Showing posts with label Itik. Show all posts
Showing posts with label Itik. Show all posts

Friday, November 6, 2009

Dongeng Anak: Si kancil dan seekor siput


Angin yang berhembus semilir-semilir membuat penghuni hutan mengantuk. Begitu juga
dengan Si Kancil. Untuk mengusir rasa kantuknya ia berjalan-jalan di hutan sambil
membusungkan dadanya. Sambil berjalan ia berkata, "Siapa yang tak kenal Kancil. Si
pintar, si cerdik dan si pemberani. Setiap masalah pasti selesai olehku". Ketika sampai di sungai, ia segera minum untuk menghilangkan rasa hausnya. Air yang begitu jernih
membuat Kancil dapat berkaca. Ia berkata-kata sendirian. "Buaya, Gajah, Harimau
semuanya binatang bodoh, jika berhadapan denganku mereka dapat aku perdaya".
Si Kancil tidak tahu kalau ia dari tadi sedang diperhatikan
oleh seekor Siput yang sedang duduk di bongkahan batu
yang besar. Si Siput berkata, "Hei Kancil, kau asyik sekali
berbicara sendirian. Ada apa? Kamu sedang bergembira?".
Kancil mencari-cari sumber suara itu. Akhirnya ia
menemukan letak Si Siput.
"Rupanya sudah lama kau memperhatikanku ya?". Siput
yang kecil dan imut-imut. Eh bukan!. "Kamu memang kecil
tapi tidak imut-imut, melainkan jelek bagai kotoran
ayam". Ujar Si Kancil. Siput terkejut mendengar
ucapan
Si Kancil yang telah menghina dan membuatnya jengkel.
Lalu Siputpun berkata, "Hai Kancil!, kamu memang cerdik
dan pemberani karena itu aku
menantangmu lomba adu cepat". Akhirnya mereka setuju perlombaan dilakukan minggu
depan.
Setelah Si Kancil pergi, Siput segera memanggil dan
mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong
teman-temannya agar waktu perlombaan nanti semuanya
harus berada di jalur lomba. "Jangan lupa, kalian
bersembunyi di balik bongkahan batu, dan salah satu
harus segera muncul jika Si Kancil memanggil, dengan
begitu kita selalu berada di depan Si Kancil," kata Siput.
Hari yang dinanti tiba. Si Kancil datang dengan sombongnya, merasa ia pasti akan sangat
mudah memenangkan perlombaan ini. Siput mempersilahkan Kancil untuk berlari duluan
dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana ia sampai. Perlombaan dimulai.
Kancil berjalan santai, sedang Siput segera menyelam ke dalam air. Setelah
beberapa langkah, Kancil memanggil Siput. Tiba-tiba
Siput muncul di depan Kancil sambil berseru, "Hai
Kancil! Aku sudah sampai sini." Kancil terheran-heran,
segera ia mempercepat langkahnya. Kemudian ia
memanggil Si Siput lagi. Ternyata Siput juga sudah
berada di depannya. Akhirnya Si Kancil berlari, tetapi
tiap ia panggil Si Siput, ia selalu muncul di depan Kancil.
Keringatnya bercucuran, kakinya
terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Ketika hampir finish, ia memanggil Siput,
tetapi tidak ada jawaban. Kancil berpikir Siput sudah tertinggal jauh dan ia akan menjadi
pemenang perlombaan.
Si Kancil berhenti berlari, ia berjalan santai sambil beristirahat. Dengan senyum sinis
Kancil berkata, "Kancil memang tiada duanya." Kancil
dikagetkan ketika ia mendengar suara Siput yang sudah
duduk di atas batu besar. "Oh kasihan sekali kau Kancil.
Kelihatannya sangat lelah, Capai ya berlari?". Ejek
Siput. "Tidak mungkin!", "Bagaimana kamu bisa lebih
dulu sampai, padahal aku berlari sangat kencang", seru
Si Kancil.
"Sudahlah akui saja kekalahanmu," ujar Siput. Kancil masih heran dan tak percaya kalau a
dikalahkan oleh binatang yang lebih kecil darinya. Kancil menundukkan kepala dan
mengakui kekalahannya. "Sudahlah tidak usah sedih, aku tidak minta hadiah kok. Aku
hanya ingin kamu ingat satu hal, janganlah sombong dengan kepandaian dan kecerdikanmu
dalam menyelesaikan setiap masalah, kamu harus mengakui bahwa semua binatang
mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, jadi jangan suka menghina dan
menyepelekan mereka", ujar Siput. Siput segera menyelam ke dalam sungai. Tinggallah Si
Kancil dengan rasa menyesal dan malu.
HIKMAH :
Janganlah suka menyombongkan diri dan menyepelekan orang lain, walaupun kita
memang cerdas dan pandai.


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Cerita rakyat: Tukang sepatu dan liliput

Dahulu kala, di sebuah kota tinggal seorang Kakek dan Nenek pembuat sepatu. Mereka
sangat baik hati. Si kakek yang membuat sepatu sedangkan nenek yang menjualnya. Uang
yang didapat dari setiap sepatu yang terjual selalu dibelikan makanan yang banyak untuk
dibagikan dan disantap oleh orang-orang jompo yang miskin dan anak kecil yang sudah
tidak mempunyai orangtua. Karena itu walau sudah membanting tulang, uang mereka selalu
habis. Karena uang mereka sudah habis, dengan kulit bahan sepatu yang tersisa, kakek
membuat sepatu berwarna merah. Kakek berkata kepada nenek, Kalau sepatu ini terjual,
kita bisa membeli makanan untuk Hari Raya nanti.
Tak lama setelah itu, lewatlah seorang gadis kecil yang tak
bersepatu di depan toko mereka. Kasihan sekali gadis itu !
Ditengah cuaca dingin seperti ini tidak bersepatu. Akhirnya
mereka memberikan sepatu berwarna merah tersebut kepada
gadis kecil itu.
Apa boleh buat, Tuhan pasti akan menolong kita, kata si kakek. Malam tiba, merekapun
tertidur dengan nyenyaknya. Saat itu terjadi kejadian aneh. Dari hutan muncul kurcacikurcaci
mengangkut kulit sepatu, membawanya ke rumah si kakek kemudian membuatnya
menjadi sepasang sepatu yang sangat bagus. Ketika sudah selesai mereka kembali ke
hutan.
Keesokan paginya kakek sangat terkejut melihat ada sepasang
sepatu yang sangat hebat.
Sepatu itu terjual dengan harga mahal. Dengan hasil penjualan sepatu itu mereka
menyiapkan makanan dan banyak hadiah untuk dibagikan kepada anak-anak kecil pada Hari
Raya. Ini semua rahmat dari Yang Maha Kuasa.
Malam berikutnya, terdengar suara-suara diruang kerja kakek. Kakek dan nenek lalu
mengintip, dan melihat para kurcaci yang tidak mengenakan pakaian sedang membuat
sepatu. Wow, pekik si kakek. Ternyata yang membuatkan sepatu untuk kita adalah para
kurcaci itu. Mereka pasti kedinginan karena tidak mengenakan pakaian, lanjut si nenek.
Aku akan membuatkan pakaian untuk mereka sebagai tanda terima kasih. Kemudian nenek
memotong kain, dan membuatkan baju untuk para kurcaci itu. Sedangkan kakek tidak
tinggal diam. Ia pun membuatkan sepatu-sepatu mungil untup para kurcaci. Setelah
selesai mereka menjajarkan sepatu dan baju para kurcaci di ruang kerjanya. Mereka juga
menata meja makan, menyiapkan makanan dan kue yang lezat di atas meja.
Saat tengah malam, para kurcaci berdatangan. Betapa terkejutnya mereka melihat begitu
banyaknya makanan dan hadiah di ruang kerja kakek. Wow, pakaian yang indah !. Mereka
segera mengenakan pakaian dan sepatu yang sengaja telah disiapkan kakek dan nenek.
Setelah selesai menyantap makanan, mereka menari-nari dengan riang gembira. Hari-hari
berikutnya para kurcaci tidak pernah datang kembali.
Tetapi sejak saat itu, sepatu-sepatu yang dibuat Kakek selalu laris terjual. Sehingga
walaupun mereka selalu memberikan makan kepada orang-orang miskin dan anak yatim
piatu, uang mereka masih tersisa untuk ditabung. Setelah kejadian itu semua, Kakek dan
dan nenek hidup bahagia sampai akhir hayat mereka.


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Cerita rakyat: Si Dayang bandir

Dahulu di propinsi Sumatera Utara terdapat dua kerajaan. Kerajaan itu dikenal dengan
nama Kerajaan Timur dan Kerajaan Barat. Pada suatu ketika, raja yang berkuasa di
Kerajaan Timur menikah dengan adik perempuan dari raja yang berkuasa di Kerajaan
Barat. Beberapa tahun kemudian lahir seorang bayi perempuan yang diberi nama Si
Dayang Bandir, tujuh tahun kemudian lahir seorang anak laki-laki yang bernama Sandean
Raja. baca kelanjutan ceritanya Ketika masih kecil, ayah Si Dayang Bandir dan Sandean Raja meninggal dunia.
Dengan meninggalnya raja di Kerajaan Timur, maka tahta Kerajaan Timur menjadi kosong.
Berhubung Sandean Raja masih kecil dan belum bisa menggantikan kedudukan ayahnya
sebagai raja, maka dalam sidang istana kerajaan menunjuk Paman Kareang untuk
mengendalikan pemerintahan kerajaan.
Si Dayang Bandir mempunyai akal untuk menyelamatkan
benda-benda pusaka agar jangan sampai jatuh ke tangan
pamannya yang hanya menggantikan pemerintahan
sementara. Hmm.. benda-benda pusaka ini harus
kuselamatkan agar jangan sampai jatuh di tangan pamanku,
kelak adik Sandean Raja lah yang berhak atas benda-benda
pusaka ini, gumam Si Dayang Bandir.
Tidak berapa lama, Paman Kareang mengetahui benda-benda pusaka peninggalan raja
telah disimpan Si Dayang Bandir. Ia mendesak Si Dayang Bandir agar menyerahkan
benda-benda itu. Awas! Kalau benda-benda itu tidak diserahkan padaku, keselamatan mu
akan

terancam! Itulah ancaman Paman Kareang kepada Si Dayang Bandir. Namun Si
Dayang Bandir tetap tidak mau menyerahkan benda-benda pusaka itu.
Kekesalan Paman Kareang menyebabkan Si Dayang Bandir
dan Sandean Raja dibuang ke hutan. Sesampainya di hutan,
Paman Kareang mengikat Si Dayang Bandir di atas sebatang
pohon sehingga tidak dapat dijangkau adiknya, Sandean
Raja. Sandean Raja menangis tak henti-henti sampai
kehabisan air mata. Sandean Raja mencoba membebaskan
kakaknya. Tapi ia tidak berhasil memanjat pohon tersebut,
setiap mencoba ia pun jatuh. Tubuhny
a menjadi tergores dan luka-luka. Biarlah kekejaman paman ini kutanggung sendiri, kata
Si Dayang Bandir lemah. Bila kau lapar, makanlah pucuk-pucuk daun yang berada di
sekitarmu, ucap Si Dayang Bandir, kepada adiknya yang kelaparan.
Setelah beberapa hari terikat di batang pohon, akhirnya Si Dayang Bandir tampak mulai
lemas dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Begitu kejam pamanku! umpat
Sandean Raja. Ia pun hidup seorang diri di hutan selama beberapa tahun hingga ia
menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa. Selama di hutan, ia selalu ditemani roh Si
Dayang Bandir. Ku harap kau segera menghadap Raja Sorma, bisik halus Roh Si Dayang
Bandir, kepada Sandean Raja. Raja Sorma adalah adik kandung dari Ibu Sandean Raja.
Raja Sorma tidak kejam seperti Paman Kareang yang saat ini sudah menjadi raja di
Kerajaan Timur.
Sandean Raja berhasil keluar dari hutan dan segera
menuju ke wilayah Kerajaan Barat untuk menghadap Raja
Sorma. Ampun Sri Baginda Raja Sorma. Hamba adalah
Sandean Raja. Putra Mahkota Kerajaan Timur, kata
Sandean Raja. Raja Sorma sangat terkejut dengan ucapan
Sandean Raja karena ia mendengar bahwa Sandean Raja
dan Si Dayang Bandir telah meninggal dunia. Untuk
membuktikan bahwa Sandean Raja benar-benar
keponakannya, Sandean Raja diuji
memindahkan sebatang pohon hidup dari hutan ke Istana. Ujian selanjutnya, Sandean
Raja diharuskan menebas sebidang hutan untuk dijadikan perladangan. Pekerjaan itu
diselesaikan Sandean Raja dengan baik. Selanjutnya, Sandean Raja diperintahkan untuk
membangun istana besar yang disebut Rumah Bolon dan ternyata berhasil dan selesai
dalam waktu tiga hari.
Raja Sorma belum mau mengakui Sandean Raja sebagai keponakannya sebelum menempuh
ujian terakhir. Yaitu, menunjuk seorang puteri raja di antara puluhan gadis di sebuah
ruang yang gelap gulita. Sandean Raja merasa khawatir kalau ujian yang terakhir ini ia
tidak berhasil. Jangan khawatir, aku akan membantumu, bisik roh Si Dayang Bandir.
Akhirnya Sandean Raja berhasil memegang kepala puteri raja yang sedang bersimpuh.
Atas keberhasilannya, Sandean Raja diakui sebagai keponakan Raja Sorma dan dinikahkan
dengan puterinya.
Setahun kemudian, Sandean Raja bersama prajurit
Kerajaan Barat menyerang Kerajaan Timur yang dikuasai
oleh paman Raja Kareang. Dalam waktu yang tidak lama,
Kerajaan Timur berhasil ditaklukkan dan Raja Kareang
terbunuh oleh Sandean Raja. Kerajaan Timur akhirnya di
kuasai oleh Sandean Raja. Dan akhirnya Sandean Raja
dinobatkan menjadi raja Kerajaan Timur dan hidup bahagia
bersama istri dan rakyatnya.
HIKMAH :
Untuk membuktikan kebenaran diperlukan ujian yang keras. Hanya orang-orang yang
bersemangat, sabar dan besar hatilah yang dapat melewati ujian seberat apapun.

Tukang Sepatu dan liliput

Dahulu kala, di sebuah kota tinggal seorang Kakek dan Nenek pembuat sepatu. Mereka
sangat baik hati. Si kakek yang membuat sepatu sedangkan nenek yang menjualnya. Uang
yang didapat dari setiap sepatu yang terjual selalu dibelikan makanan yang banyak untuk
dibagikan dan disantap oleh orang-orang jompo yang miskin dan anak kecil yang sudah
tidak mempunyai orangtua. Karena itu walau sudah membanting tulang, uang mereka selalu
habis. Karena uang mereka sudah habis, dengan kulit bahan sepatu yang tersisa, kakek
membuat sepatu berwarna merah. Kakek berkata kepada nenek, Kalau sepatu ini terjual,
kita bisa membeli makanan untuk Hari Raya nanti.
Tak lama setelah itu, lewatlah seorang gadis kecil yang tak
bersepatu di depan toko mereka. Kasihan sekali gadis itu !
Ditengah cuaca dingin seperti ini tidak bersepatu. Akhirnya
mereka memberikan sepatu berwarna merah tersebut kepada
gadis kecil itu.
Apa boleh buat, Tuhan pasti akan menolong kita, kata si kakek. Malam tiba, merekapun
tertidur dengan nyenyaknya. Saat itu terjadi kejadian aneh. Dari hutan muncul kurcacikurcaci
mengangkut kulit sepatu, membawanya ke rumah si kakek kemudian membuatnya
menjadi sepasang sepatu yang sangat bagus. Ketika sudah selesai mereka kembali ke
hutan.
Keesokan paginya kakek sangat terkejut melihat ada sepasang sepatu yang sangat hebat.
Sepatu itu terjual dengan harga mahal. Dengan hasil penjualan sepatu itu mereka
menyiapkan makanan dan banyak hadiah untuk dibagikan kepada anak-anak kecil pada Hari
Raya. Ini semua rahmat dari Yang Maha Kuasa.
Malam berikutnya, terdengar suara-suara diruang kerja kakek. Kakek dan nenek lalu
mengintip, dan melihat para kurcaci yang tidak mengenakan pakaian sedang membuat
sepatu. Wow, pekik si kakek. Ternyata yang membuatkan sepatu untuk kita adalah para
kurcaci itu. Mereka pasti kedinginan karena tidak mengenakan pakaian, lanjut si nenek.
Aku akan membuatkan pakaian untuk mereka sebagai tanda terima kasih. Kemudian nenek
memotong kain, dan membuatkan baju untuk para kurcaci itu. Sedangkan kakek tidak
tinggal diam. Ia pun membuatkan sepatu-sepatu mungil untup para kurcaci. Setelah
selesai mereka menjajarkan sepatu dan baju para kurcaci di ruang kerjanya. Mereka juga
menata meja makan, menyiapkan makanan dan kue yang lezat di atas meja.
Saat tengah malam, para kurcaci berdatangan. Betapa terkejutnya mereka melihat begitu
banyaknya makanan dan hadiah di ruang kerja kakek. Wow, pakaian yang indah !. Mereka
segera mengenakan pakaian dan sepatu yang sengaja telah disiapkan kakek dan nenek.
Setelah selesai menyantap makanan, mereka menari-nari dengan riang gembira. Hari-hari
berikutnya para kurcaci tidak pernah datang kembali.
Tetapi sejak saat itu, sepatu-sepatu yang dibuat Kakek selalu laris terjual. Sehingga
walaupun mereka selalu memberikan makan kepada orang-orang miskin dan anak yatim
piatu, uang mereka masih tersisa untuk ditabung. Setelah kejadian itu semua, Kakek dan
dan nenek hidup bahagia sampai akhir hayat mereka.


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Dongeng Anak: Timun Mas


Mbok Sirni namanya, ia seorang janda yang menginginkan seorang anak agar dapat
membantunya bekerja. Suatu hari ia didatangi oleh raksasa yang ingin memberi seorang
anak dengan syarat apabila anak itu berusia enam tahun harus diserahkan ke
raksasa itu untuk disantap. Mbok Sirnipun setuju.

Raksasa memberinya biji mentimun agar ditanam dan
dirawat. Setelah dua minggu diantara buah ketimun
yang ditanamnya ada satu yang paling besar dan
berkilau seperti emas. Kemudian Mbok Sirni
membelah buah itu dengan hati-hati. Ternyata isinya
seorang bayi cantik yang diberi nama Timun Emas.
Semakin hari Timun Emas tumbuh menjadi gadis jelita. Suatu hari datanglah raksasa
untuk menagih janji. Mbok Sirni amat takut kehilangan Timun Emas, dia mengulur janji
agar raksasa datang 2 tahun lagi, karena semakin dewasa, semakin enak untuk disantap,
raksasa pun setuju. Mbok Sirnipun semakin sayang pada Timun Emas, setiap kali ia
teringat akan janinya hatinyapun menjadi cemas dan sedih.
Suatu malam Mbok Sirni bermimpi, agar anaknya
selamat ia harus menemui petapa di Gunung Gundul.
Paginya ia langsung pergi. Di Gunung Gundul ia bertemu
seorang
petapa yang memberinya 4 buah bungkusan
kecil, yaitu biji mentimun, jarum, garam, dan terasi
sebagai penangkal. Sesampainya di rumah diberikannya
4 bungkusan tadi kepada Timun Emas, dan disuruhnya
Timun Emas berdoa.
Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. Timun Emaspun disuruh keluar lewat
pintu belakang oleh Mbok Sirni. Raksasapun mengejarnya. Timun Emaspun teringat akan
bungkusannya, maka ditebarnya biji mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang
mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun memakannya. Tapi buah timun itu malah
menambah tenaga raksasa. Lalu Timun Emas menaburkan jarum, dalam sekejap tumbuhlah
pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah
raksasa terus mengejar. Timun Emaspun membuka bingkisan garam
dan ditaburkannya. Seketika hutanpun menjadi lautan luas.
Dengan kesakitan raksasa dapat melewatinya. Yang
terakhir Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika
terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, akhirnya
raksasapun mati. "Terimakasih Tuhan, Engkau telah
melindungi hambamu ini" Timun Emas mengucap syukur.
Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sirni hidup bahagia dan
damai.

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Wednesday, October 28, 2009

Dongeng Anak: Gonbe dan 100 Itik


Di sebuah desa, tinggal seorang ayah dengan anak laki-lakinya yang bernama Gonbe.
Mereka hidup dari berburu itik. Setiap berburu, ayah Gonbe hanya menembak satu ekor
itik saja. Melihat hal tersebut Gonbe bertanya pada ayahnya, "Kenapa kita hanya
menembak satu ekor saja Yah?", "Karena kalau kita membunuh semua itik, nanti itik
tersebut akan habis dan tidak bisa berkembang biak, selain itu kalau kita membunuh itik
sembarangan kita bisa mendapat hukuman."
Beberapa bulan kemudian, ayah Gonbe jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Sejak
saat itu, Gonbe berburu itik sendirian dan menjualnya. Lama kelamaan, Gonbe bosan
dengan pekerjaannya, ia mendapatkan sebuah ide. Keesokan hariya, Gonbe datang ke
danau yang sudah menjadi es. Ia menebarkan makanan yang sangat banyak
untuk itik-itik. Tak berapa lama, itik-itik mulai
berdatangan dan memakan makanan yang tersebar.
Karena kekenyangan, mereka tertidur. Gonbe segera
mengikat itik-itik menjadi
satu. Ia mengikat 100 itik
sekaligus. Ketika itik ke seratus akan di ikatnya, tibatiba
itik-itik tersebut terbangun dan segera terbang.
Gonbe yang takut kehilangan tangkapannya, segera
memegang tali yang diikatkannya ke itik tersebut. Karena
banyaknya itik yang diikat, Gonbe terangkat dan terbawa ke atas. Gonbe terus terbang
terbawa melewati awan. Di awan tersebut Ayah dan anak halilintar sedang tidur dengan
nyenyak. "Dugg!", kaki Gonbe tersandung badan ayah halilintar. Ayah halilintar terbangun
sambil marah-marah, ia segera mengeluarkan halilintarnya yang kemudian menyambar talitali
yang mengikat itik-itik itu."
Gonbe jatuh ke dalam laut! Ia jatuh tepat di atas kepala Naga laut yang berada di
Kerajaannya. Naga laut menjadi marah dan mulai memutar-mutar ekornya, lalu
memukulkannya ke Gonbe. Gonbe terbang lagi dari dalam laut. Akhirnya Gonbe jatuh
ke tanah dengan kecepatan tinggi. Akhirnya Gonbe jatuh ke
atap jerami rumah seorang pembuat payung. "Kamu tidak
apa-apa?", Tanya si pembuat payung sambil menolong
Gonbe. "Maaf atap anda jadi rusak. Berilah pekerjaan pada
saya untuk mengganti kerugian anda". "Kebetulan, aku
memang sedang kekurangan tenaga pembantu", kata
pembuat payung.
Sejak itu Gonbe menjadi rajin membuat payung. Suatu hari,
ketika sedang mengeringkan payung di halaman, datang
angin yang sangat kencang. Karena takut payungnya
terbang, Gonbe segera menangkap payung tersebut. Tetapi
payung tersebut terus naik ke atas bersama Gonbe. Dengan
tangan gemetaran Gonbe terus memegang payung sambil
terus terbang dengan payungn
ya hingga melewati beberapa kota. Payung tersebut akhirnya robek karena tersangkut
menara dan pohon-pohon. Gonbe pun jatuh. Untungnya ia jatuh tepat di sebuah danau.
Gonbe merasa lega. Tidak berapa lama tiba-tiba kepala Gonbe di patuk oleh sekawanan
hewan. "Lho ini kan itik-itik yang aku ikat dengan tali. Ternyata benar ya, kita tidak boleh
serakah menangkap sekaligus banyak." Akhirnya Gonbe melepaskan tali-tali yang mengikat
kaki-kaki itik tersebut dan membiarkan mereka terbang dengan bebas.
HIKMAH :
Kita tidak boleh menjadi orang yang tamak dan serakah serta kikir. Cerita di atas
menggambarkan adanya hukuman bagi orang yang tamak serta melanggar ketentuan
yang sudah ada.
Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Baca Selengkapnya »»