Showing posts with label putri tandampalik. Show all posts
Showing posts with label putri tandampalik. Show all posts

Friday, November 6, 2009

Dongeng Anak: Putri Mary dan Bola emas


Pada suatu waktu, hidup seorang raja yang mempunyai beberapa anak gadis yang cantik,
tetapi anak gadisnya yang paling bungsulah yang paling cantik. Ia memiliki wajah yang
sangat cantik dan selalu terlihat bercahaya. Ia bernama Mary. Di dekat istana raja
terdapat hutan yang luas serta lebat dan di bawah satu pohon limau yang sudah tua ada
sebuah sumur.
Suatu hari yang panas, Putri Mary pergi bermain menuju hutan dan duduk
di tepi pancuran yang airnya sangat dingin. Ketika sudah bosan sang Putri mengambil
sebuah bola emas kemudian melemparkannya tinggi-tinggi lalu ia tangkap kembali. Bermain
lempar bola adalah mainan kegemarannya.
Namun, suatu ketika bola emas sang putri tidak bisa
ditangkapnya. Bola itu kemudian jatuh ke tanah dan
menggelinding ke arah telaga, mata sang putri terus
melihat arah bola emasnya, bola terus bergulir hingga
akhirnya lenyap di telaga yang dalam, sampai dasar telaga
itu pun tak terlihat. Sang Putri pun mulai menangis.
Semakin lama tangisannya
makin keras. Ketika ia masih
menangis, terdengar suara seseorang berbicar
a padanya, "Apa yang membuatmu bersedih tuan putri? Tangisan tuan Putri sangat
membuat saya terharu" Sang Putri melihat ke sekeliling mencari darimana arah
suara tersebut, ia hanya melihat seekor katak besar
dengan muka yang jelek di permukaan air. Oh, apakah
engkau yang tadi berbicara katak? Aku menangis karena
bola emasku jatuh ke dalam telaga. Berhentilah menangis,
kata sang katak. Aku bisa membantumu mengambil bola
emasmu, tapi apakah yang akan kau berikan padaku nanti?,
lanjut sang katak.
Apapun yang kau minta akan ku berikan, perhiasan dan mutiaraku, bahkan aku akan
berikan mahkota emas yang aku pakai ini, kata sang putri. Sang katak menjawab, aku tidak
mau perhiasan, mutiara bahkan mahkota emasmu, tapi aku ingin kau mau menjadi teman
pasanganku dan mendampingimu makan, minum dan menemanimu tidur. Jika kau berjanji
memenuhi semua keinginanku, aku akan mengambilkan bola emasmu kembali, kata sang
katak. Baik, aku janji akan memenuhi semua keinginanmu jika kau berhasil membawa bola
emasku kembali. Sang putri berpikir, bagaimana mungkin seekor katak yang bisa
berbicara dapat hidup di darat dalam waktu yang lama. Ia hanya bisa bermain di air
bersama katak lainnya sambil bernyanyi. Setelah sang putri berjanji, sang katak segera
menyelam ke dalam telaga dan dalam waktu singkat ia kembali ke permukaan sambil
membawa bola emas di mulutnya kemudian melemparkannya ke tanah.
Sang Putri merasa sangat senang karena bola emasnya ia dapatkan kembali. Sang Putri
menangkap bola emasnya dan kemudian berlari pulang. Tunggu ! tunggu, kata sang katak.
Bawa aku bersamamu, aku tidak dapat berlari secepat dirimu. Tapi percuma saja sang
katak berteriak memanggil sang putri, ia tetap berlari meninggalkan sang katak. Sang
katak merasa sangat sedih dan kembali ke telaga. Keesokan harinya,
ketika sang Putri sedang duduk bersama ayahnya sambil
makan siang, terdengar suara lompatan di tangga marmer.
Sesampainya di tangga paling atas, terdengar ketukan
pintu dan tangisan, Putri, putri! bukakan pintu untukku.
Sang putri bergegas menuju pintu. Tapi ketika ia membuka
pintu, ternyata di hadapannya sudah ada sang katak.
Karena kaget ia segera menutup pintu keraskeras.
Ia kembali duduk di meja makan dan kelihatan ketakutan. Sang Raja yang melihat
anaknya ketakutan bertanya pada putrinya, Apa yang engkau takutkan putriku? Apakah
ada raksasa yang akan membawamu pergi? Bukan ayah, bukan seorang raksasa tapi seekor
katak yang menjijikkan, kata sang putri. Apa yang ia inginkan darimu? tanya sang raja
pada putrinya.
Kemudian sang putri bercerita kembali kejadian yang menimpanya kemarin. Aku tidak
pernah berpikir ia akan datang ke istana ini.., kata sang Putri. Tidak berapa lama,
terdengar ketukan di pintu lagi. Putri!, putri, bukakan pintu untukku. Apakah kau lupa
dengan ucapan mu di telaga kemarin? Akhirnya sang Raja berkata pada putrinya, apa saja
yang telah engkau janjikan haruslah ditepati. Ayo, bukakan pintu untuknya. Dengan
langkah yang berat, sang putri bungsu membuka pintu, lalu sang katak segera
masuk dan mengikuti sang putri sampai ke meja makan.
Angkat aku dan biarkan duduk di sebelahmu, kata sang
katak.Atas perintah Raja, pengawal menyiapkan piring
untuk katak di samping Putri Mary. Sang katak segera
menyantap makanan di piring itu dengan menjulurkan
lidahnya yang panjang. Wah, benar-benar tidak punya
aturan. Melihatnya saja membuat perasaanku tidak
enak, kata Putri Mary.
Sang Putri bergegas lari ke kamarnya. Kini ia merasa lega bisa melepaskan diri dari sang
katak. Namun, tiba-tiba, ketika hendak membaringkan diri di tempat tidur. Kwoook!
ternyata sang katak sudah berada di atas tempat tidurnya. Cukup katak! Meskipun aku
sudah mengucapkan janji, tapi ini sudah keterlaluan! Putri Mary sangat marah, lalu ia
melemparkan katak itu ke lantai. Bruuk! Ajaib, tiba-tiba asap keluar dari tubuh katak.
Dari dalam asap muncul seorang pangeran yang gagah. Terima kasih Putri Mary! kau telah
menyelamatkanku dari sihir seorang penyihir yang jahat. Karena kau
telah melemparku, sihirnya lenyap dan aku kembali ke
wujud semula. Kata sang pangeran. Maafkan aku karena
telah mengingkari janji, kata sang putri dengan penuh
sesal. Aku juga minta maaf. Aku sengaja membuatmu
marah agar kau melemparkanku, sahut sang Pangeran.
Waktu berlalu begitu cepat. Akhirnya sang Pangeran dan
Putri Mary mengikat janji setia dengan menikah dan
merekapun hidup bahagia.
HIKMAH :
Jangan pernah mempermainkan sebuah janji dan pikirkanlah dahulu janji-janji yang
akan kita buat.

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Sunday, November 1, 2009

Dongeng Anak: Telaga Bidadari


Dahulu kala, ada seorang pemuda yang tampan dan gagah. Ia bernama Awang Sukma.
Awang Sukma mengembara sampai ke tengah hutan belantara. Ia tertegun melihat aneka
macam kehidupan di dalam hutan. Ia membangun sebuah rumah pohon di sebuah dahan
pohon yang sangat besar. Kehidupan di hutan rukun dan damai. Setelah lama tinggal di
hutan, Awang Sukma diangkat menjadi penguasa daerah itu dan bergelar
Datu. Sebulan sekali, Awang Sukma berkeliling daerah
kekuasaannya dan sampailah ia di sebuah telaga yang jernih
dan bening. Telaga tersebut terletak di bawah pohon yang
rindang dengan buah-buahan yang banyak. Berbagai jenis
burung dan serangga hidup dengan riangnya. "Hmm, alangkah
indahnya telaga ini. Ternyata hutan ini menyimpan
keindahan
yang luar biasa," gumam Datu Awang Sukma.
Keesokan harinya, ketika Datu Awang Sukma sedang meniup
serulingnya, ia mendengar suara riuh rendah di telaga. Di
sela-sela tumpukan batu yang bercelah, Datu Awang Sukma
mengintip ke arah telaga. Betapa terkejutnya Awang Sukma
ketika melihat ada 7 orang gadis cantik sedang bermain air.
"Mungkinkah mereka itu para bidadari?" pikir Awang Sukma.
Tujuh gadis cantik itu tidak
sadar jika mereka sedang diperhatikan dan tidak menghiraukan selendang mereka yang
digunakan untuk terbang, bertebaran di sekitar telaga. Salah satu selendang tersebut
terletak di dekat Awang Sukma. "Wah, ini kesempatan yang baik untuk mendapatkan
selendang di pohon itu," gumam Datu Awang Sukma.
Mendengar suara dedaunan, para putri terkejut dan segera mengambil selendang masingmasing.
Ketika ketujuh putri tersebut ingin terbang, ternyata ada salah seorang putri
yang tidak menemukan pakaiannya. Ia telah ditinggal oleh keenam kakaknya. Saat itu,
Datu Awang Sukma segera keluar dari persembunyiannya. "Jangan takut tuan putri,
hamba akan menolong asalkan tuan putri sudi tinggal bersama hamba," bujuk Datu Awang
Sukma. Putri Bungsu masih ragu menerima uluran tangan Datu Awang Sukma. Namun
karena tidak ada orang lain maka tidak ada jalan lain untuk Putri Bungsu kecuali menerima
pertolongan Awang Sukma.
Datu Awang Sukma sangat mengagumi kecantikan Putri Bungsu. Demikian juga dengan
Putri Bungsu. Ia merasa bahagia berada di dekat seorang yang tampan dan gagah perkasa.
Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi suami istri. Setahun kemudian lahirlah
seorang bayi perempuan yang cantik dan diberi nama Kumalasari. Kehidupan keluarga Datu
Awang Sukma sangat bahagia.
Datu Awang Sukma sangat mengagumi kecantikan Putri Bungsu. Demikian juga dengan
Putri Bungsu. Ia merasa bahagia berada di dekat seorang yang tampan dan gagah perkasa.
Akhirnya mereka memutuskan untuk menjadi suami istri. Setahun kemudian lahirlah
seorang bayi perempuan yang cantik dan diberi nama Kumalasari. Kehidupan keluarga Datu
Awang Sukma sangat bahagia.
Namun, pada suatu hari seekor ayam hitam naik ke atas lumbung dan mengais padi di atas
permukaan lumbung. Putri Bungsu berusaha mengusir ayam tersebut. Tiba-tiba matanya
tertuju pada sebuah bumbung bambu yang tergeletak di bekas kaisan ayam. "Apa kirakira
isinya ya?" pikir Putri Bungsu. Ketika bumbung dibuka, Putri Bungsu terkejut dan
berteriak gembira. "Ini selendangku!, seru Putri Bungsu. Selendang itu pun didekapnya
erat-erat. Perasaan kesal dan jengkel tertuju pada suaminya. Tetapi ia pun sangat sayang
pada suaminya.
Akhirnya Putri Bungsu membulatkan tekadnya untuk kembali ke kahyangan. "Kini saatnya
aku harus kembali!," katanya dalam hati. Putri Bungsu segera mengenakan
selendangnya sambil menggendong bayinya. Datu Awang
Sukma terpana melihat kejadian itu. Ia langsung mendekat
dan minta maaf atas tindakan yang tidak terpuji yaitu
menyembunyikan selendang Putri Bungsu. Datu Awang Sukma
menyadari bahwa perpisahan tidak bisa dielakkan. "Kanda,
dinda mohon peliharalah Kumalasari dengan baik," kata Putri
Bungsu kepada Datu Awang Sukma." Pandangan Datu Awang Sukma
menerawang kosong ke angkasa. "Jika anak kita merindukan dinda, ambillah tujuh biji
kemiri, dan masukkan ke dalam bakul yang digoncang-goncangkan dan iringilah dengan
lantunan seruling. Pasti dinda akan segera datang menemuinya," ujar Putri Bungsu.
Putri Bungsu segera mengenakan selendangnya dan seketika
terbang ke kahyangan. Datu Awang Sukma menatap sedih
dan bersumpah untuk melarang anak keturunannya
memelihara ayam hitam yang dia anggap membawa
malapetaka.
HIKMAH :
Jika kita menginginkan sesuatu sebaiknya dengan cara yang baik dan halal. Kita
tidak boleh mencuri atau mengambil barang/harta milik orang lain karena suatu saat
kita akan mendapatkan balasannya.
kisah lain :

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Dongeng Rakyat: Saudagar jerami


Dahulu kala, ada seorang pemuda miskin yang bernama
Taro. Ia bekerja untuk ladang orang lain dan tinggal di
lumbung rumah majikannya. Suatu hari, Taro pergi ke kuil
untuk berdoa. "Wahai, Dewa Rahmat! Aku telah bekerja
dengan sungguh-sungguh, tapi kehidupanku tidak
berkercukupan". "Tolonglah aku agar hidup senang". Sejak
saat itu setiap selesai bekerja, Taro
Keesokan harinya ketika keluar dari pintu gerbang kuil,
Taro jatuh terjerembab. Ketika sadar ia sedang
menggenggam sebatang jerami. "Oh, jadi yang dimaksud
Dewa adalah jerami, ya? Apa jerami ini akan mendatangkan
kebahagiaan?", pikir Taro. Walaupun agak kecewa dengan
benda yang didapatkannya Taro lalu berjalan sambil
membawa jerami. Di tengah jalan ia menangkap dan
mengikatkan seekor lalat besar yang terbang dengan
ributnya mengelilingi Taro di jeraminya. Lalat tersebut
terbang berputar-putar pada jerami yang sudah
diikatkan pada
sebatang ranting. "Wah menarik ya", ujar
Taro. Saat itu lewat kereta yang diikuti para pengawal.
Di dalam kereta itu, seorang anak sedang duduk sambil
memperhatikan lalat Taro. "Aku ingin mainan itu."
Seorang pengawal datang mengha
mpiri Taro dan meminta mainan itu. "Silakan ambil", ujar Taro. Ibu anak tersebut
memberikan tiga buah jeruk sebagai rasa terima kasihnya kepada Taro.
"Wah, sebatang jerami bisa menjadi tiga buah jeruk", ujar Taro dalam hati. Ketika
meneruskan perjalanannya, terlihat seorang wanita yang sedang beristirahat dan sangat
kehausan. "Maaf, adakah tempat di dekat sini mata air ?", tanya wanita tadi. "Ada di kuil,
tetapi jaraknya masih jauh dari sini, kalau anda haus, ini kuberikan jerukku", kata Taro
sambil memberikan jeruknya kepada wanita itu. "Terima kasih, berkat engkau, aku
menjadi sehat dan segar kembali". Terimalah kain tenun ini sebagai rasa terima kasih
kami, ujar suami wanita itu. Dengan perasaan gembira, Taro berjalan sambil membawa
kain itu. Tak lama kemudian, lewat seorang samurai dengan kudanya. Ketika dekat Taro,
kuda samurai itu terjatuh dan tidak mampu bergerak lagi. "Aduh, padahal kita sedang
terburu-buru." Para pengawal berembuk, apa yang harus dilakukan terhadap kuda itu.
Melihat keadaan itu, Taro menawarkan diri untuk mengurus kuda itu. Sebagai gantinya
Taro memberikan segulung kain tenun yang ia dapatkan kepada para pengawal samurai itu.
Taro mengambil air dari sungai dan segera meminumkannya kepada kuda itu. Kemudian
dengan sangat gembira, Taro membawa kuda yang sudah sehat itu sambil membawa 2
gulung kain yang tersisa.
Ketika hari menjelang malam, Taro pergi ke rumah seorang petani untuk meminta
makanan ternak untuk kuda, dan sebagai gantinya ia
memberikan segulung kain yang dimilikinya. Petani itu
memandangi kain tenun yang indah itu, dan merasa amat
senang. Sebagai ucapan terima kasih petani itu menjamu
Taro makan malam dan mempersilakannya menginap di
rumahnya. Esok harinya, Taro mohon diri kepada petani itu
dan melanjutkan perjalanan dengan menunggang kudanya.
Tiba-tiba di depan sebuah rumah besar, orang-orang tampak sangat sibuk memindahkan
barang-barang. "Kalau ada kuda tentu sangat bermanfaat," pikir Taro. Kemudian taro
masuk ke halaman rumah dan bertanya apakah mereka membutuhkan kuda. Sang pemilik
rumah berkata, "Wah kuda yang bagus. Aku menginginkannya, tetapi aku saat ini tidak
mempunyai uang. Bagaimanan kalau ku ganti dengan sawahku ?". "Baik, uang kalau dipakai
segera habis, tetapi sawah bila digarap akan menghasilkan beras, Silakan kalau mau
ditukar", kata Taro.
"Bijaksana sekali kau anak muda. Bagaimana jika selama aku pergi ke negeri yang jauh, kau
tinggal disini untuk menjaganya ?", Tanya si pemilik rumah. "Baik, Terima kasih Tuan".
Sejak saat itu taro menjaga rumah itu sambil bekerja membersihkan rerumputan dan
menggarap sawah yang didapatkannya. Ketika musim gugur tiba, Taro memanen padinya
yang sangat banyak.
Semakin lama Taro semakin kaya. Karena kekayaannya berawal dari sebatang jerami, ia
diberi julukan "Saudagar Jerami". Para tetangganya yang kaya datang kepada
Taro dan meminta agar putri mereka dijadikan istri oleh
Taro. Tetapi akhirnya, Taro menikah dengan seorang
gadis dari desa tempat ia dilahirkan. Istrinya bekerja
dengan rajin membantu Taro. Merekapun dikaruniai
seorang anak yang lucu. Waktu terus berjalan, tetapi Si
pemilik rumah tidak pernah kembali lagi. Dengan
demikian, Taro hidup bahagia bersama keluarganya.


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Kumpulan Dongeng: Putri Tidur


Dahulu kala, terdapat sebuah negeri yang dipimpin oleh raja yang sangat adil dan
bijaksana. Rakyatnya makmur dan tercukupi semua kebutuhannya. Tapi ada satu yang
masih terasa kurang. Sang Raja belum dikaruniai keturunan. Setiap hari Raja dan
permaisuri selalu berdoa agar dikaruniai seorang anak. Akhirnya, doa Raja dan permaisuri
dikabulkan. Setelah 9 bulan mengandung, permaisuri melahirkan seorang anak wanita yang
cantik. Raja sangat bahagia, ia mengadakan pesta dan mengundang kerajaan sahabat
serta seluruh rakyatnya. Raja juga mengundang 7 penyihir baik untuk memberikan
mantera baiknya.
"Jadilah engkau putri yang baik hati", kata penyihir
pertama. "Jadilah engkau putri yang cantik", kata penyihir
kedua. "Jadilah engkau putri yang jujur dan anggun", kata
penyihir ketiga. "Jadilah engkau putri yang pandai
berdansa", kata penyihir keempat. "Jadilah engkau putri
yang panda menyanyi," kata penyihir keenam. Sebelum
penyihir ketujuh memberikan mantranya, tiba-tiba pintu istana
terbuka. Sang penyihir jahat masuk sambil berteriak, "Mengapa aku tidak diundang ke
pesta ini?".
Penyihir terakhir yang belum sempat memberikan mantranya sempat bersembunyi dibalik

tirai. "Karena aku tidak diundang, aku akan mengutuk anakmu. Penyihir tua yang jahat
segera mendekati tempat tidur sang putri sambil berkata,"Sang putri akan mati tertusuk
jarum pemintal benang, ha ha ha ha!..". Si penyihir jahat segera pergi setelah
mengeluarkan kutukannya.
Para undangan terkejut mendengar kutukan sang penyihir jahat itu. Raja dan permaisuri
menangis sedih. Pada saat itu, muncullah penyihir baik yang ketujuh, "Jangan khawatir,
aku bisa meringankan kutukan penyihir jahat. Sang putri tidak akan wafat, ia hanya akan
tertidur selama 100 tahun setelah terkena jarum pemintal benang, dan ia akan terbangun
kembali setelah seorang Pangeran datang padanya", ujar penyihir ketujuh. Setelah
kejadian itu, Raja segera memerintahkan agar semua alat pemintal benang yang ada di
negerinya segera dikumpulkan dan dibakar.
Enam belas tahun kemudian, sang putri telah tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik
dan baik hati. Tidak berapa lama Raja dan Permaisuri melakukan perjalanan ke luar negeri.
Sang Putri yang cantik tinggal di istana. Ia berjalan-jalan keluar istana. Ia masuk ke
dalam sebuah puri. Di dalam puri itu, ia melihat sebuah kamar yang belum pernah ia lihat
sebelumnya. Ia membuka pintu kamar tersebut dan ternyata di dalam
kamar itu, ia melihat seorang nenek sedang memintal
benang. Setelah berbicara dengan nenek tua, sang Putri
duduk di depan alat pemintal dan mulai memutar alat
pemintal itu. Ketika sedang asyik memutar alat pintal, tibatiba
jari sang Putri tertusuk jarum alat pemintal. Ia
menjerit kesakitan dan tersungkur di lantati. "Hi hi hi...
tamatlah riwayatmu!", kata sang nenek yang ternyata adalah si
penyihir jahat.
Hilangnya sang Putri dan istana membuat khawatir orang tuanya. Semua orang
diperintahkan untuk mencari sang Putri. Sang putri pun ditemukan. Tetapi ia dalam
keadaan tak sadarkan diri. "Anakku ! malang sekali nasibmu" ratap Raja. Tiba-tiba
datanglah penyihir muda yang baik hati. Katanya, "Jangan khawatir, Tuan Putri hanya akan
tertidur selama seratus tahun. Tapi, ia tidak akan sendirian. Aku akan menidurkan kalian
semua," lanjutnya sambil menebarkan sihirnya ke seisi istana. Kemudian, penyihir itu
menutup istana dengan semak berduri agar tak ada yang bisa masuk ke istana.
Seratus tahun yang panjang pun berlalu. Seorang pangeran dari negeri seberang
kebetulan lewat di istana yang tertutup semak berduri itu. Menurut cerita orang desa di
sekitar situ, istana itu dihuni oleh seekor naga yang mengerikan. Tentu saja Pangeran
tidak percaya begitu saja pada kabar itu. "Akan ku hancurkan naga itu,"
kata sang Pangeran. Pangeran pun pergi ke istana. Sesampai di
gerbang istana, Pangeran mengeluarkan pedangnya untuk
memotong semak belukar yang menghalangi jalan masuk.
Namun, setelah dipotong berkali-kali semak itu kembali
seperti semula. "Semak apa ini ?" kata Pangeran keheranan.
Tiba-tiba muncullah seorang penyihir muda yang baik hati.
"Pakailah pedang ini," katanya sambil memberikan sebuah yang
pangkalnya berkilauan.
Dengan pedangnya yang baru, Pangeran berhasil masuk ke istana. "Nah, itu dia menara
yang dijaga oleh naga." Pangeran segera menaiki menara itu. Penyihir jahat melihat
kejadian itu melalui bola kristalnya. "Akhirnya kau datang, Pangeran. Kau pun akan
terkena kutukan sihirku!" Penyihir jahat itu bergegas naik ke menara. Ia menghadang
sang Pangeran. "Hai Pangeran!, jika kau ingin masuk, kau harus mengalahkan aku terlebih
dahulu!" teriak si Penhyihir. Dalam sekejap, ia merubah dirinya menjadi seekor naga
raksasa yang menakutkan. Ia menyemburkan api yang panas.
Pangeran menghindar dari semburan api itu. Ia menangkis
sinar yang terpancar dari mulut naga itu dengan pedangnya.
Ketika mengenai pangkal pedang yang berkilau, sinar itu
memantul kembali dan mengenai mata sang naga raksasa.
Kemudian, dengan secepat kilat, Pangeran melemparkan
pedangnya ke arah leher sang naga. "Aaaa..!" Naga itu jatuh
terkapar di tanah, dan kembali
ke bentuk semula, lalu mati. Begitu tubuh penyihir tua itu lenyap, semak berduri yang
selama ini menutupi istana ikut lenyap. Di halaman istana, bunga-bunga mulai bermekaran
dan burung-burung berkicau riang. Pangeran terkesima melihat hal itu. Tiba-tiba penyihir
muda yang baik hati muncul di hadapan Pangeran.
"Pangeran, engkau telah berhasil menghapus kutukan atas istana ini. Sekarang pergilah ke
tempat sang Putri tidur," katanya. Pangeran menuju ke sebuah ruangan tempat sang Putri
tidur. Ia melihat seorang Putri yang cantik jelita dengan pipi semerah mawar
yang merekah. "Putri, bukalah matamu," katanya sambil
mengenggam tangan sang Putri. Pangeran mencium pipi sang
Putri. Pada saat itu juga, hilanglah kutukan sang Putri.
Setelah tertidur selama seratus tahun, sang Putri
terbangun dengan kebingungan. "Ah! apa yang terjadi?
Siapa kamu? Tanyanya. Lalu Pangeran menceritakan semua
kejadian yang telah terjadi pada sang Putri.
"Pangeran, kau telah mengalahkan naga yang menyeramkan. Terima kasih Pangeran," kata
sang Putri. Di aula istana, semua orang menunggu kedatangan sang Putri. Ketika melihat
sang Putri dalam keadaan sehat, Raja dan Permaisuri sangat bahagia. Mereka sangat
berterima kasih pada sang Pangeran yang gagah berani. Kemudian Pangerang
berkata, "Paduka Raja, hamba punya satu permohonan.
Hamba ingin menikah dengan sang Putri." Raja pun
menyetujuinya. Semua orang ikut bahagia mendengar hal
itu. Hari pernikahan sang Putri dan Pangeran pun tiba.
Orang berbondong-bondong datang dari seluruh pelosok
negeri untuk mengucapkan selamat. Tujuh penyihir yang
baik juga datang dengan membawa hadiah.

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Dongeng Anak: Putri Tandampalik


Dahulu, terdapat sebuah negeri yang bernama negeri Luwu,
yang terletak di pulau Sulawesi. Negeri Luwu dipimpin oleh
seorang raja yang bernama La Busatana Datu Maongge, sering
dipanggil Raja atau Datu Luwu. Karena sikapnya yang adil, arif
dan bijaksana, maka rakyatnya hidup makmur.
Sebagian besar pekerjaan rakyat Luwu adalah petani dan
nelayan. Datu Luwu mempunyai seorang anak perempuan yang
sangat cantik, namanya Putri Tandampalik. Kecantikan dan
perilakunya telah diketahui orang banyak. Termasuk di
antaranya Raja Bone yang tinggalnya sangat jauh dari Luwu.
Raja Bone ingin menikahkan anaknya dengan Putri Tandampalik. Ia mengutus beberapa
utusannya untuk menemui Datu Luwu untuk melamar Putri Tandampalik. Datu Luwu
menjadi bimbang, karena dalam adatnya, seorang gadis Luwu tidak dibenarkan menikah
dengan pemuda dari negeri lain. Tetapi, jika lamaran tersebut ditolak, ia khawatir akan
terjadi perang dan akan membuat rakyat menderita. Meskipun berat akibat yang akan
diterima, Datu Lawu memutuskan untuk menerima pinangan itu. "Biarlah aku dikutuk asal
rakyatku tidak menderita," pikir Datu Luwu.
Beberapa hari kemudian utusan Raja Bone tiba ke negeri Luwu. Mereka sangat sopan dan
ramah. Tidak ada iringan pasukan atau armada perang di pelabuhan, seperti yang
diperkirakan oleh Datu Luwu. Datu Luwu menerima utusan itu dengan ramah. Saat mereka
mengutarakan maksud kedatangannya, Datu Luwu belum bisa memberikan jawaban
menerima atau menolak lamaran tersebut. Utusan Raja Bone memahami dan mengerti
keputusan Datu Luwu. Mereka pun pulang kembali ke negerinya.
Keesokan harinya, terjadi kegaduhan di negeri Luwu. Putri Tandampalik jatuh sakit.
Sekujur tubuhnya mengeluarkan cairan kental yang berbau anyir dan sangat menjijikkan.
Para tabib istana mengatakan Putri Tandampalik terserang penyakit menular yang
berbahaya. Berita cepat tersebar. Rakyat negeri Luwu dirundung kesedihan. Datu Luwu
yang mereka hormati dan Putri Tandampalik yang mereka cintai sedang mendapat

musibah. Setelah berpikir dan menimbang-nimbang, Datu Luwu memutuskan untuk
mengasingkan anaknya. Karena banyak rakyat yang akan tertular
jika Putri Tandampalik tidak diasingkan ke daerah lain.
Keputusan itu dipilih Datu Luwu dengan berat hati. Putri
Tandampalik tidak berkecil hati atau marah pada
ayahandanya. Lalu ia pergi dengan perahu bersama
beberapa pengawal setianya. Sebelum pergi, Datu Luwu
memberikan sebuah keris pada Putri Tandampalik,
sebagai tanda bahwa ia tidak pernah melupakan apalagi
membuang anaknya.
Setelah berbulan-bulan berlayar tanpa tujuan, akhirnya mereka menemukan sebuah pulau.
Pulau itu berhawa sejuk dengan pepohonan yang tumbuh dengan subur. Seorang pengawal
menemukan buah Wajao saat pertama kali menginjakkan kakinya di tempat itu. "Pulau ini
kuberi nama Pulau Wajo," kata Putri Tandampalik. Sejak saat itu, Putri Tandampalik dan
pengikutnya memulai kehidupan baru. Mereka mulai dengan segala kesederhanaan. Mereka
terus bekerja keras, penuh dengan semangat dan gembira.
Pada suatu hari Putri Tandampalik duduk di tepi danau. Tiba-tiba seekor kerbau putih
menghampirinya. Kerbau bule itu menjilatinya dengan lembut. Semula, Putri Tandampalik
hendak mengusirnya. Tapi, hewan itu tampak jinak dan terus menjilatinya. Akhirnya ia
diamkan saja. Ajaib! Setelah berkali-kali dijilati, luka berair di tubuh Putri Tandampalik
hilang tanpa bekas. Kulitnya kembali halus dan bersih seperti semula. Putri Tandampalik
terharu dan bersyukur pada Tuhan, penyakitnya telah sembuh. "Sejak saat ini kuminta
kalian jangan menyembelih atau memakan kerbau bule, karena hewan ini telah membuatku
sembuh," kata Putri Tandampalik pada para pengawalnya. Permintaan Putri Tandampalik
itu langsung dipenuhi oleh semua orang di Pulau Wajo hingga sekarang. Kerbau bule yang
berada di Pulau Wajo dibiarkan hidup bebas dan beranak pinak.
Di suatu malam, Putri Tandampalik bermimpi didatangi oleh seorang pemuda yang tampan.
"Siapakah namamu dan mengapa putri secantik dirimu bisa berada di tempat seperti ini?"
tanya pemuda itu dengan lembut. Lalu Putri Tandampalik menceritakan semuanya. "Wahai
pemuda, siapa dirimu dan dari mana asalmu ?" tanya Putri Tandampalik. Pemuda itu tidak
menjawab, tapi justru balik bertanya, "Putri Tandampalik maukah engkau menjadi
istriku?" Sebelum Putri Tandampalik sempat menjawab, ia terbangun dari tidurnya. Putri
Tandampalik merasa mimpinya merupakan tanda baik baginya.
Sementara, nun jauh di Bone, Putra Mahkota Kerajaan Bone sedang asyik berburu. Ia
ditemani oleh Anre Guru Pakanyareng Panglima Kerajaan Bone dan beberapa pengawalnya.
Saking asyiknya berburu, Putra Mahkota tidak sadar kalau ia sudah terpisah dari
rombongan dan tersesat di hutan. Malam semakin larut, Putra Mahkota tidak dapat
memejamkan matanya. Suara-suara hewan malam membuatnya terus terjaga dan gelisah.
Di kejauhan, ia melihat seberkas cahaya. Ia memberanikan diri
untuk mencari dari mana asal cahaya itu. Ternyata cahaya itu
berasal dari sebuah perkampungan yang letaknya sangat
jauh. Sesampainya di sana, Putra Mahkota memasuki sebuah
rumah yang nampak kosong. Betapa terkejutnya ia ketika
melihat seorang gadis cantik sedang menjerang air di dalam
rumah itu. Gadis cantik itu tidak lain adalah Putri
Tandampalik.
"Mungkinkah ada bidadari di tempat asing begini ?" pikir putra Mahkota. Merasa ada yang
mengawasi, Putri Tandampalik menoleh. Sang Putri tergagap," rasanya dialah pemuda yang
ada dalam mimpiku," pikirnya. Kemudian mereka berdua berkenalan. Dalam waktu singkat,
keduanya sudah akrab. Putri Tandampalik merasa pemuda yang kini berada di hadapannya
adalah seorang pemuda yang halus tutur bahasanya. Meski ia seorang calon raja, ia sangat
sopan dan rendah hati. Sebaliknya, bagi Putra Mahkota, Putri Tandampalik adalah seorang
gadis yang anggun tetapi tidak sombong. Kecantikan dan penampilannya yang sederhana
membuat Putra Mahkota kagum dan langsung menaruh hati.
Setelah beberapa hari tinggal di desa tersebut, Putra Mahkota kembali ke negerinya
karena banyak kewajiban yang harus diselesaikan di Istana Bone. Sejak berpisah dengan
Putri Tandampalik, ingatan sang Pangeran selalu tertuju pada wajah cantik itu. Ingin
rasanya Putra Mahkota tinggal di Pulau Wajo. Anre Guru Pakanyareng, Panglima Perang
Kerajaan Bone yang ikut serta menemani Putra Mahkota berburu, mengetahui apa yang
dirasakan oleh anak rajanya itu. Anre Guru Pakanyareng sering melihat Putra Mahkota
duduk berlama-lama di tepi telaga. Maka Anre Guru Pakanyareng segera menghadap Raja
Bone dan menceritakan semua kejadian yang mereka alami di pulau Wajo. "Hamba
mengusulkan Paduka segera melamar Putri Tandampalik," kata Anre Guru Pakanyareng.
Raja Bone setuju dan segera mengirim utusan untuk meminang Putri Tandampalik.
Ketika utusan Raja Bone tiba di Pulau Wajo, Putri Tandampalik tidak langsung menerima
lamaran Putra Mahkota. Ia hanya memberikan keris pusaka Kerajaan Luwu yang diberikan
ayahandanya ketika ia diasingkan. Putri Tandampalik mengatakan bila keris itu diterima
dengan baik oleh Datu Luwu berarti pinangan diterima. Putra Mahkota segera berangkat
ke Kerajaan Luwu sendirian. Perjalanan berhari-hari dijalani oleh Putra Mahkota dengan
penuh semangat. Setelah sampai di Kerajaan Luwu, Putra Mahkota menceritakan
pertemuannya dengan Putri Tandampalik dan menyerahkan keris pusaka itu pada Datu
Luwu.
Datu Luwu dan permaisuri sangat gembira mendengar berita baik tersebut. Datu Luwu
merasa Putra Mahkota adalah seorang pemuda yang gigih, bertutur kata lembut, sopan
dan penuh semangat. Maka ia pun menerima keris pusaka itu dengan tulus. Tanpa
menunggu lama, Datu Luwu dan permaisuri datang mengunjungi pulau Wajo untuk bertemu
dengan anaknya. Pertemuan Datu Luwu dan anak tunggal kesayangannya
sangat mengharukan. Datu Luwu merasa bersalah telah
mengasingkan anaknya. Tetapi sebaliknya, Putri
Tandampalik bersyukur karena rakyat Luwu terhindar
dari penyakit menular yang dideritanya. Akhirnya Putri
Tandampalik menikah dengan Putra Mahkota Bone dan
dilangsungkan di Pulau Wajo. Beberapa tahun kemudian,
Putra Mahkota naik tahta. Beliau menjadi raja yang arif
dan bijaksana.
lainnya

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»