Showing posts with label Sinbad. Show all posts
Showing posts with label Sinbad. Show all posts

Sunday, November 1, 2009

Cerita Rakyat: Seruling ajaib


Si Kancil sedang asyik berjalan di hutan bambu. "Ternyata enak juga jalan-jalan di hutan
bambu, sejuk dan begitu damai," kata kancil dalam hati. Keasyikan berjalan membuat ia
lupa jalan keluar, lalu ia mencoba jalan pintas dengan menerobos pohon-pohon bambu. Tapi
yang terjadi si kancil malah terjepit diantara batang pohon bambu. "Tolong! Tolong!"
teriak kancil. Ia meronta-ronta, tapi semakin ia meronta semakin kuat terjepit. Ia hanya
berharap mudah-mudahan ada binatang lain yang menolongnya.
Tak jauh dari hutan bambu, seekor harimau sedang
beristirahat sambil mendengarkan kicauan burung. Ia
berkhayal bisa bernyanyi seperti burung. "Andai aku
bisa bernyanyi seperti burung, tapi siapa yang mau
mengajari aku bernyanyi ya?", tanyanya dalam hati.
Semilir angin membuat harimau terkantuk-kantuk. Tak
lama setelah ia mendengkur, terdengar suara berderit- derit.
Suara itu semakin nyaring karena terbawa angin. "Suara apa ya itu?" kata harimau.
"Yang pasti bukan suara kicauan burung, sepertinya suaranya datang dari arah hutan
bambu, lebih baik aku selidiki saja," ujar si harimau. Suara semakin jelas ketika
harimau sampai di hutan bambu. Ia mendapati ternyata
seekor kancil sedang terjepit diantara pohon-pohon
bambu. "Wah aku beruntung sekali hari ini, tanpa susah
payah hidangan lezat sudah tersedia", ujar harimau
kepada kancil sambil lidahnya berdecap melihat tubuh
kancil yang gemuk. Kancil sangat ketakutan. "Apa yang
harus kulakukan agar bisa lolos dengan selamat?", pikir si
kancil.
"Harimau yang baik, janganlah kau makan aku, tubuhku yang kecil pasti tak akan
mengenyangkanmu." "Aku tak perduli, aku sudah lama menunggu kesempatan ini," ujar si
harimau. Angin tiba-tiba berhembus lagi, kriet....kriet... "Suara apa itu?", Tanya Harimau
penasaran. "Itu suara seruling ajaibku," jawab kancil dengan cepat. Otaknya yang cerdik
telah menemukan suatu cara untuk meloloskan diri. "Aku bersedia mengajarimu asalkan
engkau tidak memangsaku, bagaimana?" Tanya si kancil.
Harimau tergoda dengan tawaran si kancil, karena ia
memang ingin dapat bernyanyi seperti burung. Ia
berpikir meniup seruling tidak kalah hebat dengan
bernyanyi. Tangan si kancil pura-pura asyik memainkan
seruling seiring dengan hembusan angin. Sementara
harimau memperhatikan dengan serius. "Koq lagunya
hanya seperti itu?", Tanya harimau. "ini baru nada
dasar", jawab kancil.
"Begini caranya, coba kau kemari dan renggangkan dulu batang bambu ini dari tubuhku",
kata si kancil. Harimau melakukan apa yang dikatakan kancil hingga akhirnya kancil
terbebas dari jepitan pohon bambu. "Nah, sekarang masukkan lehermu dan julurkan
lidahmu pada batang bambu ini. Lalu tiuplah pelan-pelan", Kancil menerangkan dengan
serius. "Jangan heran ya, kalau suaranya kadang kurang merdu, tapi kalau lagi tidak
ngadat suaranya bagus lho." "Untung ada si harimau, hmm bodoh sekali dia, mana ada
seruling ajaib," kata kancil dalam hati. "Harimau yang telah terjepit di antara batang
bambu tidak menyadari bahwa ia telah ditipu si kancil. "Kau mau pergi kemana, Cil?",
Tanya harimau. "Aku mau minum dulu, tenggorokanku kering karena kebanyakan meniup
seuling," jawab si kancil. "Masa aku harus belajar sendiri?", tanya harimau lagi. "Aku pergi
tidak lama, nanti waktu aku kembali, kau harus sudah bisa meniupnya ya, jawab si kancil
sambil pergi meninggalkan harimau.
Setelah si kancil pergi, angin bertiup semilir-semilir dan semakin lama semakin kencang.
Batang-batang pohon bambu menjadi saling bergesekan dan berderit-derit. "Hore aku
bisa!", seru harimau bersemangat. Karena terlalu bersemangat meniup, lidah harimau
menjadi terjepit di antara batang bambu. Ia berteriak kesakitan dan segera menarik
lidahnya dari jepitan batang bambu. "Wah ternyata aku telah ditipu lagi oleh si kancil,
betapa bodohnya aku ini!, pasti bunyi berderit-derit itu suara batang bambu yang
bergesekan. "Grr, benar-benar keterlaluan, kalau ketemu nanti akan ku hajar si kancil",
kata harimau.
Setelah lelah mencari si kancil, akhirnya harimau
beristirahat di bawah pohon. Angin berhembus kembali.
Kriet..kriet..kriet membuat batang-batang bambu saling
bergesekan dan berderit-derit. Hal ini membuat amarah
harimau sedikit reda. Ia jadi mengantuk dan akhirnya
tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi dapat meniup
seruling asli. Membuat para binatang menari dan
menyanyi.


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Dongeng anak: Sepatu Abu Kosim

Abu Kosim adalah seorang laki-laki setengah baya yang hidup di kota Bagdad. Badannya
kurus dan kecil, jenggotnya mirip jenggot kambing. Ia hidup seorang diri
di rumah yang cukup sederhana. Selama ini Abu Kosim dikenal sebagai
orang yang pelit pada dirinya sendiri. Barang-barang yang dimilikinya
tidak akan dibuang atau diberikan kepada orang lain sebelum terlihat
amat dekil. Salah satunya adalah sepatu. Sepatu terbuat dari kulit
unta yang telah dipakai bertahun-tahun itu tetap dipertahankan
meskipun sudah sangat dekil, berlubang di sana-sini dan menyebarkan
bau tidak sedap.
Suatu hari Abu Kosim bertemu dengan sahabat lamanya di kolam renang. Di tempat
tersebut sahabatnya berjanji akan membelikan sepatu baru. "Karena saya lihat sepatu
kamu sudah bau tong sampah," kata sahabatnya sedikit menyindir.
"Wah, kalau begitu terimakasih," ucap Abu Kosim tanpa merasa tersindir sedikit pun.
Sewaktu Abu Kosim selesai mandi, di dekat sepatu bututnya ada sepatu baru yang amat
bagus. Warnanya hitam dengan hiasan warna emas di sana-sini.
"Sahabatku memang baik," gumam Abu Kosim tercengang melihat sepatu itu. Ia kira
sepatu itu dari sahabatnya. Tanpa berpikir panjang lagi ia memakainya dan membawanya
pulang.
Tetapi apa yang terjadi? Tidak lama setelah Abu Kosim duduk di ruang tamu rumahnya,
datang seorang pengawal kerajaan membawa surat penangkapan.
"Apa salah saya?" tanya Abu Kosim.
"Kamu telah mencuri sepatu Gubernur," jawab pengawal.
"Mencuri? Yang benar saja," Abu Kosim merentangkan tangannya.
"Tadi saya memang baru diberi sepatu baru oleh sahabat lama saya. Bukan mencuri
seperti yang kamu tuduhkan!" Abu Kosim tidak terima.
"Saya hanya diminta menangkap tuan. Kalau keberatan, silakan tuan kemukakan alasan
tuan di persidangan," ujar pengawal.
Akhirnya dengan terpaksa Abu Kosim mengikuti pengawal. Di balairung ia sudah ditunggu
Gubernur beserta Tuan Hakim.
"Abu Kosim, kamu telah mencuri sepatu Gubernur dan menukarnya dengan sepatumu.
Karena kamu telah melanggar hukum, kamu didenda
50 dinar," kata Hakim usai
membacakan kesalahan Abu Kosim.
Tanpa memberi alasan lagi Abu Kosim mengeluarkan uang dendanya dan mengembalikan
sepatu Gubernur serta mengambil sepatu bututnya.
"Sepatu ini benar-benar membuat sial!" sungut Abu Kosim begitu keluar dari balairung,
"lebih baik dibuang di sungai saja," putusnya kemudian.
Hari itu juga, sebelum sampai di rumah Abu Kosim membuang sepatunya ke sungai. Namun
dasar sedang sial, sepatu yang dibuang itu ternyata tersangkut di jala seorang nelayan
miskin.
Beberapa jam kemudian datang pengawal membawa surat penangkapan.
"Sepatu yang kamu buang telah merusak jala seorang nelayan miskin, sehingga ia tidak
mendapatkan ikan," alasan pengawal.
Untuk kedua kalinya di hadapan Gubernur Abu Kosim didenda. Kali ini dia harus mengganti
segala kerugian yang diderita nelayan itu, gara-gara sepatu bututnya.
"Benar-benar sepatu sialan!" umpat Abu Kosim begitu kembali ke rumah, "Mungkin aku
harus membuangnya di tempat yang tidak dilalui orang," terusnya sambil berpikir keras.
Malam harinya Abu Kosim berjalan menyusuri kota dan menemukan bangunan kuno
tertinggi di Kota Bagdad.
Di atas genteng bangunan itulah ia membuang sepatunya.
Ternyata apa yang diperkirakan Abu Kosim meleset. Memang bangunan itu tidak dilewati
orang, tetapi di situ ada penghuninya, yaitu seekor kucing. Karena merasa terganggu
dengan bau busuk sepatu Abu Kosim, kucing tersebut menjatuhkannya. Pada saat itu di
bawah gedung ada seorang laki-laki lewat dan sepatu Abu Kosim mengenai kepalanya. Lakilaki
itu langsung mengadu-kan kepada Gubernur. Sekali lagi Gubernur memanggil Abu
Kosim.
"Untuk ketiga kalinya kamu membuat kesalahan, karena itu selain didenda kamu juga
ditahan selama satu minggu!" Hakim memutuskan di persidangan. Nah, di dalam sel itulah
Abu Kosim baru sadar akan sifat pelitnya selama ini yang ternyata telah
menyengsarakannya dan menyengsarakan orang lain.
Setelah keluar dari penjara ia menghadap Gubernur.
"Yang mulia, saya ingin membuat perjanjian," kata Abu Kosim sungguh-sungguh,
"saya akan membuang sepatu butut ini dan akan membeli sepatu baru. Dengan begitu apa
pun yang terjadi akibat sepatu ini jangan dikaitkan dengan saya," katanya lagi.
Gubernur tersenyum tanda setuju. Terlebih lagi setelah Abu Kosim berjanji akan
merubah sifat pelitnya selama ini.


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Saturday, October 31, 2009

Dongeng-dongeng: Petualangan Sinbad


Dahulu, di daerah Baghdad, Timur Tengah, ada seorang pemuda bernama Sinbad yang
kerjanya memanggul barang-barang yang berat dengan upah yang sedikit, sehingga
hidupnya tergolong miskin. Suatu hari, Sinbad beristirahat di depan pintu rumah
saudagar kaya karena sangat lelah dan kepanasan. Sambil
istirahat, ia menyanyikan lagu. "Namaku Sinbad, hidupku
sangat malang, berapapun aku bekerja dengan memanggul
beban di punggung tetaplah penderitaan yang kurasakan."
Tak berapa lama muncul pelayan rumah itu, menyuruh
Sinbad masuk karena dipanggil tuannya.
"Apakah namamu Sinbad ?", "Benar Tuan". "Namaku juga Sinbad", kata sang saudagar. Ia
pun mulai bercerita, "Dulu aku seorang pelaut. Ketika mendengar nyanyianmu, aku sangat
sedih karena kau berpikir hanya kamu sendiri yang bernasib buruk, dulu nasibku juga
buruk, orangtua ku meninggalkan banyak warisan, tetapi aku hanya bermain dan
menghabiskan harta saja. Setelah jatuh miskin aku bertekad menjadi seorang pelaut. Aku
menjual rumah dan semua perabotannya untuk membeli kapal dan seisinya. Karena sudah
lama tidak menemui daratan, ketika ada daratan yang terlihat kami segera merapatkan
kapal. Para awak kapal segera mempersiapkan makan siang. Mereka membakar daging dan
ikan. Tiba-tiba, permukaan tanah
bergoyang. Pulau itu bergerak ke atas, para pelaut
berjatuhan ke
laut. Begitu jatuh ke laut, aku sempat
melihat ke pulau itu, ternyata pulau tersebut, berada di
atas badan ikan paus. Karena ikan paus itu sudah lama tak
bergerak, tubuhnya ditumbuhi pohon dan rumput, mirip
seperti pulau. Mungkin karena panas dari api unggun, ia
mulai bergerak liar.
Mereka yang terjatuh ke laut di libas ekor ikan paus sehingga tenggelam. Aku berusaha
menyelamatkan diri dengan memeluk sebuah gentong, hingga aku pun terapung-apung di
laut. Beberapa hari kemudian, aku berhasil sampai ke daratan. Aku haus, disana ada pohon
kelapa. Kemudian aku memanjatnya dan mengambil buah dan meminum airnya. Tiba-tiba
aku melihat ada sebutir telur yang sangat besar. Ketika turun, dan mendekati telur itu,
tiba-tiba dari arah langit, terdengar suara yang menakutkan disertai suara kepakan sayap
yang mengerikan. Ternyata, seekor burung naga yang amat besar.
Setelah sampai disarangnya, burung naga itu tertidur sambil mengerami telurnya. Sinbad
menyelinap di kaki burung itu, dan mengikat erat badannya di kaki burung naga dengan
kainnya. "Kalau ia bangun, pasti ia langsung terbang dan pergi ke tempat di mana manusia
tinggal." Benar, esoknya burung naga terbang mencari makanan. Ia terbang melewati
pegunungan dan akhirnya tampak sebuah daratan. Burung naga turun di sebuah tempat
yang dalam di ujung jurang. Sinbad segera melepas ikatan kainnya di kaki burung dan
bersembunyi di balik batu. Sekarang Sinbad berada di dasar jurang. Sinbad tertegun,
melihat di sekelilingnya banyak berlian.
Pada saat itu, "Bruk" ada sesuatu yang jatuh. Ternyata gundukan daging yang besar. Di
gundukan daging itu menempel banyak berlian yang bersinar-sinar. Untuk mengambil
berlian, manusia sengaja menjatuhkan daging ke jurang yang nantinya akan diambil oleh
burung naga dengan berlian yang sudah menempel di daging itu. Sinbad mempunyai ide. Ia
segera mengikatkan dirinya ke gundukan daging. Tak berapa lama
burung naga datang dan mengambil gundukan daging, lalu
terbang dari dasar jurang. Tiba-tiba, "Klang! Klang!
Terdengar suara gong dan suling yang bergema. Burung
naga yang terkejut menjatuhkan gundukan daging dan
cepat-cepat terbang tinggi. Orang-orang yang datang
untuk mengambil berlian, terkejut ketika melihat Sinbad.
Sinbad menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Kemudian orang-orang pengambil
berlian mengantarkan Sinbad ke pelabuhan untuk kembali ke negaranya. Sinbad menjual
berlian yang didapatnya dan membeli sebuah kapal yang besar dengan awak kapal yang
banyak. Ia berangkat berlayar sambil melakukan perdagangan. Suatu hari, kapal Sinbad
dirampok oleh para perompak. Kemudian Sinbad dijadikan budak yang akhirnya dijual
kepada seorang pemburu gajah. "Apakah kau bisa memanah?" Tanya pemburu gajah. Sang
pemburu memberi Sinbad busur dan anak panah dan diajaknya ke padang rumput luas. "Ini
adalah jalan gajah. Naiklah ke atas pohon, tunggu mereka datang lalu bunuh gajah itu".
"Baik tuan," jawab Sinbad ketakutan.
Esok pagi, datang gerombolan gajah. Saat itu pemimpin
gajah melihat Sinbad dan langsung menyerang pohon
yang dinaiki Sinbad. Sinbad jatuh tepat di depan gajah.
Gajah itu kemudian menggulung Sinbad dengan
belalainya yang panjang. Sinbad mengira ia pasti akan
dibunuh atau dibanting ke tanah. Ternyata, gajah itu
membawa Sinbad dengan kelompok mereka ke sebuah
gunung batu. Akhirnya terlihat sebuah air terjun besar. Dengan
membawa Sinbad, gajah itu masuk ke dalam air terjun menuju ke sebuah gua. "Ku..kuburan
gajah!" Sinbad terperanjat. Di gua yang luas bertumpuk tulang dan gading gajah.
Pemimpin gajah berkata,"kalau kau ingin gading ambillah seperlunya. Sebagai gantinya,
berhentilah membunuh kami." Sinbad berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Ia
pulang dengan memanggul gading gajah dan menyerahkan ke tuannya dengan syarat
tuannya tidak akan membunuh gajah lagi. Tuannya berjanji dan kemudian memberikan
Sinbad uang.
"Sampai disini dulu ceritaku", ujar Sinbad yang sudah menjadi saudagar kaya. "Aku bisa
menjadi orang kaya, karena kerja keras dengan uang itu. Jangan putus asa, sampai
kapanpun, apalagi jika kita masih muda," lanjut sang saudagar.

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»