambut
gembira oleh keluarganya yang mengira Putri Melati Wangi sudah meninggal dunia.
Sejak itu Putri Melati Wangi menjadi seorang putri yang rajin.
Ia merasa mendapatkan pelajaran yang sangat berharga selama
berada di hutan dan di Kerajaan Pangeran Tanduk Rusa.
Akhirnya setahun kemudian Putri Melati Wangi dinikahkan
dengan Pangeran Tanduk Rusa. Setelah menikah, Putri Melati
Wangi dan Pangeran Tanduk Rusa hidup berbahagia sampai hari
tuanya.
Baca Selengkapnya »»

Cerita Paman Alfred

Di sebuah peternakan yang luas, tinggal seorang peternak yang bernama Alfred. Ia lebih
sering di panggil Paman Alfred oleh tetangga di sekitarnya. Setiap hari pekerjaannya
memerah susu sapi dan memberi sapi-sapinya makan, membabat rumput-rumputan untuk
makanan sapi, kemudian memberi makan ternak-ternaknya yang lain. Selain itu juga
membersihkan ladang jagung dan gandumnya. Setelah semuanya selesai, Paman Alfred
berkeliling ladang dan peternakannya, melihat apakah ada pagar-pagar yang rusak atau
tidak.
Sore menjelang malam hari, Paman Alfred merasa
punggungnya sakit dan pegal semua. Setelah makan malam,
ia segera tidur karena badannya sudah sangat lelah. Ia
menghempaskan badannya di tempat tidurnya yang besar
dan empuk. "Saya sangat lelah," keluhnya. Tidak lama
kemudian, Paman Alfred tertidur. Di tengah tidurnya, ia
tiba-tiba terbangun mendengar ada suara sesuatu dari
atap loteng rumahnya. Paman Alfred merasa
terganggu tidurnya. Ia segera mengenakan sendal dan mengambil senter.
Paman Alfred berjalan menaiki tangga menuju atap lotengnya.
Setelah membuka pintu lotengnya, paman Alfred sangat
terkejut sampai hampir terjatuh ke belakang. Ia melihat 3
ekor rakun yang sedang bernyanyi. Karena kesalnya, ia
berteriak, "Diam..!", 3 rakun tersebut tetap bernyanyi,
walaupun sudah diusir. Akhirnya, paman Alfred kembali ke
kamarnya. Ia mencoba untuk melanjutkan tidurnya.
Esok harinya, ia mengalami hal yang sama dengan kemarin. Paman Alfred akhirnya
membeli racun pengusir rakun. Ketika malam hari, Paman Alfred kembali mendengar
rakun-rakun tersebut bernyanyi. Rakun-rakun tersebut tidak mau menyentuh makanan
yang diberikan Paman Alfred. Mereka tahu kalau makanan tersebut sudah diberi racun.
Paman Alfred naik ke loteng. Ia berteriak-teriak menyuruh rakun-rakun itu berhenti
menyanyi. Ia juga melempar rakun-rakun itu dengan sendalnya. Rakun-rakun itu mengelak
sambil terus bernyanyi mengejek Paman Alfred.
Keesokan harinya. Paman Alfred pergi ke perpustakaan. Ia mencari buku cara mengusir
rakun. Setelah hampir satu jam, buku yang dicarinya berhasil ditemukan. Di buku
tersebut tertulis cara mengusir rakun adalah dengan membunyikan suara yang bising,
misalnya dengan radio dan lainnya. Setelah sampai di rumah, Paman Alfred menyiapkan
radio tuanya. Ia memasukkan kaset lagu rock ke dalam radiotapenya.
Malam harinya, ia memasang radio tersebut di loteng.
Ia mencoba untuk tidur tetapi rasa penasaran
membuat Paman Alfred ingin melihat keadaan di loteng.
Ia kembali terkejut melihat rakun-rakun tersebut
masih
ada di loteng. Mereka bahkan tidak hanya
menyanyi. Mereka juga menari-nari mengikuti musik.
Habis sudah kesabaran Paman George. Mukanya menjadi merah karena kesal, setelah
mematikan radio ia berteriak sekeras-kerasnya. "Diaammmm!", teriak Paman Alfred.
Setelah agak reda kekesalannya, Paman Alfred berkata, "Aku punya tawaran untuk kalian,
bagaimana kalau kita tukar tempat?, kalian boleh menempati kamarku sebagai tempat
kalian", ujar Paman Alfred kepada rakun-rakun itu. Rakun-rakun itu setuju. Esok malam
mereka menempati kamar Paman Alfred, sedang Paman Alfred tidur di loteng. Setelah
menyanyi dan menari akhirnya rakun-rakun itu tertidur di kamar Paman Alfred.
Paman Alfred yang sudah sangat lelah tidak memikirkan lagi tempat tidurnya. Ia tertidur
lelap di loteng. Saking lelapnya, Paman Alfred bermimpi tentang rakun, ia bernyanyi dalam
mimpinya, persis seperti nyanyian yang di nyanyikan oleh 3 rakun. Tiga rakun yang tidur di
kamar Paman Alfred terbangun, mereka merasa terganggu dan takut mendengar suara
yang berasal dari loteng. Mereka segera berlarian keluar rumah dan akhirnya mereka
tidak pernah datang lagi ke rumah Paman Alfred. Akhirnya sejak saat itu, Paman Alfred
bisa tidur dengan nyenyak setelah bekerja seharian.
Baca Selengkapnya »»

Moni, monyet yang licik

Siang itu angin berhembus sepoi-sepoi. Moni duduk di dahan sambil mengantuk. Tiba-tiba
perutnya berbunyi keroncongan dan terasa lapar. Ia membayangkan betapa enaknya bila
makan buah-buahan. Tetapi ia kemudian tersentak mengingat kata-kata temannya. Ia
dikatakan sebagai si Serakah, si Rakus, si Tukang Makan, dan sebagainya. Bahkan ia
terngiang kata-kata pak tani yang memarahinya. "Awas, kalau mencuri lagi! Kubunuh, Kau!
Kalau kau ingin makan buah-buahan tanamlah sendiri! Bekerja dan berusahalah dengan
baik!" kata petani dengan geram. Bulu kuduknya berdiri ketika ia teringat pernah dipukuli
ketika mencuri pisang dan mangga di kebun pak tani.
Moni kemudian berpikir bagaimana cara mendapatkan
makanan agar tidak dimarahi orang. "Ah, lebih baik saya
mencari sahabat karibku! Mudah-mudahan ia dapat
membantuku," kata Moni dalam hati. Ia kemudian turun
dari pohon dan berjalan mencari katak sahabat karibnya.
Setibanya di pematang sawah, sambil bernyanyi ia
memanggil sahabat karibnya tersebut.
"Pung... ketipung ... pung! He... he... he...! Katak sahabatku, mengapa engkau sudah lama tak
muncul? Ini sahabatmu datang! Saya rindu sekali padamu! Muncullah ... muncullah!"
Mendengar nyanyian tersebut katak muncul sambil bernyayi "Teot... teot! Teot... teblung!
Ini aku si Katak datang!" Aku juga rindu padamu. Bagaimana aku muncul, bila kau sendiri
tak muncul?" Kedua binatang tersebut kemudian berbincang-bincang untuk melepaskan
kerinduannya. Pada kesempatan itu juga si Monyet menyampaikan maksudnya.
"Katak sahabatku, bagaimana kalau kita bekerja sama untuk menanam buah-buahan," ajak
monyet. "Wah, saya setuju sekali. Tetapi buah apa ya yang paling
enak dan paling mudah
ditanam?" jawab Katak. "Lebih baik kita menanam pisang saja! Bibitnya mudah didapat
dan cara menanamnyapun mudah, bagaimana?" kata monyet sambil bertanya. "Baiklah,
saya akan mencari bibitnya. Biasanya banyak batang pohon pisang yang hanyut di sungai.
Mari kita ke tepi sungai!" jawab katak sambil mengajak monyet. Mereka kemudian ke tepi
sungai sambil berbincang-bincang dengan akrabnya. Sesampainya di tepi sungai ia
bermain-main sambil menunggu bila ada batang pisang yang hanyut. Benar juga! Tak lama
kemudian ada sebatang pohon pisang yang hanyut.
"Nah, itu dia!" Teriak katak sambil menunjuk batang pisang yang hanyut. "Mari kita seret
ke tepi!" ajak moni. "Mari!" jawab katak. Mereka terjun ke sungai dan menyeret batang
pisang ke tepi sungai. Sesampainya di tepi, mereka angkat batang pisang itu ke daratan.
Mereka kemudian menunggu kalau ada batang pisang yang hanyut lagi tetapi tak kunjung
datang. "Menunggu itu membosankan," kata monyet menggerutu. "Ya, kalau begitu besok
kita ke sini lagi! Kita tunggu bila ada batang pisang yang hanyut lagi! Yang ini untukku,"
kata katak sambil memegang batang pisang. "Ah, jangan curang! Ini milik kita berdua. Dari
pada menunggu sampai besok sebaiknya kita bagi saja batang pohon pisang ini sekarang,"
kata monyet.
"Baiklah, kita potong saja batang pohon pisang ini menjadi dua. Kamu bagian bawah sedang
saya yang bagian atas" kata katak. "Ah, jangan curang! Yang dapat berbuah kan bagian
atas! Saya sangat memerlukan buah itu dari pada kamu. Nanti yang bagian bawah juga
dapat berbuah," kata monyet membujuk katak. "Baiklah, kita kan bersahabat. Seorang
sahabat haruslah saling mengerti dan saling menolong. Kita tidak boleh bertengkar hanya
karena perkara kecil. Bawalah yang bagian atas! Saya cukup yang bagian bawah saja," kata
katak penuh perhatian. Mereka akhirnya membawa bagian masing-masing ke hutan. Moni
membawa batang pisang bagian atas dan katak bagian bawah untuk ditanam.
Setiap sebulan sekali monyet mengunjungi katak. Mereka saling menanyakan tanamannya.
"Bagaimana tanaman pisangmu?" tanya moni. "Ha... ha..., lihat saja itu! Subur bukan?!
Tanamanku sangat subur. Daunnya begitu lebat." Jawab katak sambil menunjukkan
tanamannya. "Bagaimana dengan tanamanmu?" tanya katak lebih lanjut. "Wah...,
tanamanku juga demikian!" jawab moni membohongi temannya. Ia bohong karena
tanamannya sudah mati. Batang bagian atas tak mungkin hidup bila ditanam. Bulan
berikutnya moni datang lagi. Ia bertanya kepada katak tentang tanamannya. "Bagaimana
tanamanmu?" tanya moni.
"Wah, tanaman pisangku sangat subur, dan sekarang sudah berbuah. Bagaimana pula
tanamanmu?" jawab katak sambil menanyakan tanaman si Moni. "Demikian juga
tanamanku, sudah berbuah. Bahkan buahnya besar-besar," jawab moni berbohong. Mereka
kemudian berbincang-bincang sambil bergurau. Setelah selesai, moni kembali ke hutan.
Pada kunjungan berikutnya ternyata buah pisangnya sudah masak tetapi katak tidak
dapat memetiknya karena tidak dapat memanjat pohon pisang tersebut. Katakpun
meminta bantuan kepada moni yang sedang berkunjung. "Moni, tolong petikkan pisangku
yang sudah masak itu!" pinta katak kepada moni.
"Wah, dengan senang hati, mari kita ke sana!" jawab moni sambil mengajak katak. Monipun
segera memanjat pohon pisang dan sesampainya di atas ia segera memetik dan mencoba
memakannya. "Wah, ranum benar pisangmu!" teriak moni dari atas pohon pisang. "Hai
moni, jangan kau makan sendiri saja. Cepat petikkan sesisir dulu untukku" teriak katak
sambil memohon. "Ya, nanti dulu! Aku belum selesai memakannya. " sahut moni. Satu, demi
satu dimakannya pisang tersebut oleh moni, setiap katak meminta ada saja jawaban si
Moni. Katak tak pernah diberi. Bahkan si Katak hanya dilempari kulitnya.
"Kamu lebih baik makan kulitnya saja, Tak! Ini bagianmu, terimalah! kata moni. Katakpun
berang dilecehkan oleh moni. Ia pun berkata dalam hati untuk memberikan pelajaran
kepada moni yang serakah tersebut. "Baiklah, habiskan saja pisangku. Aku sudah tak
berminat lagi. Aku sudah kenyang makan nyamuk. Makanan utamaku kan nyamuk, bukan
pisang seperti makananmu." kata katak dengan kesal. "Ha... ha... ha..., katak...katak...,
salahmu sendiri kamu tak dapat memanjat. Kamu hanya dapat meloncat-loncat saja. Coba
perhatikan saya! Saya dapat berjalan, meloncat dan memanjat. Makanankupun lebih
banyak jenisnya daripada kamu. Kamu lebih baik makan nyamuk saja. Pisang ini sebenarnya
untukku bukan untukmu," kata moni dengan congkak.
"Dasar moni serakah! Sudahlah, jangan banyak bicara! Cepat habiskan saja pisangku!
Sebentar lagi batangnya akan saya tebang," kata katak dengan marah. Selesai berbicara
katakpun mulai menebang batang pohon pisangnya. Moni segera mempercepat makannya.
Tak terasa ia mulai kenyang dan mengantuk. Batang pohon pisang mulai bergoyang dan
akan roboh tetapi moni tak dapat menahan kantuknya. Lebih-lebih goyangannya batang
pohon pisang dianggapnya sebagai ayunan yang meninabobokkan. Akhirnya ia jatuh.
Perutnya terkena ujung pohon kayu kering yang runcing dan badannya tertimpa batang
pohon pisang.
HIKMAH :
Janganlah menjadi seorang yang serakah, karena keserakahan bisa menyebabkan
kesulitan/musibah pada diri kita.
Baca Selengkapnya »»

Kerbau dan kambing

Seekor kerbau jantan berhasil lolos dari serangan seekor singa dengan cara memasuki sebuah gua dimana gua tersebut sering digunakan oleh kumpulan kambing sebagai tempat berteduh dan menginap saat malam tiba ataupun saat cuaca sedang memburuk. Saat itu hanya satu kambing jantan yang ada di dalam gua tersebut. Saat kerbau masuk kedalam gua, kambing jantan itu menundukkan kepalanya, berlari untuk menabrak kerbau tersebut dengan tanduknya agar kerbau jantan itu keluar dari gua dan dimangsa oleh sang Singa. Kerbau itu hanya tinggal diam melihat tingkah laku sang Kambing. Sedang diluar sana, sang Singa berkeliaran di muka gua mencari mangsanya.

Lalu sang kerbau berkata kepada sang kambing, "Jangan berpikir bahwa saya akan menyerah dan diam saja melihat tingkah lakumu yang pengecut karena saya merasa takut kepadamu. Saat singa itu pergi, saya akan memberi kamu pelajaran yang tidak akan pernah kamu lupakan."

Sangatlah jahat, mengambil keuntungan dari kemalangan orang lain. Baca Selengkapnya »»