Showing posts with label alibaba. Show all posts
Showing posts with label alibaba. Show all posts

Saturday, October 31, 2009

Dongeng-dongeng: Petualangan Sinbad


Dahulu, di daerah Baghdad, Timur Tengah, ada seorang pemuda bernama Sinbad yang
kerjanya memanggul barang-barang yang berat dengan upah yang sedikit, sehingga
hidupnya tergolong miskin. Suatu hari, Sinbad beristirahat di depan pintu rumah
saudagar kaya karena sangat lelah dan kepanasan. Sambil
istirahat, ia menyanyikan lagu. "Namaku Sinbad, hidupku
sangat malang, berapapun aku bekerja dengan memanggul
beban di punggung tetaplah penderitaan yang kurasakan."
Tak berapa lama muncul pelayan rumah itu, menyuruh
Sinbad masuk karena dipanggil tuannya.
"Apakah namamu Sinbad ?", "Benar Tuan". "Namaku juga Sinbad", kata sang saudagar. Ia
pun mulai bercerita, "Dulu aku seorang pelaut. Ketika mendengar nyanyianmu, aku sangat
sedih karena kau berpikir hanya kamu sendiri yang bernasib buruk, dulu nasibku juga
buruk, orangtua ku meninggalkan banyak warisan, tetapi aku hanya bermain dan
menghabiskan harta saja. Setelah jatuh miskin aku bertekad menjadi seorang pelaut. Aku
menjual rumah dan semua perabotannya untuk membeli kapal dan seisinya. Karena sudah
lama tidak menemui daratan, ketika ada daratan yang terlihat kami segera merapatkan
kapal. Para awak kapal segera mempersiapkan makan siang. Mereka membakar daging dan
ikan. Tiba-tiba, permukaan tanah
bergoyang. Pulau itu bergerak ke atas, para pelaut
berjatuhan ke
laut. Begitu jatuh ke laut, aku sempat
melihat ke pulau itu, ternyata pulau tersebut, berada di
atas badan ikan paus. Karena ikan paus itu sudah lama tak
bergerak, tubuhnya ditumbuhi pohon dan rumput, mirip
seperti pulau. Mungkin karena panas dari api unggun, ia
mulai bergerak liar.
Mereka yang terjatuh ke laut di libas ekor ikan paus sehingga tenggelam. Aku berusaha
menyelamatkan diri dengan memeluk sebuah gentong, hingga aku pun terapung-apung di
laut. Beberapa hari kemudian, aku berhasil sampai ke daratan. Aku haus, disana ada pohon
kelapa. Kemudian aku memanjatnya dan mengambil buah dan meminum airnya. Tiba-tiba
aku melihat ada sebutir telur yang sangat besar. Ketika turun, dan mendekati telur itu,
tiba-tiba dari arah langit, terdengar suara yang menakutkan disertai suara kepakan sayap
yang mengerikan. Ternyata, seekor burung naga yang amat besar.
Setelah sampai disarangnya, burung naga itu tertidur sambil mengerami telurnya. Sinbad
menyelinap di kaki burung itu, dan mengikat erat badannya di kaki burung naga dengan
kainnya. "Kalau ia bangun, pasti ia langsung terbang dan pergi ke tempat di mana manusia
tinggal." Benar, esoknya burung naga terbang mencari makanan. Ia terbang melewati
pegunungan dan akhirnya tampak sebuah daratan. Burung naga turun di sebuah tempat
yang dalam di ujung jurang. Sinbad segera melepas ikatan kainnya di kaki burung dan
bersembunyi di balik batu. Sekarang Sinbad berada di dasar jurang. Sinbad tertegun,
melihat di sekelilingnya banyak berlian.
Pada saat itu, "Bruk" ada sesuatu yang jatuh. Ternyata gundukan daging yang besar. Di
gundukan daging itu menempel banyak berlian yang bersinar-sinar. Untuk mengambil
berlian, manusia sengaja menjatuhkan daging ke jurang yang nantinya akan diambil oleh
burung naga dengan berlian yang sudah menempel di daging itu. Sinbad mempunyai ide. Ia
segera mengikatkan dirinya ke gundukan daging. Tak berapa lama
burung naga datang dan mengambil gundukan daging, lalu
terbang dari dasar jurang. Tiba-tiba, "Klang! Klang!
Terdengar suara gong dan suling yang bergema. Burung
naga yang terkejut menjatuhkan gundukan daging dan
cepat-cepat terbang tinggi. Orang-orang yang datang
untuk mengambil berlian, terkejut ketika melihat Sinbad.
Sinbad menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Kemudian orang-orang pengambil
berlian mengantarkan Sinbad ke pelabuhan untuk kembali ke negaranya. Sinbad menjual
berlian yang didapatnya dan membeli sebuah kapal yang besar dengan awak kapal yang
banyak. Ia berangkat berlayar sambil melakukan perdagangan. Suatu hari, kapal Sinbad
dirampok oleh para perompak. Kemudian Sinbad dijadikan budak yang akhirnya dijual
kepada seorang pemburu gajah. "Apakah kau bisa memanah?" Tanya pemburu gajah. Sang
pemburu memberi Sinbad busur dan anak panah dan diajaknya ke padang rumput luas. "Ini
adalah jalan gajah. Naiklah ke atas pohon, tunggu mereka datang lalu bunuh gajah itu".
"Baik tuan," jawab Sinbad ketakutan.
Esok pagi, datang gerombolan gajah. Saat itu pemimpin
gajah melihat Sinbad dan langsung menyerang pohon
yang dinaiki Sinbad. Sinbad jatuh tepat di depan gajah.
Gajah itu kemudian menggulung Sinbad dengan
belalainya yang panjang. Sinbad mengira ia pasti akan
dibunuh atau dibanting ke tanah. Ternyata, gajah itu
membawa Sinbad dengan kelompok mereka ke sebuah
gunung batu. Akhirnya terlihat sebuah air terjun besar. Dengan
membawa Sinbad, gajah itu masuk ke dalam air terjun menuju ke sebuah gua. "Ku..kuburan
gajah!" Sinbad terperanjat. Di gua yang luas bertumpuk tulang dan gading gajah.
Pemimpin gajah berkata,"kalau kau ingin gading ambillah seperlunya. Sebagai gantinya,
berhentilah membunuh kami." Sinbad berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Ia
pulang dengan memanggul gading gajah dan menyerahkan ke tuannya dengan syarat
tuannya tidak akan membunuh gajah lagi. Tuannya berjanji dan kemudian memberikan
Sinbad uang.
"Sampai disini dulu ceritaku", ujar Sinbad yang sudah menjadi saudagar kaya. "Aku bisa
menjadi orang kaya, karena kerja keras dengan uang itu. Jangan putus asa, sampai
kapanpun, apalagi jika kita masih muda," lanjut sang saudagar.

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog
Baca Selengkapnya »»

Monday, October 26, 2009

Dongeng Anak: Bende wasiat


Harimau sedang asyik bercermin di sungai sambil
membasuh mukanya. "Hmm, gagah juga aku ini, tubuhku
kuat berotot dan warna lorengku sangat indah," kata
harimau dalam hati. Kesombongan harimau membuatnya
suka memerintah dan berbuat semena-mena pada
binatang lain yang lebih kecil dan lemah. Si kancil akhirnya
tidak tahan lagi. "Benar-benar keterlaluan si harimau!"
kata Kancil menahan marah. "Dia mesti diberi pelajara
n! Biar kapok! Sambil berpikir, ditengah jalan kancil bertemu dengan kelinci. Mereka
berbincang-bincang tentang tingkah laku harimau dan mencoba mencari ide bagaimana
cara membuat si harimau kapok.
Setelah lama terdiam, "Hmm, aku ada ide," kata si
kancil tiba-tiba. "Tapi kau harus menolongku," lanjut si
kancil. "Begini, kau bilang pada harimau kalau aku telah
menghajarmu karena telah menggangguku, dan katakan
juga pada si harimau bahwa aku akan menghajar siapa
saja yang berani menggangguku, termasuk harimau,
karena aku sedang menjalankan tugas penting," kata
kancil pada kelinci. "Tugas penting
apa, Cil?" tanya kelinci heran. " Sudah, bilang saja begitu, kalau si harimau nanti
mencariku, antarkan ia ke bawah pohon besar di ujung jalan itu. Aku akan menunggu
Harimau disana." "Tapi aku takut Cil, benar nih rencanamu akan berhasil?", kata kelinci.
"Percayalah padaku, kalau gagal jangan sebut aku
si kancil yang cerdik". "Iya, iya. Aku
percaya, tapi kamu jangan sombong, nanti malah kamu jadi lebih sombong dari si harimau
lagi."
Si kelincipun berjalan menemui harimau yang sedang
bermalas-malasan. Si kelinci agak gugup menceritakan
yang terjadi padanya. Setelah mendengar cerita kelinci,
harimau menjadi geram mendengarnya. "Apa? Kancil mau
menghajarku? Grr, berani sekali dia!!, kata harimau.
Seperti yang diharapkan, harimau minta diantarkan ke
tempat kancil berada. "Itu dia si Kancil!" kata
Kelinci sambil menunjuk ke arah sebatang pohon besar di ujung jalan. "Kita hampir sampai,
harimau. Aku takut, nanti jangan bilang si kancil kalau aku yang cerita padamu, nanti aku
dihajar lagi," kata kelinci. Si kelinci langsung berlari masuk dalam semak-semak.
"Hai kancil!!! Kudengar kau mau menghajarku ya?" Tanya harimau sambil marah. "Jangan
bicara keras-keras, aku sedang mendapat tugas penting". "Tugas penting
apa?". Lalu Kancil menunjuk benda besar berbentuk
bulat, yang tergantung pada dahan pohon di atasnya.
"Aku harus menjaga bende wasiat itu." Bende wasiat apa
sih itu?" Tanya harimau heran. "Bende adalah semacam
gong yang berukuran kecil, tapi bende ini bukan
sembarang bende, kalau dipukul suaranya merdu sekali,
tidak bisa terlukis dengan kata-kata. Harimau jadi
penasaran. "Aku boleh tidak memukul
nya?, siapa tahu kepalaku yang lagi pusing ini akan hilang setelah mendengar suara merdu
dari bende itu." "Jangan, jangan," kata Kancil. Harimau terus membujuk si Kancil. Setelah
agak lama berdebat, "Baiklah, tapi aku pergi dulu, jangan salahkan aku kalau terjadi apaapa
ya?", kata si kancil.
Setelah Kancil pergi, Harimau segera memanjat pohon dan memukul bende itu. Tapi yang
terjadi. Ternyata bende itu adalah sarang lebah! Nguuuung!..nguuuung!..nguuuung!..
sekelompok lebah yang marah keluar dari sarangnya karena merasa diganggu. Lebah-lebah
itu mengejar dan menyengat si harimau. "Tolong! Tolong!" teriak harimau kesakitan sambil
berlari. Ia terus berlari menuju ke sebuah sungai. Byuur! Harimau langsung melompat
masuk ke dalam sungai. Ia akhirnya selamat dari serangan lebah. "Grr, awas kau Kancil!"
teriak Harimau menahan marah. "Aku dibohongi lagi. Tapi pusingku kok menjadi hilang
ya?". Walaupun tidak mendengar suara merdu bende wasiat, harimau tidak terlalu
kecewa, sebab kepalanya tidak pusing lagi.
"Hahaha! Lihatlah Harimau yang gagah itu lari terbirit-birit disengat lebah," kata kancil.
"Binatang kecil dan lemah tidak selamanya kalah bukan?". "Aku harap harimau bisa
mengambil manfaat dari kejadian ini," kata kelinci penuh harap."
HIKMAH :
Semua makhluk hidup mempunyai kelebihan dan kekurangan. Karena itu, kita tidak
boleh sombong dan memperlakukan makhluk hidup lain semena-mena.
Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Blog Matahati
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog


Baca Selengkapnya »»

Dongeng Lucu: Balas budi burung bangau


Dahulu kala di suatu tempat di Jepang, hidup seorang pemuda bernama Yosaku. Kerjanya
mengambil kayu bakar di gunung dan menjualnya ke kota. Uang hasil
penjualan dibelikannya makanan. Terus seperti itu setiap
harinya. Hingga pada suatu hari ketika ia berjalan pulang
dari kota ia melihat sesuatu yang menggelepar di atas
salju. Setelah di dekatinya ternyata seekor burung
bangau yang terjerat diperangkap sedang meronta-ronta.
Yosaku segera melepaskan perangkat itu. Bangau itu
sangat gembira, ia berputar-putar di atas kepala Yosaku
beberapa kali sebelum
terbang ke angkasa. Karena cuaca yang sangat dingin, sesampainya dirumah, Yosaku
segera menyalakan tungku api dan menyiapkan makan malam. Saat itu terdengar suara
ketukan pintu di luar rumah.
Ketika pintu dibuka, tampak seorang gadis yang cantik
sedang berdiri di depan pintu. Kepalanya dipenuhi dengan
salju. "Masuklah, nona pasti kedinginan, silahkan
hangatkan badanmu dekat tungku," ujar Yosaku. "Nona
mau pergi kemana sebenarnya ?", Tanya Yosaku. "Aku
bermaksud mengunjungi temanku, tetapi karena salju
turun dengan lebat, aku jadi tersesat." "Bolehkah aku
menginap disini malam ini ?". "Boleh
saja Nona, tapi aku ini orang miskin, tak punya kasur dan makanan.", kata Yosaku. "Tidak
apa-apa, aku hanya ingin diperbolehkan menginap". Kemudian gadis itu merapikan
kamarnya dan memasak makanan yang enak.
Ketika terbangun keesokan harinya, gadis itu sudah menyiapkan nasi. Yosaku berpikir
bahwa gadis itu akan segera pergi, ia merasa kesepian. Salju masih turun dengan
lebatnya. "Tinggallah disini sampai salju reda." Setelah lima hari berlalu salju mereda.
Gadis itu berkata kepada Yosaku, "Jadikan aku sebagai istrimu, dan biarkan aku tinggal
terus di rumah ini." Yosaku merasa bahagia menerima permintaan itu. "Mulai hari ini
panggillah aku Otsuru", ujar si gadis. Setelah menjadi Istri Yosaku, Otsuru mengerjakan
pekerjaan rumah dengan sungguh-sungguh. Suatu hari, Otsuru meminta suaminya, Yosaku,
membelikannya
benang karena ia ingin menenun.
Otsuru mulai menenun. Ia berpesan kepada suaminya agar
jangan sekali-kali mengintip ke dalam penyekat tempat
Otsuru menenun. Setelah tiga hari berturut-turut
menenun tanpa makan dan minum, Otsuru keluar. Kain
tenunannya sudah selesai. "Ini tenunan ayanishiki. Kalau
dibawa ke kota pasti akan terjual dengan harga mahal.
Yosaku sangat senang karena kain tenunannya dibeli orang
dengan harga yang cukup mahal. Sebelum pulang ia membeli bermacam-macam barang
untuk dibawa pulang. "Berkat kamu, aku mendapatkan uang sebanyak ini, terima kasih
istriku. Tetapi sebenarnya para saudagar di kota menginginkan kain seperti itu lebih
banyak lagi. "Baiklah akan aku buatkan", ujar Otsuru. Kain itu selesai pada hari keempat
setelah Otsuru menenun. Tetapi tampak Otsuru tidak sehat, dan tubuhnya menjadi kurus.
Otsuru meminta suaminya untuk tidak memintanya menenun lagi.
Di kota, Sang Saudagar minta dibuatkan kain satu lagi untuk Kimono tuan Putri. Jika tidak
ada maka Yosaku akan dipenggal lehernya. Hal itu diceritakan Yosaku pada istrinya.
"Baiklah akan ku buatkan lagi, tetapi hanya satu helai ya", kata Otsuru.
Karena cemas dengan kondisi istrinya yang makin lemah dan kurus setiap habis menenun,
Yosaku berkeinginan melihat ke dalam ruangan tenun. Tetapi ia sangat
terkejut ketika yang dilihatnya di dalam ruang menenun,
ternyata seekor bangau sedang mencabuti bulunya untuk
ditenun menjadi kain. Sehingga badan bangau itu hampir
gundul kehabisan bulu. Bangau itu akhirnya sadar dirinya
sedang diperhatikan oleh Yosaku, bangau itu pun berubah
wujud kembali menjadi Otsuru. "Akhirnya kau melihatnya
juga", ujar Otsuru.
"Sebenarnya aku adalah seekor bangau yang dahulu pernah Kau tolong", untuk membalas
budi aku berubah wujud menjadi manusia dan melakukan hal ini," ujar
Otsuru. "Berarti sudah saatnya aku berpisah
denganmu", lanjut Otsuru. "Maafkan aku, ku
mohon jangan pergi," kata Yosaku. Otsuru
akhirnya berubah kembali menjadi seekor
bangau. Kemudian ia segera mengepakkan
sayapnya terabng keluar dari rumah ke
angkasa.
Tinggallah Yosaku sendiri
yang menyesali perbuatannya.

Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Kumpulan dongeng anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Baca Selengkapnya »»

Kumpulan Dongeng: Alibaba dan 40 penyamun


Dahulu kala, dikota Persia, hidup 2 orang bersaudara yang bernama Kasim dan Alibaba.
Alibaba adalah adik Kasim yang hidupnya miskin dan tinggal di daerah pegunungan. Ia
mengandalkan hidupnya dari penjualan kayu bakar yang dikumpulkannya. Berbeda dengan
abangnya, Kasim, seorang yang kaya raya tetapi serakah dan tidak pernah mau
memikirkan kehidupan adiknya.
Suatu hari, ketika Alibaba pulang dari mengumpulkan kayu bakar, ia melihat segerombol
penyamun yang berkuda. Alibaba segera bersembunyi karena takut jika ia terlihat, ia
akan dibunuh. Dari tempat persembunyiannya, Alibaba memperhatikan para
penyamun yang sedang sibuk menurunkan harta rampokannya
dari kuda mereka. Kepala penyamun tiba-tiba berteriak,
"Alakazam ! Buka!..". Pintu gua yang ada di depan mereka
terbuka perlahan-lahan. Setelah itu mereka segera
memasukkan seluruh harta rampokan mereka. "Alakazam !
tutup! " teriak kepala penyamun, pintu gua pun tertutup.
Setelah para penyamun pergi, Alibaba memberanikan diri keluar dari tempat
sembunyinya. Ia mendekati pintu gua tersebut dan meniru teriakan kepala penyamun
tadi. "Alakazam! Buka!.." pintu gua yang terbuat dari batu itu
terbuka. "Wah! Hebat!" teriak Alibaba sambil terpana
sebentar karena melihat harta yang bertumpuk-tumpuk
seperti gunung. "Gunungan harta ini akan Aku ambil sedikit,
semoga aku tak miskin lagi, dan aku akan membantu
tetanggaku yang kesusahan". Setelah mengarungkan harta dan
emas tersebut, Alibaba segera
pulang setelah sebelumnya menutup pintu gua. Istri
Alibaba sangat terkejut melihat barang yang dibawa Alibaba. Alibaba kemudian bercerita
pada istrinya apa yang baru saja dialaminya. "Uang ini sangat banyak! bagaimana jika kita
bagikan kepada orang-orang yang kesusahan.." ujar istri Alibaba. Karena terlalu banyak,
uang emas tersebut tidak dapat dihitung Alibaba dan istrinya. Akhirnya mereka sepakat
untuk meminjam kendi sebagai timbangan uang emas kepada saudaranya, Kasim. Istri
Alibaba segera pergi meminjam kendi kepada istri Kasim. Istri Kasim, seorang yang
pencuriga, sehingga ketika ia memberikan kendinya, ia mengoleskan minyak yang sangat
lengket di dasar kendi.
Keesokannnya, setelah kendi dikembalikan, ternyata di dasar kendi ada sesuatu yang
berkilau. Istri Kasim segera memanggil suaminya dan memberitahu suaminya bahwa di
dasar kendi ada uang emas yang melekat. Kasim segera pergi ke rumah Alibaba untuk
menanyakan hal tersebut. Setelah semuanya diceritakan Alibaba, Kasim segera kembali
ke rumahnya untuk mempersiapkan kuda-kudanya. Ia pergi ke gua harta dengan membawa
20 ekor keledai. Setibanya di depan gua, ia berteriak "Alakazam! Buka!", pintu batu gua
bergerak terbuka. Kasim segera masuk dan langsung mengarungkan emas dan harta yang
ada di alam gua sebanyak-banyaknya. Ketika ia hendak keluar, Kasim lupa mantra untuk
membuka pintu, ia berteriak apa saja dan
mulai ketakutan. Tiba-tiba pintu gua bergerak, Kasim
merasa lega. Tapi ketika ia mau keluar, para penyamun
sudah berada di luar, mereka sama-sama terkejut. "Hei
maling! Tangkap dia, bunuh!" teriak kepala penyamun.
"Tolong! saya jangan dibunuh", mohon Kasim. Para
penyamun yang kejam tidak memberi ampun kepada
Kasim. Ia segera dibunuh.
Istri Kasim yang menunggu di rumah mulai kuatir karena sudah seharian Kasim tidak
kunjung pulang. Akhirnya ia meminta bantuan Alibaba untuk menyusul saudaranya
tersebut. Alibaba segera pergi ke gua harta. Disana ia sangat terkejut karena mendapati
tubuh kakaknya sudah terpotong. Setibanya dirumah, istri Kasim menangis sejadi-jadinya.
Untuk membantu kakak iparnya itu Alibaba memberikan sekantung uang emas kepadanya.
Istri Kasim segera berhenti menangis dan tersenyum, ia sudah lupa akan nasib suaminya
yang malang. Alibaba membawa tubuh Kasim ke tukang sepatu untuk menjahitnya kembali
seperti semula. Setelah selesai, Alibaba memberikan upah beberapa uang emas.
Dilain tempat, di gua harta, para penyamun terkejut, karena mayat Kasim sudah tidak ada
lagi. "Tak salah lagi, pasti ada orang lain yang tahu tentang rahasia gua ini, ayo kita cari
dan bunuh dia!" kata sang kepala penyamun. Merekapun mulai berkeliling pelosok kota.
Ketika bertemu dengan seorang tukang sepatu, mereka bertanya, "Apakah akhir-akhir ini
ada orang yang kaya mendadak ?". "Akulah orang itu, karena setelah menjahit mayat yang
terpotong, aku menjadi orang kaya". "Apa! Mayat! Siapa yang memintamu melakukan itu?"
Tanya mereka. "Tolong antarkan kami padanya!".
Setelah menerima uang dari penyamun, tukang sepatu
mengantar mereka ke rumah Alibaba. Si penyamun segera
memberi tanda silang dipintu rumah Alibaba. "Aku akan
melaporkan pada ketua, dan nanti malam kami akan datang
untuk membunuhnya," kata si penyamun. Tetangga Alibaba,
Morijana yang baru pulang berbelanja melihat dan
mendengar percakapan para penyamun.
Malam harinya, Alibaba didatangi seorang penyamun yang menyamar menjadi seorang
pedagang minyak yang kemalaman dan memohon untuk menginap sehari di rumahnya.
Alibaba yang baik hati mempersilakan tamunya masuk dan memperlakukannya dengan baik.
Ia tidak mengenali wajah si kepala penyamun. Morijana, tetangga Alibaba yang sedang
berada di luar rumah, melihat dan mengenali wajah penyamun tersebut.
Ia berpikir keras bagaimana cara untuk memberitahu
Alibaba. Akhirnya ia mempunyai ide, dengan menyamar
sebagai seorang penari. Ia pergi ke rumah Alibaba untuk
menari. Ketika Alibaba, istri dan tamunya sedang
menonton tarian, Morijana dengan cepat melemparkan
pedang kecil yang sengaja diselipkannya di bajunya ke
dada tamu Alibaba.
Alibaba dan istrinya sangat terkejut, sebelum Alibaba bertanya, Morijana membuka
samarannya dan segera menceritakan semua yang telah dilihat dan didengarnya.
"Morijana, engkau telah menyelamatkan nyawa kami, terima kasih". Setelah semuanya
berlalu, Alibaba membagikan uang peninggalan para penyamun kepada orang-orang miskin
dan yang sangat memerlukannya.
Penting!! Perlu Anda Baca:
@ Kumpulan dongeng anak
@ Bukan Berita Biasa
@ Trik dan rumus matematika
@ Catatan dan Ulasan Seputar dakwah
@ Tips dan Trik belajar yang efektif
@ Review dan Ulasan pertandingan Juventus
@ Pasang Iklan gratis
@ Kumpulan widget gratis
@ Seputar hukum dan kisah-kisah sedekah
@ Seputar Koleksi Buku
@ Seputar Resensi Buku
@ Kumpulan tutorial Blog

Baca Selengkapnya »»