Showing posts with label Kera. Show all posts
Showing posts with label Kera. Show all posts

Monday, November 9, 2009

Cerita Rakyat: Karang Bolong

Beberapa abad yang lalu tersebutlah Kesultanan
Kartasura. Kesultanan sedang dilanda kesedihan yang
mendalam karena permaisuri tercinta sedang sakit keras.
Pangeran sudah berkali-kali memanggil tabib untuk
mengobati sang permaisuri, tapi tak satupun yang dapat
mengobati penyakitnya. Sehingga hari demi hari, tubuh
sang permaisuri menjadi kurus kering seperti tulang
terbalutkan kulit.
Kecemasan melanda rakyat kesultanan Kartasura.
Roda pemerintahan menjadi tidak berjalansebagaimana mestinya. "Hamba sarankan agar Tuanku mencari tempat yang sepi untuk
memohon kepada Sang Maha Agung agar mendapat petunjuk guna kesembuhan
permaisuri," kata penasehat istana.
Tidak berapa lama, Pangeran Kartasura melaksanakan tapanya. Godaan-godaan yang
dialaminya dapat dilaluinya. Hingga pada suatu malam terdengar suara gaib. "Hentikanlah
semedimu. Ambillah bunga karang di Pantai Selatan, dengan bunga karang itulah,
permaisuri akan sembuh." Kemudian, Pangeran Kartasura segera pulang ke istana dan
menanyakan hal suara gaib tersebut pada penasehatnya. "Pantai selatan itu sangat luas.
Namun hamba yakin tempat yang dimaksud suara gaib itu adalah wilayah Karang Bolong, di
sana banyak terdapat gua karang yang di dalamnya tumbuh bunga karang," kata penasehat
istana dengan yakin.
Keesokannya, Pangeran Kartasura menugaskan Adipati Surti
untuk mengambil bunga karang tersebut. Adipati Surti
memilih dua orang pengiring setianya yang bernama Sanglar
dan Sanglur. Setelah beberapa hari berjalan, akhirnya

mereka tiba di karang bolong. Di dalamnya terdapat sebuah
gua. Adipati Surti segera melakukan tapanya di dalam gua
tersebut. Setelah beberapa hari, Adipati Surti mendengar suara
seseorang. "Hentikan semedimu. Aku akan mengabulkan permintaanmu, tapi harus kau
penuhi dahulu persyaratanku." Adipati Surti membuka matanya, dan melihat seorang
gadis cantik seperti Dewi dari kahyangan di hadapannya. Sang gadis cantik tersebut
bernama Suryawati. Ia adalah abdi Nyi Loro Kidul yang menguasai Laut Selatan.
Syarat yang diajukan Suryawati, Adipati harus bersedia menetap di Pantai Selatan
bersama Suryawati. Setelah lama berpikir, Adipati Surti
menyanggupi syarat Suryawati. Tak lama setelah itu,
Suryawati mengulurkan tangannya, mengajak Adipati Surti
untuk menunjukkan tempat bunga karang. Ketika menerima
uluran tangan Suryawati, Adipati Surti merasa raga halusnya
saja yang terbang mengikuti Suryawati, sedang raga
kasarnya tetap pada posisinya bersemedi. "Itulah
bunga karang yang dapat menyembuhkan Permaisuri," kata Suryawati seraya menunjuk
pada sarang burung walet. Jika diolah, akan menjadi ramuan yang luar biasa khasiatnya.
Adipati Surti segera mengambil sarang burung walet cukup banyak. Setelah itu, ia
kembali ke tempat bersemedi. Raga halusnya kembali masuk ke raga kasarnya.
Setelah mendapatkan bunga karang, Adipati Surti mengajak kedua pengiringnya kembali
ke Kartasura. Pangeran Kartasura sangat gembira atas keberhasilan Adipati Surti. "Cepat
buatkan ramuan obatnya," perintah Pangeran Kartasura pada pada abdinya. Ternyata,
setelah beberapa hari meminum ramuan sarang burung walet, Permaisuri menjadi sehat
dan segar seperti sedia kala. Suasana Kesultanan Kartasura menjadi ceria kembali. Di
tengah kegembiraan tersebut, Adipati Surti teringat janjinya pada Suryawati. Ia tidak
mau mengingkari janji.
Ia pun mohon diri pada Pangeran Kartasura dengan alasan
untuk menjaga dan mendiami karang bolong yang di
dalamnya banyak sarang burung walet. Kepergian Adipati
Surti diiringi isak tangis para abdi istana, karena Adipati
Surti adalah seorang yang baik dan rendah hati. Adipati
Surti mengajak kedua pengiringnya untuk pergi
bersamanya. Setelah berpikir beberapa saat, Sanglar dan
Sanglur memutuskan untuk ikut bersama Adipati Surti.
Setibanya di Karang Bolong, mereka membuat sebuah rumah sederhana. Setelah selesai,
Adipati Surti bersemedi. Tidak berapa lama, ia memisahkan raga halus dari raga
kasarnya. "Aku kembali untuk memenuhi janjiku," kata Adipati Surti, setelah melihat
Suryawati berada di hadapannya. Kemudian, Adipati Surti dan Suryawati melangsungkan
pernikahan mereka. Mereka hidup bahagia di Karang Bolong. Di sana mereka mendapatkan
penghasilan yang tinggi dari hasil sarang burung walet yang semakin hari semakin banyak
dicari orang.

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Cerita Rakyat: Landak yang malang

Di hutan yang rindang, hidup seekor anak landak yang merasa kesepian. Landi namanya.
Landi tidak mempunyai teman karena teman-temannya takut tertusuk duri tajam yang ada
di badannya. "Maaf Landi, kami ingin bermain denganmu, tapi durimu sangat tajam," kata Cici dan teman-temannya. Tinggallah Landi sendirian. Ia hanya bisa bersedih. "Mengapa
mereka tidak mau berteman dan bermain denganku?, padahal tidak ada seekor binatang
pun yang pernah tertusuk duriku," gumam Landi.
Hari-hari berikutnya Landi hanya melamun di tepi sungai. "Ah, andai saja semua duriku ini
hilang, aku bisa bebas bermain dengan teman-temanku", kata Landi dalam hati. Landi
merasa tidaklah adil hidupnya ini, selalu dijauhi teman-temannya. Ketika sedang asyik
dengan lamunannya, muncullah Kuku Kura-kura. "Apa yang sedang kau lamunkan, Landi?"
sapa kuku mengejutkan. "Ah, tidak ada," jawab Landi malu. "Jika kau mempunyai masalah,
aku siap mendengarkannya," kata Kuku.
Kuku kura-kura kemudian duduk di sebelah Landi. Lalu
Landi mulai bercerita tentang masalahnya. "Kau tak perlu
khawatir. Aku bersedia menjadi sahabatmu. Percayalah!"
kata kuku sambil menjabat tangan Landi. Betapa
girangnya hati Landi. Kini ia mempunyai teman.
"Tempurungmu tampak begitu berat. Apa kau tidak
merasa tersiksa?" tanya Landi. "Oh, sama sekali tidak.
Justru tempurung ini sangat berguna. Tempurung ini bisa
melindungiku. Jika ada bahaya,
aku hanya perlu menarik kaki dan kepalaku ke dalam. Hebat kan? Selain itu aku tak perlu
repot mencari tempat tinggal. "Rumahku ini bisa berpindah-pindah sesuai keinginanku",
kata Kuku kura-kura sambil mempraktekkan apa yang dikatakannya. Landi landak merasa
terhibur.
Suatu hari, teman Landi yang bernama Sam Kodok berulang tahun. Semua diundang,
termasuk

Landi Landak. "Ayo Landi, kau harus datang ke pesta itu," bujuk Kuku kura-kura.
"Aku tidak mau karena nanti teman-teman yang lain pasti akan menjauhiku karena takut
tertusuk duri," kata Landi dengan sedih. "Jangan khawatir, kau kan tidak sendirian. Aku
akan menemanimu. Di sana banyak kue yang lezat dam tentu saja buah apel loh!"
Mendengar kata apel, Landi menjadi tergoda. Ia memang sangat menyukai apel. Akhirnya
Landi mau juga berangkat bersama Kuku kura-kura.
Pesta Sam kodok sangat meriah. Wangi aneka bunga tercium disetiap sudut ruangan. Ada
dua meja panjang diletakkan di sisi kiri dan kanan halaman Sam kodok. Di atasnya
tersedia berbagai macam kue dan buah-buahan. "Lihat! Di dekat meja ada satu tong
sirup apel!, kata Landi". Landi dan Kuku kura-kura
memberikan selamat pada Sam kodok. Setelah meniup
lilin. Semua bertepuk tangan sambil bernyanyi "Selamat
Ulang Tahun". Pada saat berdansa, semua yang diundang
menghindar dari Landi landak. Mereka takut tertusuk
duri Landi landak. Akhirnya, Kuku kura-kura lah yang
menemani Landi berdansa.
Tiba-tiba, pesta yang mengasyikkan itu terhenti dengan teriakan Tito. Ia datang sambil
berlari ketakutan. "Awas! Serigala jahat datang! Tolong...! Tolong...! Teriaknya dengan
napas tersengal-sengal. Semua menjadi ketakutan. Mereka berlarian menyelamatkan diri.
Karena tidak bisa berlari, Kuku kura-kura langsung memasukkan
kepala dan kakinya ke tempurung rumahnya. Sedangkan
Landi Landak segera menggulung tubuhnya menjadi
seperti bola. Serigala jahat yang mengejar teman-teman
Landi tidak melihat tubuh Landi. Tiba-tiba, "Brukk,
aduhhh..." teriak serigala jahat. Ia tertusuk duri tajam
Landi Landak. Sambil menahan sakit, Serigala jahat
langsung lari tunggang langgang. Maka selamatlah Landi
dan teman-temannya.
"Hore..! Hore...! Hidup Landi Landak!" semua binatang mengelukan Landi. Landi menjadi
tersipu malu karenanya. "Maafkan aku Landi, selama ini aku menjauhimu. Padahal kau tidak
pernah menyakitiku. Ternyata duri tajammu itu telah menyelamatkan kita semua," sesal
Cici Kelinci. Akhirnya semua yang datang ke pesta Sam Kodok meminta maaf pada Landi
Landak karena telah menjauhinya kemudian mereka pun berterima kasih pada Landi
Landak karena telah melindungi mereka dari serigala jahat. Kini, Landi Landak tidak
merasa kesepian lagi. Teman-temannya tidak takut lagi akan durinya yang tajam. Bahkan
mereka merasa aman jika Landi berada di dekat mereka.

Karang Bolong

Beberapa abad yang lalu tersebutlah Kesultanan
Kartasura. Kesultanan sedang dilanda kesedihan yang
mendalam karena permaisuri tercinta sedang sakit keras.
Pangeran sudah berkali-kali memanggil tabib untuk
mengobati sang permaisuri, tapi tak satupun yang dapat
mengobati penyakitnya. Sehingga hari demi hari, tubuh
sang permaisuri menjadi kurus kering seperti tulang
terbalutkan kulit.
Kecemasan melanda rakyat kesultanan Kartasura.
Roda pemerintahan menjadi tidak berjalansebagaimana mestinya. "Hamba sarankan agar Tuanku mencari tempat yang sepi untuk
memohon kepada Sang Maha Agung agar mendapat petunjuk guna kesembuhan
permaisuri," kata penasehat istana.
Tidak berapa lama, Pangeran Kartasura melaksanakan tapanya. Godaan-godaan yang
dialaminya dapat dilaluinya. Hingga pada suatu malam terdengar suara gaib. "Hentikanlah
semedimu. Ambillah bunga karang di Pantai Selatan, dengan bunga karang itulah,
permaisuri akan sembuh." Kemudian, Pangeran Kartasura segera pulang ke istana dan
menanyakan hal suara gaib tersebut pada penasehatnya. "Pantai selatan itu sangat luas.
Namun hamba yakin tempat yang dimaksud suara gaib itu adalah wilayah Karang Bolong, di
sana banyak terdapat gua karang yang di dalamnya tumbuh bunga karang," kata penasehat
istana dengan yakin.
Keesokannya, Pangeran Kartasura menugaskan Adipati Surti
untuk mengambil bunga karang tersebut. Adipati Surti
memilih dua orang pengiring setianya yang bernama Sanglar
dan Sanglur. Setelah beberapa hari berjalan, akhirnya
mereka tiba di karang bolong. Di dalamnya terdapat sebuah
gua. Adipati Surti segera melakukan tapanya di dalam gua
tersebut. Setelah beberapa hari, Adipati Surti mendengar suara
seseorang. "Hentikan semedimu. Aku akan mengabulkan permintaanmu, tapi harus kau
penuhi dahulu persyaratanku." Adipati Surti membuka matanya, dan melihat seorang
gadis cantik seperti Dewi dari kahyangan di hadapannya. Sang gadis cantik tersebut
bernama Suryawati. Ia adalah abdi Nyi Loro Kidul yang menguasai Laut Selatan.
Syarat yang diajukan Suryawati, Adipati harus bersedia menetap di Pantai Selatan
bersama Suryawati. Setelah lama berpikir, Adipati Surti
menyanggupi syarat Suryawati. Tak lama setelah itu,
Suryawati mengulurkan tangannya, mengajak Adipati Surti
untuk menunjukkan tempat bunga karang. Ketika menerima
uluran tangan Suryawati, Adipati Surti merasa raga halusnya
saja yang terbang mengikuti Suryawati, sedang raga
kasarnya tetap pada posisinya bersemedi. "Itulah
bunga karang yang dapat menyembuhkan Permaisuri," kata Suryawati seraya menunjuk
pada sarang burung walet. Jika diolah, akan menjadi ramuan yang luar biasa khasiatnya.
Adipati Surti segera mengambil sarang burung walet cukup banyak. Setelah itu, ia
kembali ke tempat bersemedi. Raga halusnya kembali masuk ke raga kasarnya.
Setelah mendapatkan bunga karang, Adipati Surti mengajak kedua pengiringnya kembali
ke Kartasura. Pangeran Kartasura sangat gembira atas keberhasilan Adipati Surti. "Cepat
buatkan ramuan obatnya," perintah Pangeran Kartasura pada pada abdinya. Ternyata,
setelah beberapa hari meminum ramuan sarang burung walet, Permaisuri menjadi sehat
dan segar seperti sedia kala. Suasana Kesultanan Kartasura menjadi ceria kembali. Di
tengah kegembiraan tersebut, Adipati Surti teringat janjinya pada Suryawati. Ia tidak
mau mengingkari janji.
Ia pun mohon diri pada Pangeran Kartasura dengan alasan
untuk menjaga dan mendiami karang bolong yang di
dalamnya banyak sarang burung walet. Kepergian Adipati
Surti diiringi isak tangis para abdi istana, karena Adipati
Surti adalah seorang yang baik dan rendah hati. Adipati
Surti mengajak kedua pengiringnya untuk pergi
bersamanya. Setelah berpikir beberapa saat, Sanglar dan
Sanglur memutuskan untuk ikut bersama Adipati Surti.
Setibanya di Karang Bolong, mereka membuat sebuah rumah sederhana. Setelah selesai,
Adipati Surti bersemedi. Tidak berapa lama, ia memisahkan raga halus dari raga
kasarnya. "Aku kembali untuk memenuhi janjiku," kata Adipati Surti, setelah melihat
Suryawati berada di hadapannya. Kemudian, Adipati Surti dan Suryawati melangsungkan
pernikahan mereka. Mereka hidup bahagia di Karang Bolong. Di sana mereka mendapatkan
penghasilan yang tinggi dari hasil sarang burung walet yang semakin hari semakin banyak
dicari orang.

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Friday, November 6, 2009

Dongeng Anak: Si kancil dan seekor siput


Angin yang berhembus semilir-semilir membuat penghuni hutan mengantuk. Begitu juga
dengan Si Kancil. Untuk mengusir rasa kantuknya ia berjalan-jalan di hutan sambil
membusungkan dadanya. Sambil berjalan ia berkata, "Siapa yang tak kenal Kancil. Si
pintar, si cerdik dan si pemberani. Setiap masalah pasti selesai olehku". Ketika sampai di sungai, ia segera minum untuk menghilangkan rasa hausnya. Air yang begitu jernih
membuat Kancil dapat berkaca. Ia berkata-kata sendirian. "Buaya, Gajah, Harimau
semuanya binatang bodoh, jika berhadapan denganku mereka dapat aku perdaya".
Si Kancil tidak tahu kalau ia dari tadi sedang diperhatikan
oleh seekor Siput yang sedang duduk di bongkahan batu
yang besar. Si Siput berkata, "Hei Kancil, kau asyik sekali
berbicara sendirian. Ada apa? Kamu sedang bergembira?".
Kancil mencari-cari sumber suara itu. Akhirnya ia
menemukan letak Si Siput.
"Rupanya sudah lama kau memperhatikanku ya?". Siput
yang kecil dan imut-imut. Eh bukan!. "Kamu memang kecil
tapi tidak imut-imut, melainkan jelek bagai kotoran
ayam". Ujar Si Kancil. Siput terkejut mendengar
ucapan
Si Kancil yang telah menghina dan membuatnya jengkel.
Lalu Siputpun berkata, "Hai Kancil!, kamu memang cerdik
dan pemberani karena itu aku
menantangmu lomba adu cepat". Akhirnya mereka setuju perlombaan dilakukan minggu
depan.
Setelah Si Kancil pergi, Siput segera memanggil dan
mengumpulkan teman-temannya. Ia meminta tolong
teman-temannya agar waktu perlombaan nanti semuanya
harus berada di jalur lomba. "Jangan lupa, kalian
bersembunyi di balik bongkahan batu, dan salah satu
harus segera muncul jika Si Kancil memanggil, dengan
begitu kita selalu berada di depan Si Kancil," kata Siput.
Hari yang dinanti tiba. Si Kancil datang dengan sombongnya, merasa ia pasti akan sangat
mudah memenangkan perlombaan ini. Siput mempersilahkan Kancil untuk berlari duluan
dan memanggilnya untuk memastikan sudah sampai mana ia sampai. Perlombaan dimulai.
Kancil berjalan santai, sedang Siput segera menyelam ke dalam air. Setelah
beberapa langkah, Kancil memanggil Siput. Tiba-tiba
Siput muncul di depan Kancil sambil berseru, "Hai
Kancil! Aku sudah sampai sini." Kancil terheran-heran,
segera ia mempercepat langkahnya. Kemudian ia
memanggil Si Siput lagi. Ternyata Siput juga sudah
berada di depannya. Akhirnya Si Kancil berlari, tetapi
tiap ia panggil Si Siput, ia selalu muncul di depan Kancil.
Keringatnya bercucuran, kakinya
terasa lemas dan nafasnya tersengal-sengal. Ketika hampir finish, ia memanggil Siput,
tetapi tidak ada jawaban. Kancil berpikir Siput sudah tertinggal jauh dan ia akan menjadi
pemenang perlombaan.
Si Kancil berhenti berlari, ia berjalan santai sambil beristirahat. Dengan senyum sinis
Kancil berkata, "Kancil memang tiada duanya." Kancil
dikagetkan ketika ia mendengar suara Siput yang sudah
duduk di atas batu besar. "Oh kasihan sekali kau Kancil.
Kelihatannya sangat lelah, Capai ya berlari?". Ejek
Siput. "Tidak mungkin!", "Bagaimana kamu bisa lebih
dulu sampai, padahal aku berlari sangat kencang", seru
Si Kancil.
"Sudahlah akui saja kekalahanmu," ujar Siput. Kancil masih heran dan tak percaya kalau a
dikalahkan oleh binatang yang lebih kecil darinya. Kancil menundukkan kepala dan
mengakui kekalahannya. "Sudahlah tidak usah sedih, aku tidak minta hadiah kok. Aku
hanya ingin kamu ingat satu hal, janganlah sombong dengan kepandaian dan kecerdikanmu
dalam menyelesaikan setiap masalah, kamu harus mengakui bahwa semua binatang
mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing, jadi jangan suka menghina dan
menyepelekan mereka", ujar Siput. Siput segera menyelam ke dalam sungai. Tinggallah Si
Kancil dengan rasa menyesal dan malu.
HIKMAH :
Janganlah suka menyombongkan diri dan menyepelekan orang lain, walaupun kita
memang cerdas dan pandai.


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Cerita rakyat: Tukang sepatu dan liliput

Dahulu kala, di sebuah kota tinggal seorang Kakek dan Nenek pembuat sepatu. Mereka
sangat baik hati. Si kakek yang membuat sepatu sedangkan nenek yang menjualnya. Uang
yang didapat dari setiap sepatu yang terjual selalu dibelikan makanan yang banyak untuk
dibagikan dan disantap oleh orang-orang jompo yang miskin dan anak kecil yang sudah
tidak mempunyai orangtua. Karena itu walau sudah membanting tulang, uang mereka selalu
habis. Karena uang mereka sudah habis, dengan kulit bahan sepatu yang tersisa, kakek
membuat sepatu berwarna merah. Kakek berkata kepada nenek, Kalau sepatu ini terjual,
kita bisa membeli makanan untuk Hari Raya nanti.
Tak lama setelah itu, lewatlah seorang gadis kecil yang tak
bersepatu di depan toko mereka. Kasihan sekali gadis itu !
Ditengah cuaca dingin seperti ini tidak bersepatu. Akhirnya
mereka memberikan sepatu berwarna merah tersebut kepada
gadis kecil itu.
Apa boleh buat, Tuhan pasti akan menolong kita, kata si kakek. Malam tiba, merekapun
tertidur dengan nyenyaknya. Saat itu terjadi kejadian aneh. Dari hutan muncul kurcacikurcaci
mengangkut kulit sepatu, membawanya ke rumah si kakek kemudian membuatnya
menjadi sepasang sepatu yang sangat bagus. Ketika sudah selesai mereka kembali ke
hutan.
Keesokan paginya kakek sangat terkejut melihat ada sepasang
sepatu yang sangat hebat.
Sepatu itu terjual dengan harga mahal. Dengan hasil penjualan sepatu itu mereka
menyiapkan makanan dan banyak hadiah untuk dibagikan kepada anak-anak kecil pada Hari
Raya. Ini semua rahmat dari Yang Maha Kuasa.
Malam berikutnya, terdengar suara-suara diruang kerja kakek. Kakek dan nenek lalu
mengintip, dan melihat para kurcaci yang tidak mengenakan pakaian sedang membuat
sepatu. Wow, pekik si kakek. Ternyata yang membuatkan sepatu untuk kita adalah para
kurcaci itu. Mereka pasti kedinginan karena tidak mengenakan pakaian, lanjut si nenek.
Aku akan membuatkan pakaian untuk mereka sebagai tanda terima kasih. Kemudian nenek
memotong kain, dan membuatkan baju untuk para kurcaci itu. Sedangkan kakek tidak
tinggal diam. Ia pun membuatkan sepatu-sepatu mungil untup para kurcaci. Setelah
selesai mereka menjajarkan sepatu dan baju para kurcaci di ruang kerjanya. Mereka juga
menata meja makan, menyiapkan makanan dan kue yang lezat di atas meja.
Saat tengah malam, para kurcaci berdatangan. Betapa terkejutnya mereka melihat begitu
banyaknya makanan dan hadiah di ruang kerja kakek. Wow, pakaian yang indah !. Mereka
segera mengenakan pakaian dan sepatu yang sengaja telah disiapkan kakek dan nenek.
Setelah selesai menyantap makanan, mereka menari-nari dengan riang gembira. Hari-hari
berikutnya para kurcaci tidak pernah datang kembali.
Tetapi sejak saat itu, sepatu-sepatu yang dibuat Kakek selalu laris terjual. Sehingga
walaupun mereka selalu memberikan makan kepada orang-orang miskin dan anak yatim
piatu, uang mereka masih tersisa untuk ditabung. Setelah kejadian itu semua, Kakek dan
dan nenek hidup bahagia sampai akhir hayat mereka.


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Cerita rakyat: Si Dayang bandir

Dahulu di propinsi Sumatera Utara terdapat dua kerajaan. Kerajaan itu dikenal dengan
nama Kerajaan Timur dan Kerajaan Barat. Pada suatu ketika, raja yang berkuasa di
Kerajaan Timur menikah dengan adik perempuan dari raja yang berkuasa di Kerajaan
Barat. Beberapa tahun kemudian lahir seorang bayi perempuan yang diberi nama Si
Dayang Bandir, tujuh tahun kemudian lahir seorang anak laki-laki yang bernama Sandean
Raja. baca kelanjutan ceritanya Ketika masih kecil, ayah Si Dayang Bandir dan Sandean Raja meninggal dunia.
Dengan meninggalnya raja di Kerajaan Timur, maka tahta Kerajaan Timur menjadi kosong.
Berhubung Sandean Raja masih kecil dan belum bisa menggantikan kedudukan ayahnya
sebagai raja, maka dalam sidang istana kerajaan menunjuk Paman Kareang untuk
mengendalikan pemerintahan kerajaan.
Si Dayang Bandir mempunyai akal untuk menyelamatkan
benda-benda pusaka agar jangan sampai jatuh ke tangan
pamannya yang hanya menggantikan pemerintahan
sementara. Hmm.. benda-benda pusaka ini harus
kuselamatkan agar jangan sampai jatuh di tangan pamanku,
kelak adik Sandean Raja lah yang berhak atas benda-benda
pusaka ini, gumam Si Dayang Bandir.
Tidak berapa lama, Paman Kareang mengetahui benda-benda pusaka peninggalan raja
telah disimpan Si Dayang Bandir. Ia mendesak Si Dayang Bandir agar menyerahkan
benda-benda itu. Awas! Kalau benda-benda itu tidak diserahkan padaku, keselamatan mu
akan

terancam! Itulah ancaman Paman Kareang kepada Si Dayang Bandir. Namun Si
Dayang Bandir tetap tidak mau menyerahkan benda-benda pusaka itu.
Kekesalan Paman Kareang menyebabkan Si Dayang Bandir
dan Sandean Raja dibuang ke hutan. Sesampainya di hutan,
Paman Kareang mengikat Si Dayang Bandir di atas sebatang
pohon sehingga tidak dapat dijangkau adiknya, Sandean
Raja. Sandean Raja menangis tak henti-henti sampai
kehabisan air mata. Sandean Raja mencoba membebaskan
kakaknya. Tapi ia tidak berhasil memanjat pohon tersebut,
setiap mencoba ia pun jatuh. Tubuhny
a menjadi tergores dan luka-luka. Biarlah kekejaman paman ini kutanggung sendiri, kata
Si Dayang Bandir lemah. Bila kau lapar, makanlah pucuk-pucuk daun yang berada di
sekitarmu, ucap Si Dayang Bandir, kepada adiknya yang kelaparan.
Setelah beberapa hari terikat di batang pohon, akhirnya Si Dayang Bandir tampak mulai
lemas dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Begitu kejam pamanku! umpat
Sandean Raja. Ia pun hidup seorang diri di hutan selama beberapa tahun hingga ia
menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa. Selama di hutan, ia selalu ditemani roh Si
Dayang Bandir. Ku harap kau segera menghadap Raja Sorma, bisik halus Roh Si Dayang
Bandir, kepada Sandean Raja. Raja Sorma adalah adik kandung dari Ibu Sandean Raja.
Raja Sorma tidak kejam seperti Paman Kareang yang saat ini sudah menjadi raja di
Kerajaan Timur.
Sandean Raja berhasil keluar dari hutan dan segera
menuju ke wilayah Kerajaan Barat untuk menghadap Raja
Sorma. Ampun Sri Baginda Raja Sorma. Hamba adalah
Sandean Raja. Putra Mahkota Kerajaan Timur, kata
Sandean Raja. Raja Sorma sangat terkejut dengan ucapan
Sandean Raja karena ia mendengar bahwa Sandean Raja
dan Si Dayang Bandir telah meninggal dunia. Untuk
membuktikan bahwa Sandean Raja benar-benar
keponakannya, Sandean Raja diuji
memindahkan sebatang pohon hidup dari hutan ke Istana. Ujian selanjutnya, Sandean
Raja diharuskan menebas sebidang hutan untuk dijadikan perladangan. Pekerjaan itu
diselesaikan Sandean Raja dengan baik. Selanjutnya, Sandean Raja diperintahkan untuk
membangun istana besar yang disebut Rumah Bolon dan ternyata berhasil dan selesai
dalam waktu tiga hari.
Raja Sorma belum mau mengakui Sandean Raja sebagai keponakannya sebelum menempuh
ujian terakhir. Yaitu, menunjuk seorang puteri raja di antara puluhan gadis di sebuah
ruang yang gelap gulita. Sandean Raja merasa khawatir kalau ujian yang terakhir ini ia
tidak berhasil. Jangan khawatir, aku akan membantumu, bisik roh Si Dayang Bandir.
Akhirnya Sandean Raja berhasil memegang kepala puteri raja yang sedang bersimpuh.
Atas keberhasilannya, Sandean Raja diakui sebagai keponakan Raja Sorma dan dinikahkan
dengan puterinya.
Setahun kemudian, Sandean Raja bersama prajurit
Kerajaan Barat menyerang Kerajaan Timur yang dikuasai
oleh paman Raja Kareang. Dalam waktu yang tidak lama,
Kerajaan Timur berhasil ditaklukkan dan Raja Kareang
terbunuh oleh Sandean Raja. Kerajaan Timur akhirnya di
kuasai oleh Sandean Raja. Dan akhirnya Sandean Raja
dinobatkan menjadi raja Kerajaan Timur dan hidup bahagia
bersama istri dan rakyatnya.
HIKMAH :
Untuk membuktikan kebenaran diperlukan ujian yang keras. Hanya orang-orang yang
bersemangat, sabar dan besar hatilah yang dapat melewati ujian seberat apapun.

Tukang Sepatu dan liliput

Dahulu kala, di sebuah kota tinggal seorang Kakek dan Nenek pembuat sepatu. Mereka
sangat baik hati. Si kakek yang membuat sepatu sedangkan nenek yang menjualnya. Uang
yang didapat dari setiap sepatu yang terjual selalu dibelikan makanan yang banyak untuk
dibagikan dan disantap oleh orang-orang jompo yang miskin dan anak kecil yang sudah
tidak mempunyai orangtua. Karena itu walau sudah membanting tulang, uang mereka selalu
habis. Karena uang mereka sudah habis, dengan kulit bahan sepatu yang tersisa, kakek
membuat sepatu berwarna merah. Kakek berkata kepada nenek, Kalau sepatu ini terjual,
kita bisa membeli makanan untuk Hari Raya nanti.
Tak lama setelah itu, lewatlah seorang gadis kecil yang tak
bersepatu di depan toko mereka. Kasihan sekali gadis itu !
Ditengah cuaca dingin seperti ini tidak bersepatu. Akhirnya
mereka memberikan sepatu berwarna merah tersebut kepada
gadis kecil itu.
Apa boleh buat, Tuhan pasti akan menolong kita, kata si kakek. Malam tiba, merekapun
tertidur dengan nyenyaknya. Saat itu terjadi kejadian aneh. Dari hutan muncul kurcacikurcaci
mengangkut kulit sepatu, membawanya ke rumah si kakek kemudian membuatnya
menjadi sepasang sepatu yang sangat bagus. Ketika sudah selesai mereka kembali ke
hutan.
Keesokan paginya kakek sangat terkejut melihat ada sepasang sepatu yang sangat hebat.
Sepatu itu terjual dengan harga mahal. Dengan hasil penjualan sepatu itu mereka
menyiapkan makanan dan banyak hadiah untuk dibagikan kepada anak-anak kecil pada Hari
Raya. Ini semua rahmat dari Yang Maha Kuasa.
Malam berikutnya, terdengar suara-suara diruang kerja kakek. Kakek dan nenek lalu
mengintip, dan melihat para kurcaci yang tidak mengenakan pakaian sedang membuat
sepatu. Wow, pekik si kakek. Ternyata yang membuatkan sepatu untuk kita adalah para
kurcaci itu. Mereka pasti kedinginan karena tidak mengenakan pakaian, lanjut si nenek.
Aku akan membuatkan pakaian untuk mereka sebagai tanda terima kasih. Kemudian nenek
memotong kain, dan membuatkan baju untuk para kurcaci itu. Sedangkan kakek tidak
tinggal diam. Ia pun membuatkan sepatu-sepatu mungil untup para kurcaci. Setelah
selesai mereka menjajarkan sepatu dan baju para kurcaci di ruang kerjanya. Mereka juga
menata meja makan, menyiapkan makanan dan kue yang lezat di atas meja.
Saat tengah malam, para kurcaci berdatangan. Betapa terkejutnya mereka melihat begitu
banyaknya makanan dan hadiah di ruang kerja kakek. Wow, pakaian yang indah !. Mereka
segera mengenakan pakaian dan sepatu yang sengaja telah disiapkan kakek dan nenek.
Setelah selesai menyantap makanan, mereka menari-nari dengan riang gembira. Hari-hari
berikutnya para kurcaci tidak pernah datang kembali.
Tetapi sejak saat itu, sepatu-sepatu yang dibuat Kakek selalu laris terjual. Sehingga
walaupun mereka selalu memberikan makan kepada orang-orang miskin dan anak yatim
piatu, uang mereka masih tersisa untuk ditabung. Setelah kejadian itu semua, Kakek dan
dan nenek hidup bahagia sampai akhir hayat mereka.


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Wednesday, October 28, 2009

Dongeng Anak: Raja dan Kura-kura


Di Benares, India, hidup seorang raja yang sangat gemar berbicara. Apabila ia sudah
mulai membuka mulutnya, tak seorang pun diberi kesempatan menyela pembicaraannya.
Hal ini sangat mengganggu menterinya. Sang menteri pun selalu memikirkan cara terbaik
menghilangkan kebiasaan buruk rajanya itu.
Pada suatu hari raja dan menterinya pergi berjalan-jalan di halaman istana. Tiba-tiba
mereka melihat seekor kura-kura tergeletak di lantai. Tempurungnya terbelah menjadi
dua.
"Sungguh ajaib!" kata Sang Raja dengan heran.
"Bagaimana hal ini dapat terjadi?"
Lalu Raja mulai dengan dugaan-dugaannya. Dia terusmenerus
membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang
terjadi dengan kura-kura itu. Sang Menteri hanya
mengangguk-anggukkan kepala menunggu kesempatan
berbicara. Kemudian dia merasa menemukan cara
terbaik
untuk menghilangkan kebiasaan buruk Sang Raja.
Ketika Sang Raja menarik napas untuk berbicara lagi, Sang Menteri segera menukas dan
berkata,
"Paduka, saya tahu kejadian sebenarnya yang dialami kura-kura naas ini!"
"Benarkah? Bila begitu, lekas katakan," kata Raja penuh rasa ingin tahu.
Dengan penuh keseriusan Sang Raja mendengarkan cerita menterinya. Sang Menteri pun
mulai bercerita.
Kura-kura itu awalnya tinggal di sebuah danau di dekat pegunungan Himalaya. Di sana
terdapat juga dua ekor angsa yang selalu mencari makan di danau tersebut. Mereka pun
akhirnya bersahabat. Pada suatu hari dua ekor angsa itu menemui kura-kura yang sedang
berjemur di tepi danau. "Kura-kura, kami akan segera kembali ke tempat asal kami yang
terletak di gua emas di kaki Gunung Tschittakura. Daerah tempat tinggal kami adalah
daerah terindah di dunia. Tidakkah engkau ingin ikut kami ke sana?" tanya Sang Angsa.
"Dengan senang hati aku akan turut denganmu," sahut kura-kura riang.
"Tetapi, sayangnya aku tak dapat terbang seperti kalian," lanjutnya dengan wajah
mendadak sedih.
"Kami akan membantumu agar dapat turut bersama kami ke sana. Tapi selama dalam
perjalanan kamu jangan berbicara karena akan membahayakan dirimu," kata angsa.
"Aku akan selalu mengingat laranganmu. Bawalah aku ke tempat kalian yang indah itu,"
janji kura-kura.
Lalu kedua angsa tersebut meminta kura-kura agar menggigit sepotong bambu. Kemudian
kedua angsa tersebut menggigit ujung-ujung bambu dan mereka pun terbang ke angkasa.
Ketika kedua angsa itu sudah terbang tinggi, beberapa orang di Benares melihat
pemandangan unik tersebut. Mereka pun tertawa terbahak-bahak sambil berteriak.
"Coba, lihat! Sungguh lucu. Ada dua ekor angsa membawa kura-kura dengan sepotong
bambu." Kura-kura yang suka sekali bicara merasa tersinggung ditertawakan. Dia pun lupa
pada larangan kedua sahabatnya. Dengan penuh kemarahan dia berkata,
"Apa anehnya? Apakah manusia itu sedemikian bodohnya sehingga merasa aneh melihat
hal seperti ini?"
Ketika kura-kura membuka mulutnya untuk berbicara, dua ekor angsa itu sedang terbang
di istana. Kura-kura pun terlepas dari bilah bambu yang digigitnya. Dia terjatuh tepat di
sini dan tempurungnya terbelah dua. "Kalau saja kura-kura itu tidak suka berbicara
berlebih-lebihan, tentu sekarang dia telah tiba di tempat sahabatnya,"
kata Sang Menteri mengakhiri ceritanya sambil memandang Sang Raja. Pada saat
bersamaan Raja pun memandang menterinya.
"Sebuah cerita yang menarik," sahut Sang Raja sambil tersenyum. Dia menyadari kemana
arah pembicaraan menterinya.
Sejak saat itu, Sang Raja mulai menghemat kata-katanya. Dia tidak lagi banyak bicara.
Tentu saja Sang Menteri amat senang melihat kenyataan itu.


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Albasyariyah /Al-Basyariyah: Kera Jadi Raja


Di sebuah padang rumput di Afrika, seekor Singa sedang menyantap makanan. Tiba-tiba
seekor burung elang terbang rendah dan menyambar makanan kepunyaan Singa. "Kurang
ajar", kata singa. Sang Raja hutan itu sangat marah sehingga memerintahkan
seluruh binatang untuk berkumpul dan menyatakan
perang terhadap bangsa burung. "Mulai sekarang segala
jenis burung adalah musuh kita, usir mereka semua,
jangan disisakan!" kata Singa. Binatang lain setuju sebab
mereka merasa telah diperlakukan sama oleh bangsa
burung.
Ketika malam mulai tiba, bangsa burung kembali ke sarangnya. Kesempatan itu digunakan
oleh para Singa dan anak buahnya untuk menyerang. Burung-burung kocar-kacir melarikan
diri. Untung masih ada burung hantu yang dapat melihat dengan jelas di malam hari
sehingga mereka semua bisa lolos dari serangan singa dan anak buahnya.
Melihat bangsa burung kalah, sang kelelawar merasa cemas, sehingga ia bergegas
menemui sang raja hutan. Kelelawar berkata, "Sebenarnya aku termasuk bangsa tikus,
walaupun aku mempunyai
sayap. Maka izinkan aku untuk bergabung dengan kelompokmu,
Aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk bertempur melawan burung-burung itu". Tanpa
berpikir panjang singa pun menyetujui kelelawar masuk dalam kelompoknya.
Malam berikutnya kelompok yang dipimpin singa kembali menyerang kelompok burung dan
berhasil mengusirnya. Keesokan harinya, menjelang pagi, ketika kelompok Singa sedang
istirahat kelompok burung menyerang balik mereka dengan melempari kelompok
singa dengan batu dan kacang-kacangan. "Awas hujan
batu," teriak para binatang kelompok singa sambil
melarikan diri. Sang kelelawar merasa cemas dengan hal
tersebut sehingga ia berpikiran untuk kembali bergabung
dengan kelompok burung. Ia menemui sang raja burung
yaitu burung Elang. "Lihatlah sayapku, Aku ini seekor
burung seperti kalian". Elang menerima kelelawar dengan
senang hati.
Pertempuran berlanjut, kera-kera menunggang gajah
atau badak sambil memegang busur dan anak panah.
Kepala mereka dilindungi dengan topi dari tempurung
kelapa agar tidak mempan dilempari batu. Setelah
kelompok singa menang, apa yang dilakukan kelelawar?.
Ia bolak balik berpihak kepada kelompok yang menang.
Sifat pengecut dan tidak berpendirian yang
dimiliki kelelawar lama kelamaan diketahui oleh kedua kelompok singa dan kelompok
burung.
Mereka sadar bahwa tidak ada gunanya saling bermusuhan. Merekapun bersahabat
kembali dan memutuskan untuk mengusir kelelawar dari lingkungan mereka. Kelelawar
merasa sangat malu sehingga ia bersembunyi di gua-gua yang gelap. Ia baru menampakkan
diri bila malam tiba dengan cara sembunyi-sembunyi


Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»